Mentan Bongkar Dugaan Mafia Pangan: 23 Ton Komoditas Ilegal Disita!

Pewarta: Shintya
Editor: AR Purba
Minggu, 19 April 2026 | 14:10 WIB
Mentan Bongkar Dugaan Mafia Pangan: 23 Ton Komoditas Ilegal Disita!
Mentan Bongkar Dugaan Mafia Pangan, 23 Ton Komoditas Ilegal Disita [astakom/Bakamla]

astakom.com, Jakarta - Pemerintah terus melakukan pengetatan terhadap barang-barang yang keluar-masuk (ekspor-import) berbagai negara. Apalagi yang berhubungan dengan komoditas pangan.

Salah satunya soal temuan komoditas pangan ilegal baru-baru ini. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman minta Satgas Pangan Bareskrim Polri buat mengusut tuntas aktor intelektual di balik penyelundupan 23,1 ton komoditas pangan di Pontianak, Kalimantan Barat.

Andi menekankan bahwa temuan barang itu harus ditangani sampai tuntas, nggak boleh berhenti pada pelaku di lapangan aja.

"Kami minta diusut sampai ke akar. Aktor intelektualnya harus dibongkar. Ini jaringan besar, bukan kasus biasa," kata Andi Amran dalam keterangan resmi, dikutip pada Sabtu (18/4/2026).

Rincian komoditas pangan ilegal

Saat penemuan dan diungkapnya barang-barang itu, aparat menyita sejumlah komoditas ilegal diantaranya 2,1 ton bawang merah asal Thailand, 9,1 ton bawang putih dari China, 7,9 ton bawang bombai asal Belanda, 1,6 ton bawang bombai dari India dan 2,2 ton cabai kering asal China.

Menurut Andi Amran, kasus yang di Pontianak ini cuma sepersekian-nya dari praktik-praktik penyelundupan pangan yang lebih luas dan teroganisir. Di beberapa bulan belakangan aparat juga ngegep penyeludupan besar-besaran di berbagai wilayah.

Mafia pangan

Penyeludupan yang berhasil digagalkan petugas yaitu 133,5 ton bawang bombai ilegal di Semarang, 72 ton di Surabaya, 250 ton beras ilegal di Sabang, serta sekitar 1.000 ton beras ilegal di Tanjung Balai Karimun. Bahkan Andi Amran menyebutnya perilaku penyelundupan ini sebagai mafia pangan.

"Polanya sama, berulang, dan terorganisir. Ini yang kami sebut mafia pangan. Skalanya sudah ratusan hingga ribuan ton, artinya ada kekuatan besar di belakangnya," kata Amran.

Praktik ini jelas berpotensi merusak stabilitas pasar dan menekan produksi dalam negeri. Dia juga menyoroti kalau pelaku ini diduga lagi berusaha ngeganggu kemandirian pangan nasional.

Ganggu swasembada pangan

"Ada pihak yang tidak menginginkan Indonesia swasembada pangan. Mereka terus mencari celah untuk merusak pasar dan melemahkan produksi domestik," katanya.

Amran menegaskan Indonesia sekarang udah mencapai swasembada bawang merah. Dengan masuknya produk ilegal, jelas merugikan petani karena berpotensi menekan harga di pasar. 

Selanjutnya, petani cabai juga sering jadi korban anjloknya harga saat panen raya. Jadi, Andi ngerasa praktik penyelundupan akan semakin memperburuk kondisi tersebut.

"Petani cabai sering mengeluh harga jatuh saat panen. Jangan disakiti lagi, mereka harus dilindungi," jelasnya.(Shnty/aRsp)

Gen Z Takeaway

Mentan lagi all-out bongkar dugaan mafia pangan dan minta dalang penyelundupan diburu, bukan cuma pelaku lapangan. Isunya serius karena selundupan dinilai bisa ganggu pasar, tekan harga petani, sampai ngeganggu swasembada pangan. Intinya, government lagi push law enforcement buat jagain food security tetap aman.

Mentan Andi Amran Sulaiman penyelundupan pangan Mafia pangan

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB