Hari Pendidikan Nasional 2026: Partisipasi Semesta jadi Kunci Pendidikan Bermutu
astakom.com, Jakarta — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah atau Kemendikdasmen mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Sebuah ajakan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk tidak lagi menjadi penonton dalam dunia pendidikan.
Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie, menilai tema ini sebagai kode keras bahwa tantangan global sudah terlalu kompleks untuk dihadapi sendirian oleh pemerintah. Perlu ada kolaborasi lintas sektor yang nyata.
“Partisipasi semesta bukan sekadar jargon normatif. Ia harus diterjemahkan dalam desain kebijakan yang memungkinkan keterlibatan nyata,” ujar Tholabi Tholabi dalam keterangan yang diterima astakom.com, Sabtu (02/04/2026).
Hardiknas bukan sekadar seremonial
Bagi Tholabi, Hardiknas jangan sampai terjebak dalam jebakan rutinitas atau seremonial belaka. Momen ini seharusnya menjadi ajang "buka-bukaan" evaluasi: sejauh mana prestasi kita dan apa strategi tempur ke depannya.
Edukasi, menurutnya adalah sebuah estafet panjang yang tak mengenal garis finis dalam waktu singkat.
“Pendidikan adalah kerja peradaban. Ia tidak bisa diselesaikan dalam satu generasi, tetapi harus diwariskan sebagai komitmen lintas zaman,” tuturnya.
Geser fokus pendidikan nasional
Ada perubahan menarik dalam arah pendidikan kita saat ini. Jika dulu kita sibuk memastikan semua anak bisa masuk sekolah (akses), kini fokusnya bergeser ke arah kualitas yang merata.
Tholabi mengingatkan bahwa mutu pendidikan tidak boleh hanya dilihat dari angka-angka nilai di atas kertas (kognitif), tapi harus kembali ke akar filosofi Ki Hadjar Dewantara, yakni pembentukan karakter dan etika.
“Pendidikan yang memerdekakan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga pembentukan manusia yang utuh,” terangnya.
Tiga "PR" besar
Meski optimistis, Guru Besar UIN Jakarta ini memetakan tiga tantangan fundamental yang wajib diwaspadai:
Digitalisasi & Kesenjangan: Teknologi memang keren, tapi jangan sampai ia justru menciptakan jurang antara daerah yang "melek" infrastruktur dan daerah yang masih tertinggal.
Ketimpangan Wilayah: Masalah klasik soal sarana dan ketersediaan guru di daerah pelosok masih menjadi tantangan yang menuntut solusi konkret.
Relevansi Kurikulum: Kurikulum jangan hanya didesain untuk memuaskan kebutuhan pabrik atau industri sesaat.
“Jika pendidikan hanya diarahkan untuk mencetak tenaga kerja siap pakai, kita berisiko kehilangan kapasitas sebagai bangsa pencipta,” tegas Tholabi.
Modal utama menuju Indonesia Emas 2045
Menutup pandangannya, Tholabi menegaskan bahwa jalan menuju Indonesia Emas 2045 hanya bisa dibangun di atas fondasi sumber daya manusia (SDM) yang kokoh. Anggaran pendidikan bukanlah biaya yang hilang, melainkan investasi paling menguntungkan bagi masa depan bangsa.
Namun, kepintaran saja tidak cukup. Indonesia butuh generasi yang punya pegangan nilai yang kuat.
“Indonesia Emas tidak cukup dibangun oleh manusia yang pintar, tetapi oleh manusia yang memiliki orientasi nilai,” kata Tholabi.
Harapannya jelas: kita ingin mencetak manusia yang punya "nyali" di tingkat global, tapi tetap punya "hati" dan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
“Harapan kita sederhana, tetapi mendasar: pendidikan Indonesia mampu melahirkan manusia merdeka yang berdaya saing global, tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa,” pungkasnya (aLf/aNs)











