Keuskupan Agung Merauke Kritik Film 'Pesta Babi' : Narasi Sengaja Disetir Sutradara & Pemberi Dana

Pewarta: Alfian Tegar
Editor: Anri Syaiful
Senin, 25 Mei 2026 | 19:44 WIB
Keuskupan Agung Merauke Kritik Film 'Pesta Babi' : Narasi Sengaja Disetir Sutradara & Pemberi Dana
Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC [Dok. YouTube Komsos Keuskupan Agung Merauke]

astakom.com, Jakarta — Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, mendadak spill the tea dan melayangkan kecaman keras terhadap narasi film dokumenter "Pesta Babi" terkait Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan.

Keuskupan Agung Merauke secara tegas membantah seluruh isi film tersebut karena dinilai melakukan framing sepihak yang menyudutkan institusi gereja.

Dalam sebuah video tanggapan yang viral pada Senin (25/05/2026), Uskup Mandagi merespons pertanyaan seorang pastor dan langsung memberikan klarifikasi menohok.

"Bagi saya film PSN itu memang bersifat betul-betul provokatif, terlebih untuk diri sendiri. Tetapi dalam menonton jangan hilang otak kita, daya kritis kita. Karena misalnya ya, apa tujuan dari film itu? Apa? Orang yang membuat film ini dia tidak tinggal di Papua. Yang membantu dia hanya berkeliaran beberapa waktu. Jadi apa maksud?" ungkap Uskup Mandagi dalam wawancara, dilansir melalui YouTube Komsos Keuskupan Agung Merauke, Senin (25/05/2026).

Sikap Keuskupan dalam film dinilai tak benar

Ia menegaskan bahwa penggambaran sikap Keuskupan di film itu sama sekali red flag alias tidak benar, terutama bagian yang seolah mengesankan bahwa pihak Keuskupan telah "disuap" oleh pemerintah demi meloloskan proyek tersebut.

"Jadi misalnya tentang Gereja Katolik di dalam film itu. Betapa, betapa tidak benar apa yang dikatakan di dalam film itu. Mengatakan bahwa Keuskupan Agung Merauke menyetujui, menerima PSN. Keuskupan Agung Merauke, khususnya uskup menjual tanah. Keuskupan Agung Merauke, khususnya uskup bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang menghancurkan katakanlah hutan Papua Selatan terlebih kelapa sawit, hutan sawit. Ini dan dikatakan juga bukan hanya kerja sama, tapi mendapat dana lagi. Jadi seolah-olah Keuskupan Agung Merauke sudah disuap," terang Uskup Mandagi.

Tidak diminta pendapat secara langsung

Uskup Mandagi juga mengkritik habis proses produksi film yang dinilai minim validasi dan tidak fair. Ia mempertanyakan mengapa pihak sutradara sama sekali tidak pernah reach out atau meminta konfirmasi langsung ke Keuskupan Agung Merauke, padahal posisi mereka menjadi pusat persoalan yang digoreng dalam sinema tersebut.

"Pertanyaannya, benarkah ini? Kenapa sutradara film ini tidak datang tanya kepada uskup? Tidak datang tanya kepada pastor-pastor yang ada di tempat itu dan hanya mendengar dari orang-orang yang punya tujuan yang sama dengan sutradara itu. Kenapa? Ada apa?", tanya dia.

Pemilihan narasumber dinilai sangat bias

Lebih lanjut, Uskup Mandagi blak-blakan mengaku sedih atas distorsi informasi yang beredar. Menurutnya, orang-orang yang mendadak jadi pengamat di film tersebut sebenarnya clueless dan tidak paham bagaimana perjuangan serta effort nyata Keuskupan Agung Merauke dalam merawat masyarakat Papua Selatan selama ini.

Ia menilai bahwa pemilihan narasumber dalam dokumenter tersebut sangat bias karena disetir oleh agenda tertentu.

Uskup Mandagi menuding para pihak yang diwawancarai sengaja dipilih (cherry-picked) hanya untuk memenuhi visi sutradara serta kemauan dari penyandang dana film.

"Jadi ada apa-apa, cuma diminta ke orang-orang yang setuju, sealiran dengan sutradara, dan juga sealiran dengan pemberi dana. Barangkali itu cuma isu, pemberi dana," pungkas Uskup Mandagi. (aLf/aNs)

Gen Z Takeaway

Respons Petrus Canisius Mandagi soal film dokumenter “Pesta Babi” jadi pengingat kalau isu sensitif seperti PSN Papua perlu dibahas secara objektif dan berimbang. Kritik soal minimnya konfirmasi langsung juga menegaskan pentingnya validasi dan daya kritis agar opini publik tidak terbentuk dari narasi sepihak.

Uskup Petrus Canisius Mandagi Keuskupan Agung Merauke Film Pesta Babi PSN

Infografis

Terkini