Australia Chaos! 608 SPBU Kering Habis Gara-gara Perang Iran!!

Editor: Nur Nadiah Islamiyah
Jumat, 27 Maret 2026 | 10:45 WIB
Australia Chaos! 608 SPBU Kering Habis Gara-gara Perang Iran!!
Australia Chaos! 608 SPBU Kering Habis Gara-gara Perang Iran!! (Astakom / Ilustrasi Freepik BBM)

astakom.com, Jakarta – Krisis pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Australia semakin meluas. Menteri Energi Australia Chris Bowen mengungkapkan bahwa jumlah SPBU yang kosong dari BBM kini telah melebihi 600 unit.

Hingga Kamis (26/3/2026), terdapat 608 SPBU di seluruh Australia yang tidak memiliki stok solar atau bensin.

Angka ini meliputi kurang lebih 8 persen dari keseluruhan 7.798 SPBU yang terdapat di "Negeri Kanguru" tersebut, melansir dari The Nightly pada Jumat, (27/3/2026).

Krisis BBM Terburuk Sejak 1970-an Melanda Australia

Keadaan ini menandai krisis bahan bakar terparah di Australia sejak krisis minyak tahun 1970-an, yang sekarang mulai membahayakan pasokan pangan nasional.

Data terkini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan laporan sebelumnya yang mencatat angka 521 SPBU.

New South Wales Jadi Titik Terparah Kelangkaan

Negara Bagian New South Wales (NSW) mengalami dampak yang paling parah.

314 SPBU atau 13 persen dari total di negara bagian itu mengalami kekurangan setidaknya satu jenis bahan bakar. Sebanyak 48 SPBU benar-benar tidak memiliki stok.

Sementara itu, di Western Australia, jumlah SPBU yang kehabisan solar meningkat pesat menjadi 40 unit, dari sebelumnya hanya 4 unit.

Di Negara Bagian Victoria, 45 SPBU kehabisan solar dan 72 SPBU lainnya kehabisan bensin.

Selain itu, Negara Bagian Queensland menginformasikan 55 SPBU yang kehabisan solar dan 33 yang kekurangan bensin reguler.

Bowen mengakui terdapat kekurangan nyata, terutama di area regional.

"Ada kekurangan yang nyata, terutama di daerah regional, yang perlu segera ditangani," ucap Bowen pada sesi Question Time di parlemen, dikutip oleh astakom pada Jumat, (27/3/2026).

Efek Domino Konflik Global dan Panic Buying
Dia menyatakan bahwa peningkatan permintaan yang signifikan setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari adalah faktor utama.

"Kami melihat permintaan meningkat sangat tajam. Para pemasok, secara wajar dan sah secara hukum, memastikan bahwa mereka menyuplai bensin kepada pihak yang telah memesan sebelumnya, yaitu orang-orang dalam kontrak," sambungnya.

Walaupun dalam keadaan sulit, Bowen menekankan bahwa pemerintah sukses mengamankan pasokan pengganti untuk enam pengiriman yang pernah dibatalkan atau ditunda.

Langkah Pemerintah Amankan Stok Alternatif
"Pasokan ke negara kita tetap kuat. Dari enam kapal yang kami informasikan batal pada akhir pekan lalu, semuanya telah digantikan dengan pasokan alternatif dari negara lain," jelas Bowen.

Dia juga menyampaikan bahwa dua kilang minyak di Australia, Ampol dan Viva Energy, telah menambah pengiriman ke kawasan regional.

Pengiriman BBM dari Ampol ke kawasan regional South Australia dilaporkan naik 44 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

"Jika Anda menggabungkan Ampol dan Viva, mereka menyuplai jauh lebih banyak bensin dan solar ke regional Australia sekarang dibandingkan setahun lalu. Ini adalah upaya mengejar peningkatan permintaan yang masif," tegasnya.

Gen Z Takeaway
​Jujurly, berita ini adalah wake-up call kalau konflik di belahan dunia lain itu efeknya nggak cuma di medsos doang, tapi bisa bikin "dompet" dan isi piring kita terancam. Bayangin aja, gara-gara tensi politik di Timur Tengah, stok BBM di Australia sampai dry banget dan bikin harga logistik makanan terancam naik not very demure, not very mindful. Ini jadi pengingat buat kita buat lebih aware sama isu energi dan mulai mikir kalau ketergantungan sama bahan bakar fosil itu memang se-berisiko itu buat masa depan kita.

australia Australia News eskalasi timur tengah Gerbang Minyak Dunia Minyak minyak dunia

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB