Laporan OECD: Please Aware Potensi Inflasi 4 Persen di Kalangan G20

Editor: Shintya
Sabtu, 28 Maret 2026 | 00:59 WIB
Laporan OECD: Please Aware Potensi Inflasi 4 Persen di Kalangan G20
Laporan OECD: Please Aware Potensi Inflasi 4 Persen di Kalangan G20 (astakom/Muhammad Syauqi Amrullah)

astakom.com, Jakarta - Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memberikan peringatan soal ketegangan yang terjadi di Timur Tengah berpotensi mengganggu jalannya pertumbuhan ekonomi global.

Padahal sebelumnya, jalur pertumbuhan ekonomi global diproyeksi lebih kuat. Faktor-faktor pendorongnya yaitu terkendalanya pengiriman energi yang melalui Selat Hormuz berisiko membuat inflasi terdorong naik.

OECD juga bilang kalau negara-negara G20 (19 negara utama, Uni Eropa, juga Uni Afrika) diperkirakan mengalami inflasi 1,2 poin persentase lebih tinggi dari prediksi sebelumnya, menjadi 4 persen pada 2026 sebelum turun menjadi 2,7 persen pada 2027.

Sama juga dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global yang diprediksi melambat dari yang asalnya 3,3 persen tahun lalu menjadi 2,9 persen di 2026 sebelum naik tipis ke 3,0 persen pada tahun depan, 2027.

Penyebab inflasi diprediksi tinggi

Dilansir dari Reuters, pada Jumat (27/3/2026), kepala OECD, Mathias Cormann, mengatakan bahwa saat ini dihadapkan dengan ketidakpastian yang tinggi sehingga prospek yang diberikan punya risiko inflasi yang tinggi.

"Kami menghadapi tingkat ketidakpastian yang tinggi terkait durasi dan besarnya konflik di Timur Tengah saat ini, sehingga prospek ini memiliki risiko penurunan yang signifikan yang dapat menyebabkan pertumbuhan lebih rendah dan inflasi lebih tinggi," kata Mathias Cormann.

Pengaruh eksalasi pada pertumbuhan PDB global

OECD juga menyebut bahwa proyeksi tahun 2026 tidak berubah dari perkiraannya pada bulan Desember 2025. Tapi indikasi awal sejak saat itu menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB global bisa saja direvisi naik sekitar 0,3 poin persentase pada tahun 2026 seandainya ketegangan tidak meningkat. Akan tetapi, revisi itu telah sepenuhnya terhapus karena dampak dari eskalasi yang terjadi.

Dengan melonjaknya harga energi saat ini, inflasi G20 diproyeksikan akan menjadi 1,2 poin persentase lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya pada tahun 2026, yaitu sebesar 4,0%, sebelum mereda menjadi 2,7% pada tahun 2027.

Dalam skenario terburuk OECD menilai bahwa  saat harga energi mencapai puncak yang lebih tinggi dan berlangsung dalam waktu yang lebih lama, pertumbuhan global akan turun 0,5 poin persentase pada tahun kedua krisis dan inflasi akan naik 0,9 poin persentase.

Forum dan anggota G20
Dilansir dari Bank Indonesia, G20 adalah forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa. Forum ini merepresentasikan lebih dari 80 persen PDB dunia, 75 persen perdagangan global dan 60 persen populasi dunia.

Tujuan forum ini adalah untuk mewujudkan pertumbuhan global yang kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif. Indonesia merupakan satu-satunya anggota G20 dari negara di kawasan ASEAN.

Anggota G20 terdiri dari Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis, Tiongkok, Turki, dan Uni Eropa.

Gen Z Takeaway 
OECD warning kalau konflik Timur Tengah bikin global economy jadi makin uncertain dan berisiko slowdown. Growth diproyeksi turun ke 2,9% di 2026, sementara inflasi G20 bisa naik sampai 4% gara-gara gangguan energi. Worst case, harga energi spike lebih lama bisa bikin growth makin drop dan inflasi makin tinggi.

eskalasi timur tengah G20 Inflasi OECD PDB Global

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB