Menyentuh Dunia, Nenek Sebatang Kara Jadi Ikon Global Haji 2026!

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 19 Mei 2026 | 17:35 WIB
Menyentuh Dunia, Nenek Sebatang Kara Jadi Ikon Global Haji 2026!
Menyentuh Dunia, Nenek Sebatang Kara Jadi Ikon Global Haji 2026! (Kemenhaj RI)

astakom.com, Jakarta - Rasa haru memayungi langkah Dada Jumariah saat menginjakkan kaki di pelataran Masjidil Haram pada Minggu (10/5/2026). Di tengah cuaca Makkah yang menyengat, jemaah lansia ini tampak berulang kali menyeka wajahnya menggunakan ujung kerudung hitam yang dikenakannya.

Detik-detik yang dinantikan itu pun akhirnya tiba. Saat bangunan suci terbungkus kain kiswah hitam megah tersebut berdiri kokoh tepat di hadapannya, Jumariah tak lagi mampu membendung emosinya. Air matanya seketika tumpah ruah menatap Kakbah.

Pemandangan suci tersebut merupakan jawaban atas untaian doa yang terus ia panjatkan selama puluhan tahun. Sebuah impian yang ia jaga rapat-rapat dalam kesunyian, semenjak ia berpisah dari suaminya dan harus bertahan hidup seorang diri.

"Saya senang bisa melihat Kakbah,” ujarnya pada saat dijumpai di Hotel Asrar al Tayseer, Makkah, lokasi penginapannya bersama jemaah haji Embarkasi Makassar Kloter 14, UPG-14 dikutip oleh astakom pada Selasa, (19/05/2026).

Jumariah, jemaah lansia asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, mengaku tak lagi ingat pasti berapa usianya saat ini. Dalam ingatannya yang mulai memudar, ia hanya tahu usianya kini berkisar 70-an tahun.

Perjalanan spiritual jumariah

Di kampung halamannya, Jumariah terbiasa hidup dalam sepi. Ritual paginya dimulai sesaat setelah fajar tiba, di mana ia mengurus ayam-ayam peliharaannya, menyapu rumah panggung, hingga mengolah makanan untuk kebutuhan sarapannya sendiri.

Fisiknya mulai diuji tepat pukul 09.00 pagi. Berbekal sebilah sabit, Jumariah bekerja merawat kebun ubi kepunyaan tetangganya, sebelum melanjutkan perjalanan sejauh 50 meter ke sawah miliknya yang seluas 15 are untuk membersihkan rumput liar di antara tanaman padi.

"Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri. Dulu pakai sabit, kalau sekarang sudah dibantu mesin,” tuturnya sembari melempar senyum.

Di balik hidupnya yang sendirian, Jumariah merasa selalu ditemani oleh Tuhan. Keimanan kuat ini yang memicu tekadnya untuk bisa menginjakkan kaki di Masjidil Haram, meskipun kesempatan yang dimilikinya sangatlah terbatas.

Walau tak pernah mengecap bangku sekolah dan buta huruf, Jumariah memiliki keteguhan hati yang luar biasa. Keterbatasan formal itu berhasil ia kalahkan dengan niat kuat yang sudah tertanam sejak 20 tahun yang lalu.

Menabung di ember, bertahan dengan keteguhan

Jumariah secara diam-diam menabung uang hasil kerjanya ke dalam wadah ember di rumahnya sendiri.

"Kalau saya dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu,” tuturnya.

Bermodalkan uang Rp25 juta yang terkumpul di embernya pada 2011, Jumariah mendaftar haji dengan bantuan keponakan jauh. Sejak saat itu, ia menabung dengan lebih giat lagi untuk melunasi seluruh sisa biaya keberangkatannya.

Begitu namanya resmi masuk dalam daftar keberangkatan musim haji 2026, antusiasme Jumariah kian memuncak. Ia sama sekali tidak memedulikan jarak 15 kilometer dari rumahnya menuju lokasi manasik.

Dari total lebih dari 80 sesi manasik yang diselenggarakan oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), ia menghadirinya tanpa absen sekalipun.

Jumariah bahkan selalu memilih duduk di barisan terdepan demi mendengarkan secara saksama setiap arahan dari muthawwif.

