Resmikan Museum Marsinah, Presiden Prabowo Tegaskan Kolusi Maut Aparat-Kapitalis Tak Boleh Terjadi Lagi!

Pewarta: Alfian Tegar
Editor: Anri Syaiful
Sabtu, 16 Mei 2026 | 12:07 WIB
Resmikan Museum Marsinah, Presiden Prabowo Tegaskan Kolusi Maut Aparat-Kapitalis Tak Boleh Terjadi Lagi!
Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan saat meresmikan meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). [Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden]

astakom.com, JakartaPresiden Prabowo Subianto baru saja memberikan wake-up call keras bagi sektor penegakan hukum saat meresmikan Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/05/2026) pagi.

Dalam pidatonya, Kepala Negara terang-terangan menyentil dark system masa lalu berupa kolusi maut antara oknum aparat dan pengusaha serakah, yang secara sistematis sukses menumbalkan hak-hak mendasar kaum buruh.

"Akhirnya hari ini saya baru sadar, baru paham, ya, kolusi aparat dipakai oleh kapitalis-kapitalis tertentu, ya kan. Dan ini, budaya ini, tidak boleh kita teruskan lagi," tegas Presiden Prabowo dalam pidatonya, Sabtu (16/05/2026).

Momen Presiden cek replika kamar Marsinah

Merespons langsung track record kelam yang menimpa mendiang Marsinah, Presiden Prabowo mengaku sangat prihatin setelah melihat langsung replika kamar sang pejuang buruh perempuan.

Ia menilai tindakan represif di era tersebut adalah bukti nyata dari toxic collaboration demi meraup profit sepihak, sebuah tragedi kemanusiaan yang dipicu oleh keserakahan ekonomi yang benar-benar out of bounds.

"Saya melihat kamarnya beliau tidak diubah. Saya lihat perjuangan beliau ya, dan saya prihatin dengan peristiwanya. Bahwa ada seorang atau seorang pimpinan, ada pimpinan pengusaha yang punya pemikiran-pemikiran yang jahat demi demi keuntungan yang besar," ungkap Presiden Prabowo.

Tak sesuai dengan prinsip berdirinya NKRI

Presiden menegaskan bahwa praktik culas dan manipulatif seperti itu sama sekali tidak align dengan prinsip dasar berdirinya NKRI.

Menurutnya, Pancasila dan UUD 1945 sudah memberikan clear rules bahwa Indonesia harus dikelola secara kekerabatan, di mana kelompok yang punya power lebih wajib menopang dan melindungi masyarakat yang rentan, bukan malah mengeksploitasinya.

"Sesungguhnya, peristiwa Marsinah yang dibunuh secara keji karena memperjuangkan kaum buruh pabrik suatu perusahaan, sesungguhnya sama sekali tidak perlu terjadi karena negara kita, kita dirikan dengan falsafah dasar Pancasila," tuturnya.

APH diminta bersih-bersih internal

Menolak membiarkan preseden buruk ini normalized, Presiden Prabowo langsung memberikan instruksi tegas kepada jajaran Kejaksaan, Kepolisian, hingga TNI untuk segera melakukan pembersihan internal.

Presiden Prabowo mendesak seluruh elemen bersenjata untuk melakukan reformasi serius dan berhenti menjadi backing-an atau pelindung tindakan ilegal korporasi.

Presiden menuntut komitmen penuh dari seluruh aparat penegak hukum untuk sepenuhnya berpihak pada keadilan bagi rakyat kecil.

"Seluruh aparat harus memperbaiki diri, harus membersihkan diri, harus berani koreksi. Jangan justru aparat yang di belakang penyelewengan, aparat yang backing penyelewengan, aparat yang backing penyelundupan, backing narkoba, backing judi, backing ilegal ini, ilegal itu, ilegal ini, jangan sampai begitu, Saudara-saudara sekalian," tutur Presiden Prabowo. (aLf/aNs)

Gen Z Takeaway

Pidato Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan Museum Marsinah jadi pengingat keras bahwa kolusi aparat dan pengusaha yang pernah bikin buruh jadi korban nggak boleh terulang lagi. Dengan menyinggung kasus Marsinah, Prabowo menegaskan aparat harus berbenah dan berhenti jadi backing berbagai penyelewengan, karena negara seharusnya hadir buat melindungi rakyat kecil, bukan membiarkan keadilan kalah oleh kepentingan tertentu.

Presiden Prabowo Prabowo Subianto Marsinah Museum Marsinah

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB