Ancaman Hantavirus, Legislator Dorong Pengawasan Kesehatan dan Pencegahan Dini!

Pewarta: Alfian Tegar
Editor: Anri Syaiful
Senin, 11 Mei 2026 | 16:52 WIB
Ancaman Hantavirus, Legislator Dorong Pengawasan Kesehatan dan Pencegahan Dini!
Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto

astakom.com, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, lagi spill peringatan keras buat pemerintah supaya nggak clueless menghadapi ancaman Hantavirus.

Lewat pendekatan one health system, Edy minta pengawasan kesehatan diperketat biar Indonesia nggak kecolongan sama virus zoonosis yang ditularin tikus ini, apalagi di tengah kondisi lingkungan yang makin nggak menentu.

"Pencegahan hantavirus tidak cukup hanya mengandalkan layanan rumah sakit. Ini menyangkut lingkungan hidup sehari-hari masyarakat,” ungkap Edy dalam keterangannya, Senin (11/05/2026).

Pemerintah didorong perluas pelacakan

Legislator ini menilai deteksi dini kita harus naik kelas alias level up. Edy mendesak pemerintah buat memperluas pelacakan kasus demam akut yang penyebabnya masih random atau belum terdiagnosis.

Tujuannya jelas, biar nggak ada kasus Hantavirus yang "nyelip" atau luput dari radar pemantauan hanya karena fasilitas diagnosisnya kurang oke.

Nggak cuma soal deteksi, kapasitas laboratorium juga harus makin slay. Edy minta rumah sakit rujukan segera meningkatkan kemampuan diagnosis, mulai dari tes PCR sampai serologi yang akurat. Hal ini krusial banget biar penanganan medis nggak telat dan pasien bisa langsung ditangani sebelum kondisinya makin gawat.

Edy juga menyoroti masalah lingkungan yang seringkali jadi red flag. Dia minta masyarakat bareng pemerintah buat makin strict soal kebersihan pemukiman, kelola sampah dengan benar, sampai membasmi populasi tikus. 

Pencegahan didorong sedini mungkin

Masalahnya, Hantavirus ini bisa nular cuma lewat udara yang terkontaminasi partikel kotoran tikus, jadi kebersihan lingkungan itu hukumnya wajib, no debat!

"Kita tidak boleh menunggu sampai terjadi lonjakan kasus besar baru kemudian bergerak. Pencegahan jauh lebih murah dan jauh lebih penting dibandingkan penanganan ketika situasi sudah memburuk,” tegas Edy.

Ia juga ngingetin kalau Hantavirus ini bukan masalah sepele meski jarang viral kayak pandemi lainnya. Dengan adanya ancaman Andes virus yang punya fatality rate tinggi dan bikin sesak napas parah, koordinasi lintas sektor harus makin solid.

"Dunia sudah belajar dari pandemi bahwa ancaman kesehatan sering datang dari hal-hal yang awalnya dianggap kecil,” pungkas Edy.

23 kasus Hantavirus di Indonesia

Sebelumnya, astakom.com melansir, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merilis data terbaru yang menunjukkan ada 23 kasus Hantavirus terkonfirmasi di Indonesia sepanjang 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026.

Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia, sementara sisanya dinyatakan sembuh.

“Ini situasi nasional. Ada 23 positif, tiga kematian, sisanya sembuh,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman dikutip Jumat silam (08/05/2026). (aLf/aNs/aRsp)

Gen Z Takeaway

Ancaman Hantavirus nunjukin kalau kesehatan publik nggak cuma urusan rumah sakit, tapi juga kebersihan lingkungan dan deteksi dini. Dengan sudah adanya 23 kasus di Indonesia, pemerintah dan masyarakat perlu sama-sama lebih sigap mencegah penyebaran virus sebelum situasinya makin serius.

Hantavirus Bahaya Hantavirus Pencegahan Hantavirus Anggota Komisi IX DPR Edy Wuryanto

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB