Menkes Soroti Harga Obat Hepatitis di RI Selisih hingga 6x Lipat dari Pasaran Global

Pewarta: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 5 Juni 2026 | 20:21 WIB
Menkes Soroti Harga Obat Hepatitis di RI Selisih hingga 6x Lipat dari Pasaran Global
Menkes Soroti Harga Obat Hepatitis di RI Selisih hingga 6x Lipat dari Pasaran Global. [Ilustrasi Obat/Pexels]

astakom.com, Jakarta - Penyakit hepatitis masih menjadi salah satu ancaman kesehatan yang sering luput dari perhatian. Banyak penderita baru menyadari dirinya terinfeksi ketika kondisi hati sudah mengalami kerusakan serius. Di tengah upaya pemerintah memperluas deteksi dini dan pengobatan, persoalan lain justru muncul dari tingginya harga obat yang harus ditebus pasien.

Kondisi tersebut menjadi sorotan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat menghadiri peringatan Hari Kesehatan Hati Sedunia bertema ‘Kebiasaan Solid, Hati yang Kuat’ di Jakarta, awal pekan.

Menurutnya, harga sejumlah obat hepatitis di Indonesia masih jauh lebih mahal dibandingkan harga yang berlaku di pasar internasional.

Situasi ini dinilai berpotensi menghambat keberhasilan pengobatan. Pasalnya, sebagian besar pasien hepatitis B maupun hepatitis C membutuhkan terapi dalam jangka panjang sehingga biaya pengobatan menjadi faktor penting untuk menjaga kepatuhan pasien menjalani terapi hingga tuntas.

Harga obat masih jomplang

Dalam paparannya, Budi mengaku kecewa karena harga obat hepatitis di Indonesia masih menunjukkan perbedaan yang cukup besar dibandingkan harga global.

"Saya masih lihat ini anomali di Indonesia. Harga obat di Indonesia masih dua sampai enam kali harga obat di dunia," tegas Budi dikutip dari media nasional pada Jumat, (5/6/2026).

Data yang dipaparkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan obat hepatitis B jenis Tenofovir TDF dijual sekitar US$4,8 per dosis di Indonesia, sementara harga global berada di kisaran US$2,4 per dosis. Artinya terdapat selisih hingga dua kali lipat.

Perbedaan juga terlihat pada obat Entecavir ETV yang di Indonesia mencapai sekitar US$18 per dosis, sedangkan harga pasar global hanya sekitar US$7,5 per dosis atau sekitar 2,4 kali lebih murah.

Kesenjangan harga yang lebih besar ditemukan pada pengobatan hepatitis C. Obat golongan Direct Acting Antiviral (DAA) tercatat memiliki harga sekitar US$152 di Indonesia, sementara harga global hanya sekitar US$24. Selisihnya mencapai lebih dari enam kali lipat.

Hal serupa terjadi pada kombinasi Sofosbuvir dan Velpatasvir yang di Indonesia masih berada di kisaran US$1.100, sedangkan harga global sekitar US$174.

Menurut Budi, tingginya harga tersebut berisiko membuat pasien menghentikan pengobatan sebelum selesai karena terbebani biaya yang harus dikeluarkan.

"Kalau harganya segini terus, banyak pasien yang stop di tengah jalan," kata Budi.

Akses pengobatan mau didekatkan

Sebagai langkah lanjutan, Kemenkes berencana melakukan negosiasi lebih lanjut dengan berbagai pihak untuk menekan harga obat hepatitis agar semakin terjangkau bagi masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga tengah mengkaji perluasan layanan diagnosis dan pengobatan hepatitis hingga ke tingkat puskesmas. Langkah ini dinilai penting mengingat jumlah penderita hepatitis di Indonesia cukup besar sehingga layanan tidak bisa hanya bertumpu pada rumah sakit.

Melalui skema tersebut, dokter umum di puskesmas nantinya akan mendapatkan pelatihan untuk melakukan diagnosis awal, mendeteksi fibrosis hati lebih cepat, serta memberikan terapi dasar bagi pasien.

"Kita harus memastikan early treatment bisa diturunkan ke puskesmas. Jadi begitu ketahuan, pasien bisa langsung mendapat pengobatan," katanya.

Langkah ini sejalan dengan strategi Kementerian Kesehatan yang dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong transformasi layanan kesehatan primer agar penanganan penyakit kronis dapat dilakukan lebih dekat dengan masyarakat.

Transplantasi hati jadi target berikutnya

Selain memperluas akses pengobatan, pemerintah juga menaruh perhatian pada pengembangan layanan transplantasi hati di dalam negeri.

Budi menyebut kemampuan transplantasi hati perlu diperluas sehingga tidak hanya tersedia di beberapa rumah sakit rujukan besar, tetapi dapat menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia.

"Transplantasi hati harus bisa dilakukan lebih luas di Indonesia," ujarnya.

Menurutnya, transplantasi hati tetap menjadi pilihan terapi terakhir bagi pasien yang mengalami kerusakan hati berat atau gagal hati stadium lanjut. Karena itu, penguatan kapasitas layanan transplantasi menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas penanganan penyakit hati nasional.

Berdasarkan berbagai kajian kesehatan global, hepatitis B dan hepatitis C sering dijuluki sebagai ‘silent killer’ karena infeksinya dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa gejala yang jelas. Saat gejala muncul, kerusakan hati sering kali sudah memasuki tahap lanjut seperti sirosis atau kanker hati.

Karena itu, deteksi dini, akses pengobatan yang mudah dijangkau, serta ketersediaan obat dengan harga yang lebih terjangkau menjadi kunci penting untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat hepatitis di Indonesia. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Persoalan hepatitis bukan hanya soal deteksi dini, tetapi juga soal akses terhadap pengobatan yang terjangkau. Ketika harga obat masih berkali-kali lipat lebih mahal dibanding harga global, risiko pasien menghentikan terapi menjadi semakin besar. Di sisi lain, rencana pemerintah memperluas layanan hingga puskesmas dan memperkuat transplantasi hati menjadi sinyal bahwa penanganan penyakit hati sedang didorong agar lebih dekat, lebih cepat, dan lebih merata bagi masyarakat.

Kemenkes Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) Budi Gunadi Sadikin Harga Obat

Infografis

Terkini

World Environment Day 2026

Sejumlah aktivis lingkungan memperingati World Environment Day 2026, di Jalan Pemuda, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (5/6/2026).

Footage 18:36 WIB