Rencana 'Reset' Jurusan Perguruan Tinggi: Kemdiktisaintek Evaluasi Prodi Jika Tak Relevan dengan Kebutuhan Industri
astakom.com, Jakarta - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mulai mendorong langkah tegas terhadap program studi di perguruan tinggi yang dinilai tidak lagi sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Evaluasi ini bahkan membuka peluang penutupan sejumlah jurusan dalam waktu dekat.
Kebijakan tersebut disampaikan dalam forum nasional kependudukan 2026, yang menyoroti pentingnya penyesuaian antara dunia pendidikan dan industri. Pemerintah menilai selama ini masih terjadi ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dan peluang kerja yang tersedia.
Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya besar untuk meningkatkan kualitas dan relevansi lulusan di tengah perubahan kebutuhan industri yang semakin cepat.
Seleksi prodi diperketat
Pemerintah secara terbuka meminta perguruan tinggi untuk mulai memilah program studi yang masih relevan dan yang tidak relevan. Bahkan juga, opsi penutupan disebut sebagai langkah realistis demi menjaga kualitas pendidikan tinggi.
“Bapak rektor yang ada di sini semuanya, ada kerelaan, nanti mungkin ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi, perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi. Sebenarnya yang dibutuhkan itu prodi apa ke depan itu yang akan coba kita susun nanti bersama,” ujar Badri dikutip dari media nasional pada Minggu, (26/4/2026).
Lulusan membludak, lapangan kerja tertinggal
Setiap tahun, perguruan tinggi di Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta mahasiswa. Namun, pertumbuhan lapangan kerja dinilai belum mampu mengimbangi angka tersebut, sehingga banyak lulusan kesulitan terserap di dunia industri.
“Program studi yang terkait dengan social science itu sekitar 60an persen. Kemudian yang paling gede itu kependidikan, keguruan kita meluluskan tiap tahun 490 ribu. Jadi ini menurut kami di kementerian perlu kebijakan bersama,” ujarnya.
Fokus industri strategis
Sebagai solusi, pemerintah mendorong perubahan pendekatan dari sekadar mengikuti tren pasar menjadi lebih strategis dalam membentuk kebutuhan masa depan. Kampus diminta menyesuaikan program studi dengan sektor prioritas nasional.
“Caranya program studinya yang disesuaikan, perlu dikembangkan prodi-prodi baru yang sesuai dengan delapan industri strategis, nah tentu perlu ada kerelaan dari masing-masing rektor untuk melakukan kajian itu, disesuaikan agar prodinya memang relevan,” ucapnya.(deA/aRsp)











