Harga Emas Dunia Rentan Naik Turun, Ini Biang Keroknya!
astakom.com, Jakarta - Harga emas dunia melemah pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (12/05/2026). Penurunannya ke kisaran USD4.700 per ons. Pelemahan ini terjadi setelah dolar Amerika Serikat kembali menguat di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara AS dan Iran.
Dilansir dari Reuters, dolar AS menguat di kisaran 0,3%–0,4%. Indeks dolar AS (DXY) naik ke kisaran 98,3.
Di sisi lain, penguatan dolar AS turut menekan harga emas. Saat dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain sehingga permintaan ikut melemah.
Selain itu, sekarang pasar juga tengah menunggu rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat terbaru. Investor pengen lihat seberapa besar dampak konflik Iran terhadap kenaikan harga energi dan kemungkinan arah suku bunga The Fed ke depan.
Perak dan platinum turun
Kondisi ini membuat investor mulai mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Imbal hasil obligasi AS ikut naik sehingga aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik untuk sementara waktu.
Bukan cuma emas, logam mulia lain juga ikut terkoreksi. Harga perak, platinum, dan paladium tercatat turun seiring investor melakukan aksi wait and see terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter AS.
Faktor volatilitas harga emas
Harga platinum berada di kisaran USD2.000-$2.100 per troy ons, dengan gramasi 1 gram berkisar Rp1,1 juta. Perak juga merosot menuju $85 per ons.
Di tengah situasi global yang makin panas, pasar diperkirakan masih bergerak volatil dalam beberapa waktu ke depan.
Eskalasi di Timur Tengah, lonjakan harga minyak, dan arah suku bunga AS kini jadi tiga faktor utama yang menentukan arah harga emas dunia. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Drama AS-Iran makin heated bikin market global auto volatile. Dolar AS yang comeback strong malah bikin emas drop ke USD4.700 karena investor mulai worry soal inflasi energi dan rate The Fed yang bisa tetap high. Sekarang market lagi mode wait and see sambil mantau konflik Timur Tengah sama data inflasi AS.









