Republik Indonesia Pimpin Pernyataan Global di PBB Lawan Penyerangan ke UNIFIL
astakom.com, Jakarta – Duta Besar Wakil Tetap Republik Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Umar Hadi membacakan Pernyataan Bersama terkait Keselamatan dan Keamanan Pasukan Penjaga Perdamaian.
Pernyataan tersebut disampaikan atas nama Aljazair, Armenia, Australia, Austria, Bahrain, Bangladesh, Belgia, Brasil, Brunei Darussalam, Kamboja, Republik Rakyat Tiongkok, Kolombia, Kroasia, Siprus, Republik Demokratik Kongo, Denmark, Mesir, El Salvador, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Ghana, Yunani, Guatemala, Hongaria, Indonesia, Irlandia, Italia, Yordania, Latvia, Liberia, Luksemburg, Malaysia, Malta, Moldova, Mongolia, Maroko, Nepal, Belanda, Makedonia Utara, Pakistan, Panama, Filipina, Polandia, Portugal, Qatar, Republik Korea, Rumania, Federasi Rusia, Sierra Leone, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Sri Lanka, Swedia, Tanzania, Thailand, Timor Leste, Turki, Inggris Raya, Uruguay, Zambia, dan Uni Eropa.
Sebagai tambahan pendukung, pernyataan bersama ini antara lain: Bulgaria, Kanada, Islandia, Jepang, Selandia Baru, Norwegia, Negara Palestina, Swiss, Vietnam.
Menurut Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di New York, daftar ini adalah yang terbaru hingga saat ini.PTRI menerima sinyal bahwa sejumlah negara tambahan akan ikut serta dalam pernyataan tersebut.
Indonesia Jadi 'Leader': Pimpin Puluhan Negara Suarakan Protes di PBB
"Kami, negara-negara penyumbang pasukan untuk Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), bersama dengan beberapa Negara Anggota lainnya dan Uni Eropa, menyatakan keprihatinan mendalam atas peningkatan ketegangan di Lebanon sejak 2 Maret 2026 dan dampaknya terhadap keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian,” ucap Dubes Umar Hadi, dilansir dari pernyataan PTRI New York, Jumat (10/4/2026).
"Kami mengutuk keras serangan terus-menerus terhadap UNIFIL, termasuk serangan serius terbaru yang menelan korban jiwa tiga pasukan penjaga perdamaian Indonesia dan melukai beberapa pasukan penjaga perdamaian lainnya dari Prancis, Ghana, Indonesia, Nepal, dan Polandia,” jelas Dubes Umar Hadi.
'Keras' dan 'Tegas': Mengutuk Serangan yang Tewaskan Pasukan
“Kami juga mengutuk keras perilaku agresif yang tidak dapat diterima terhadap personel dan pimpinan UNIFIL yang baru-baru ini kami saksikan,” ucap Dubes Umar Hadi.
Dubes Umar me remind kalau pasukan pemelihara perdamaian gak seharusnya jadi target serangan dan kalau serangan terhadap mereka dilarang selama mereka mendapatkan perlindungan menurut hukum internasional serta resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan, dan dapat dianggap sebagai kejahatan perang.
Keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB adalah hal yang mutlak, dan mendesak PBB serta Dewan Keamanan buat memanfaatkan semua sumber daya yang ada guna meningkatkan perlindungan pasukan penjaga perdamaian PBB di lingkungan yang semakin berisiko.
Pernyataan tersebut juga menekankan kembali dukungan penuh kami terhadap UNIFIL dan mandatnya, sebagaimana diatur dalam resolusi Dewan Keamanan yang relevan, dan mendorong semua pihak, dalam keadaan apa pun, untuk melakukan segala tindakan guna memastikan keselamatan dan keamanan personel serta lokasi pasukan penjaga perdamaian, sesuai dengan hukum internasional.
Desak Akuntabilitas: Pelaku Penyerangan Harus Tanggung Jawab!
Hal ini mendorong juga PBB untuk terus menyelidiki setiap serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian secara cepat, transparan, dan menyeluruh, serta terus menginformasikan negara-negara penyumbang pasukan mengenai kemajuan penyelidikan, sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan 2518 (2020) dan 2589 (2021).
"Mereka yang bertanggung jawab atas serangan-serangan ini harus dimintai pertanggungjawaban,” jelas pernyataan yang dibacakan oleh Dubes Umar.
Negara-negara ini juga mengungkapkan keprihatinan yang mendalam mengenai situasi kemanusiaan di Lebanon, terutama akibat banyaknya korban sipil, kerusakan infrastruktur sipil yang parah, dan pengungsian massal lebih dari satu juta jiwa.
Solidaritas untuk Lebanon: Serukan Gencatan Senjata Segera
Selain itu, pernyataan tersebut juga mengajak semua pihak buat segera kembali pada kesepakatan penghentian permusuhan 2024 dan menghargai Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 (2006).
Menghentikan konflik di Lebanon, menurunkan ketegangan, dan mengajak semua pihak kembali ke meja negosiasi juga menjadi fokus.
PBB menekankan kembali komitmen teguh kami terhadap kedaulatan, kebebasan, integritas wilayah, dan kesatuan Lebanon.
"Kami memberikan penghormatan kepada dedikasi dan pengabdian semua pasukan penjaga perdamaian PBB yang mempertaruhkan nyawa mereka demi perdamaian dan keamanan internasional, dan menyampaikan apresiasi mendalam kami kepada semua negara penyumbang pasukan,” sambung pernyataan tersebut. (nAD/aRsp)
Gen Z Takeaway
POV: When Indonesia takes the lead at the UN to protect our heroes on the frontline. Keren banget liat Dubes kita jadi 'dirigen' buat puluhan negara buat nuntut keadilan bagi pasukan UNIFIL. Ini bukan cuma soal politik, tapi soal nyawa manusia yang lagi berjuang demi perdamaian dunia. It’s giving major 'don't mess with our peacekeepers' energy! Semoga suara lantang Indonesia ini beneran bikin pelakunya ketar-ketir dan perdamaian di Lebanon nggak cuma jadi wacana. Respect!












