Pemerintah Genjot Hilirisasi dan Energi, Proyek Baru Tembus Rp239 Triliun
astakom.com, Jakarta – Pemerintah mempercepat agenda strategis hilirisasi industri dan penguatan ketahanan energi nasional sebagai fondasi menuju kemandirian ekonomi. Arah kebijakan tersebut ditegaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, Rabu (25/3).
Dalam keterangannya, Bahlil menyebut hilirisasi tetap menjadi prioritas utama pemerintah. Dari total 20 proyek tahap awal, sebagian sudah memasuki tahap peletakan batu pertama, sementara proyek lainnya akan segera menyusul dalam waktu dekat.
“Kemudian kita tambah lagi ada 13 item hilirisasi yang total investasinya kurang lebih sekitar 239 triliun (rupiah) dan akan kita bahas finalisasi,” ujar Bahlil.
Perhatian ke Sektor Energi
Ia menambahkan, pemerintah tidak hanya fokus pada hilirisasi sektor mineral, tetapi juga memperluas ke sektor energi sebagai bagian dari strategi besar memperkuat ketahanan nasional. Presiden, kata dia, secara khusus menginstruksikan optimalisasi seluruh sumber energi domestik.“Bapak Presiden memerintahkan untuk mengoptimalkan seluruh potensi-potensi energi yang ada di kita, baik itu etanol, baik itu biodiesel dari CPO-CPO, termasuk kita bagaimana mendorong agar transisi energi lewat energi baru terbarukan juga kita bisa kita lakukan,” imbuhnya.
Arahan tersebut mencerminkan dorongan kuat pemerintah untuk mempercepat transisi energi, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor. Pengembangan energi berbasis sumber daya dalam negeri dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasokan di tengah dinamika global.
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga memaparkan perkembangan harga komoditas energi dan mineral, khususnya batu bara dan nikel. Hingga saat ini, pemerintah belum mengambil langkah perubahan kebijakan, sembari terus memantau pergerakan pasar internasional.
“Andaikan pun kalau harganya stabil terus, bagus, kita akan bagaimana membuat relaksasi tapi terukur terhadap perencanaan produksi. Jadi semuanya masih dalam batas-batas koordinasi dengan pasar, kemudian kebutuhan supply and demand. Yang penting adalah kita inginkan harganya bagus terus, kita doakan harga batu bara bagus, harga nikel bagus, kemudian kita akan bagaimana melakukan relaksasi terukur,” ungkap Bahlil.
Kepentingan Negara Diutamakan
Lebih jauh, Presiden menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang berpihak pada kepentingan negara. SDA disebut sebagai aset strategis yang harus dijaga sekaligus dioptimalkan untuk meningkatkan penerimaan negara, khususnya dari sektor mineral.“Bapak Presiden memerintahkan kepada saya untuk bagaimana memperhatikan kepentingan negara, prioritas di atas segala-galanya dan kita menjaga sumber daya alam kita, sumber daya alam kita ini merupakan aset negara dan karena itu bahkan Bapak Presiden tadi juga memerintahkan untuk mencari sumber-sumber pendapatan di sektor mineral yang selama ini belum adil bagi negara,” jelas Bahlil.
Ke depan, pemerintah menargetkan integrasi kebijakan hilirisasi, penguatan energi domestik, dan reformasi tata kelola SDA dapat berjalan beriringan. Selain menjaga keseimbangan produksi dengan kebutuhan pasar, pemerintah juga berupaya memastikan harga komoditas tetap kompetitif.
Dengan langkah terkoordinasi tersebut, pemerintah optimistis mampu membangun struktur ekonomi nasional yang lebih kokoh, mandiri, dan berdaya saing tinggi di tengah tekanan global.











