Unjuk Karya Indonesia di Cannes Festival 2026: Sineas Tanah Air Tampil di Berbagai Kategori Film
astakom.com, Jakarta - Cannes kembali jadi panggung besar buat perfilman dunia, tapi tahun ini sorotan juga datang ke Indonesia. Delegasi film Tanah Air tampil di berbagai program bergengsi Festival Film Cannes 2026, mulai dari film pendek, dokumenter, hingga proyek koproduksi internasional.
Kehadiran ini dinilai jadi sinyal kalau industri film Indonesia makin diperhitungkan di level global.
Melansir dari siaran resmi Kementerian Kebudayaan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut partisipasi Indonesia di Cannes bukan sekadar hadir di festival film dunia, tetapi juga menunjukkan ekosistem perfilman nasional yang semakin berkembang. Kunjungan kerja Menbud ke Prancis pada 14 Mei 2026 juga dilakukan untuk memperkuat diplomasi budaya lewat medium film.
“Kementerian Kebudayaan berkomitmen mendukung penguatan ekosistem perfilman Indonesia agar semakin kompetitif, inklusif, dan mampu menjadi bagian penting dari percaturan perfilman dunia,” ujar Menbud Fadli Zon dikutip dari siaran resmi Kementerian Kebudayaan pada Jumat, (15/3/2026).
Pemerintah juga terus memperkuat program pengembangan talenta perfilman nasional melalui Manajemen Talenta Nasional bidang film. Program ini diarahkan untuk memperluas jejaring sineas muda, membuka peluang kolaborasi internasional, hingga mendukung akses pembiayaan industri perfilman Indonesia.
Sineas tampil global
Indonesia hadir lewat sejumlah nama dan proyek yang berpartisipasi dalam berbagai program di Cannes 2026.
Dalam program Semaine de la Critique, empat film pendek Indonesia masuk ke program Next Step Studio dengan keterlibatan Reza Rahadian, Khozy Rizal, Shelby Kho, dan Reza Fahri bersama rumah produksi KawanKawan Media.
Film Waterland produksi Jerman juga melibatkan koproduser Indonesia, yakni Anisa Adjam dan Bagus Suitrawan. Sementara proyek 9 Temples to Heaven dari Thailand hadir sebagai proyek koproduksi bersama Indonesia melalui keterlibatan Giovani Rahmadeva dari Qun Film.
Indonesia juga berpartisipasi lewat proyek pitching Gentle Hands yang dipresentasikan produser Feisha Permanayadi dan sutradara Garry Christian di program Focus Script – Cinéma de Demain.
Penghargaan untuk Kamila
Nama Indonesia kembali mendapat perhatian setelah sutradara Kamila Andini menerima penghargaan dalam ajang Women in Cinema Gala yang digelar Red Sea Foundation. Ia menjadi satu dari enam sineas perempuan dunia yang mendapat penghormatan tahun ini.
Selain itu, Fransiska Prihadi dari Minikino dipercaya menjadi salah satu pengambil keputusan di Short Film Corner. Ada juga produser Fadhila Ristianty yang terpilih dalam program Rendezvous Industry sebagai producer in spotlight.
Di sektor dokumenter, forum Docs by the Sea dari Indonesia ikut menjadi host di Cannes Docs, memperlihatkan keterlibatan Indonesia yang semakin luas dalam industri perfilman internasional.
Target Cannes 2028
Dalam pertemuan dengan Direktur Umum Marché du Film Festival de Cannes, Guillaume Esmiol, Menbud membahas kesiapan Indonesia menjadi Guest of Honor Festival Film Cannes 2028.
“kami berharap kehadiran Indonesia di panggung perfilman dunia dapat mendorong semakin banyak sineas muda Indonesia untuk berani berkarya, membangun jejaring internasional, serta memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui medium film kepada masyarakat dunia,” ujar Menbud Fadli Zon.
Pemerintah juga meluncurkan Project SamaSama, program co-development Indonesia–Belanda yang menjadi tindak lanjut kerja sama bilateral bidang kebudayaan. Program ini diikuti sepuluh produser Indonesia dan diharapkan membuka peluang kolaborasi produksi lintas negara yang lebih luas.(deA/aRsp)