Disorot dunia: transformasi menjadi ikon haji

Kegigihan lansia ini akhirnya menarik perhatian Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Profilnya yang dinilai luar biasa kemudian diajukan ke Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi untuk dijadikan sebagai salah satu tokoh dalam video dokumenter "Makkah Route".

"Pertimbangannya karena kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, tinggal di daerah terpencil, namun sangat menginspirasi,” ucap Sitti Hawaisyah, Ketua Kloter UPG-14.

Tim dokumenter hanya memerlukan waktu empat jam untuk merekam potret kesederhanaan hidup Jumariah di Kabupaten Maros.

Kini, karya visual singkat tentang nenek pembersih kebun ubi tersebut telah melompat jauh menjadi materi promosi global Kerajaan Arab Saudi dalam menyambut musim Haji 2026. Jumariah kini telah bertransformasi menjadi sebuah ikon.

Tiga hari setelah dokumenter itu rampung, Jumariah menikmati pengalaman pertamanya terbang ke angkasa dalam penerbangan langsung menuju Madinah.

"Sempat ada rasa takut waktu naik (pesawat), tapi setelah itu nyaman,” tuturnya memamerkan deretan gigi tuanya.

Resep bugar di usia senja

Fisik Jumariah tampak begitu bugar saat beribadah di Madinah. Ia sanggup bertahan iktikaf di Masjid Nabawi dari waktu Asar hingga Isya usai. Dibantu pengawalan sigap dari rombongan kloternya yang fokus mendampingi tanpa gawai, Jumariah akhirnya bisa beribadah dan bersujud di Raudhah.

Ketangguhan Jumariah berlanjut hingga ke kota Makkah. Sejak tiba Sabtu (9/5/2026), ia sudah merampungkan tiga kali umrah (satu wajib dan dua sunnah) tanpa pernah mengeluhkan kondisi kesehatannya.

"Di tanda pengenal saya ini ada tanda merah, artinya saya punya riwayat sakit. Tapi di gelang Nenek Jumariah bersih, dia sehat total,” ucap Sitti Hawaisyah.

Rekan sekloter sekaligus tetangga Jumariah dari Maros, Marwati, bahkan tidak dapat menyembunyikan rasa herannya melihat stamina sang nenek.

"Selama umrah beliau paling semangat. Kita yang muda ini sudah kecapekan, beliau masih mau jalan.” ucap tetangga Jumariah.

Saat ditanya tentang resep rahasia yang membuat tubuhnya tetap bugar dan tangguh, Jumariah hanya menjawabnya dengan sederhana.

"Ke sawah setiap hari, dan banyak minum air" tuturnya.

Jumariah juga bercerita bahwa dirinya selalu berusaha menjaga hati dan pikiran tetap tenang bebas stres. Untuk urusan konsumsi, ia melahap menu apa pun yang disajikan oleh petugas haji tanpa pilih-pilih, terutama jika menunya adalah udang makanan kesukaannya.

Kini, Jumariah sedang mempersiapkan diri menghadapi fase terakhir dari perjalanan panjangnya untuk melaksanakan wukuf di Padang Arafah.

Kurang dari sepuluh hari lagi, janda sebatang kara ini akan menjalani puncak ibadah haji tersebut, merealisasikan impian dan doa puluhan tahun lalu yang ia rintis lewat kepingan uang tabungan di dalam ember rumahnya. (nAD/aNS)

Gen Z Takeaway

Gen Z, take notes! Di tengah hiruk-pikuk hustle culture dan validasi instan, kisah Nenek Jumariah adalah pengingat bahwa consistent effort dan kesabaran itu jauh lebih powerful. Beliau membuktikan kalau slow living bukan berarti berhenti berjuang; tabungan di ember selama 20 tahun adalah bentuk komitmen jangka panjang yang luar biasa. Selain itu, rahasia bugar beliau mengajarkan kita bahwa kesehatan itu investasi paling berharga—cukup dengan hidup aktif, banyak minum air putih, dan menjaga mindset tetap tenang, mental health pun terjaga. Truly, main character energy with pure intention!

Kemenhaj Kementerian Haji dan Umrah Haji Ramah Lansia Jemaah Haji Indonesia Haji 2026

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB