KTT Cebu: ASEAN Terjebak Konsensus, Indonesia Diminta Segera Ambil Kendali
astakom.com, Jakarta – Mantan diplomat senior Iwan Wiranataatmadja mengungkapkan kalau ASEAN tengah menghadapi tantangan paling berat dalam beberapa tahun belakangan, gak hanya merespons perubahan global, tetapi juga memperbaiki kekurangan internal yang mengancam kredibilitasnya.
Iwan mengemukakan pendapatnya mengenai rencana KTT yang akan diadakan di Cebu, Filipina pada Mei 2026 nanti.
Dilansir dari KBA News pada Selasa, (28/04/2026), Iwan menekankan kalau pertemuan para pemimpin ASEAN yang berlangsung di Cebu menjadi momen krusial.
Ia melihat ajang ini sebagai waktu yang tepat bagi organisasi kawasan tersebut untuk melakukan refleksi mendalam sekaligus mengevaluasi arah kebijakan yang telah diambil hingga kini.
"Kita sering bicara soal stabilitas global, tetapi ASEAN sendiri belum sepenuhnya stabil secara internal. Tanpa kohesi internal, sulit bicara posisi eksternal yang kuat,” ucapnya.
Dilema "ASEAN Way" & krisis Myanmar
Ia menyoroti kalau prinsip "ASEAN Way," yang selama ini menjadi dasar organisasi, justru memperlihatkan kelemahannya ketika menghadapi situasi krisis.
Pendekatan yang berfokus pada konsensus dan non-intervensi sering kali berakhir dengan kebuntuan.
Krisis di Myanmar menjadi bukti paling jelas. Kesepakatan Five-Point Consensus yang dirumuskan sejak 2021 hingga kini belum membawa perubahan berarti di lapangan.
"Masalahnya bukan kekurangan norma, tetapi tidak adanya mekanisme implementasi. Konsensus sering berubah menjadi veto terselubung,” ucap Iwan.
Ia menekankan kalau situasi ini menjadikan ASEAN tampak lebih fokus pada pemeliharaan kesepakatan prosedural daripada menangani krisis yang sebenarnya.
Indonesia: penggerak, bukan sekadar penyeimbang
Pada konteks ini, Indonesia dipandang memiliki tanggung jawab strategis untuk memainkan peran yang lebih tegas.
"Indonesia tidak cukup hanya menjadi penyeimbang. Kita harus menjadi penggerak. Kalau tidak, ruang kepemimpinan akan diisi oleh negara lain,” sambungnya.
Mekanisme "ASEAN minus X" sebagai solusi
Iwan mengusulkan pendekatan yang lebih fleksibel, termasuk kemungkinan penerapan mekanisme ASEAN minus X.
Mekanisme ini memungkinkan beberapa negara bergerak lebih cepat dalam menanggapi isu tertentu tanpa harus menunggu kesepakatan penuh dari seluruh anggota.
Gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran mantan Sekretaris Jenderal ASEAN, Surin Pitsuwan, yang pernah menekankan kalau kekuatan ASEAN terletak pada kemampuan anggotanya untuk bertindak secara kolektif, tanpa terhambat oleh prosedur yang terlalu kaku.
Ancaman Selat Hormuz & stabilitas energi
Selain perhatian terhadap dinamika internal ASEAN, Iwan juga menyoroti dampak konflik global, khususnya ketegangan yang melibatkan Iran serta poros Amerika Serikat-Israel.
Ia menilai bahwa eskalasi di kawasan Teluk Persia, terutama di sekitar Selat Hormuz, dapat mengancam kelancaran distribusi sekitar seperlima dari pasokan minyak dunia.
Hal ini akan memberikan efek langsung terhadap perekonomian negara-negara di kawasan ASEAN.
"Kalau jalur energi terganggu, dampaknya langsung ke inflasi, biaya logistik, dan stabilitas ekonomi kawasan,” paparnya.
Ia menekankan bahwa ASEAN tidak cukup hanya bersikap normatif; sudah saatnya memikirkan langkah-langkah konkret, seperti menginisiasi koordinasi cadangan energi regional dan memperkuat kerja sama keamanan maritim.
Pada konteks diplomasi global, Iwan menggarisbawahi pentingnya ASEAN untuk memiliki posisi yang jelas dalam memajukan de-eskalasi konflik, memastikan kebebasan navigasi, dan menegakkan hukum internasional.
Pandangan Lee Kuan Yew
Ia juga mengingatkan akan pandangan Lee Kuan Yew yang menyebut kalau keberhasilan ASEAN banyak bergantung pada peran Indonesia sebagai pemersatu, sebuah tanggung jawab yang tidak bisa digantikan.
Namun, Iwan juga memberikan catatan kalau upaya reformasi ASEAN perlu dilakukan dengan hati-hati. Perubahan yang terlalu cepat dapat mengancam kesatuan di kawasan, sementara bertahan dalam status quo hanya akan memperparah stagnasi.
Sebagai penutup, Iwan menekankan kalau ASEAN kini tengah menghadapi persimpangan antara menjadi relevan atau tidak relevan. Ia menyebut kalau pertemuan di Cebu dapat menjadi momen krusial untuk memperkuat integrasi internal sekaligus meningkatkan efektivitas di tingkat global.
"ASEAN tidak kekurangan prinsip, tetapi kekurangan keberanian untuk menyesuaikan diri. Dan di sinilah Indonesia harus memimpin,” jelasnya. (nAD/aNs/aRsp))
Gen Z Takeaway
Legacy ASEAN lagi dipertaruhkan banget di KTT Cebu nanti karena sistem "setuju semua baru jalan" (konsensus) sering bikin kita jalan di tempat, apalagi soal krisis Myanmar. Indonesia dituntut buat berhenti jadi "penengah yang kalem" dan mulai jadi leader yang berani ambil manuver fleksibel, biar ekonomi kita nggak ikut boncos gara-gara ketegangan global di Selat Hormuz yang bisa bikin harga bensin sama ongkir makin selangit.












