Putra Khamenei Muncul Jadi Salah Satu Kandidat Siap Pimpin Iran?

Editor: Nur Nadiah Islamiyah
Rabu, 4 Maret 2026 | 11:49 WIB
Putra Khamenei Muncul Jadi Salah Satu Kandidat Siap Pimpin Iran?
Putra Khamenei Muncul Jadi Calon Terkuat Pemimpin Baru, Siap Pimpin Iran?(astakom/Iran Aribk)

astakom.com, Jakarta - Mojtaba Khamenei, anak dari pemimpin tertinggi Iran yang sudah meninggal Ayatollah Ali Khamenei, dianggap sebagai calon utama untuk mengambil alih posisi ayahnya sebagai pemimpin anyar Iran, menurut tiga pejabat Iran yang paham bisnis musyawarah Majelis Ahli

Melansir dari New York Times (NYT), pejabat tersebut menyatakan bahwa para ulama sedang berpikir untuk mengumumkan putra mendiang pemimpin sebagai penerus pada Rabu pagi, (4/3/2026), meskipun beberapa pihak menunjukkan keberatan karena takut hal itu dapat menjadikannya sasaran bagi Amerika Serikat dan Israel.

Mereka berdiskusi dengan syarat anonimitas untuk membicarakan rapat internal.

Majelis Ahli, yang terdiri dari ulama, mengadakan dua sesi virtual pada Selasa (3/3/2026), satu pada pagi dan satu lagi pada malam hari, menurut para pejabat.

Sebelumnya, Israel menyerang sebuah bangunan di Qom, salah satu basis kekuasaan utama Syiah, di mana majelis direncanakan untuk berkumpul dan memilih pemimpin tertinggi baru, tetapi gedung tersebut kosong, menurut berita dari Fars yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam.

Mojtaba Khamenei Jadi Kandidat Tunggal Saat Krisis?

Vali Nasr, seorang ahli Iran dan Islam Syiah dari Universitas Johns Hopkins, menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei bisa menjadi pilihan yang mengejutkan dan berpotensi memberikan sinyal penting.

"Ia sudah diproyeksikan menjadi penerus sejak lama," ucap Nasr.

"Namun selama dua tahun terakhir, namanya seolah menghilang dari radar. Jika ia terpilih, ini menunjukkan bahwa faksi Garda Revolusi yang jauh lebih garis keras kini memegang kendali rezim," ujarnya.

Berdasarkan tiga pejabat mepansir dari NYT, Garda Revolusi mendukung penunjukannya dengan alasan bahwa ia memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk memimpin Iran di tengah krisis.

"Mojtaba adalah pilihan paling bijaksana saat ini karena ia sangat mengenal cara menjalankan serta mengoordinasikan aparatur keamanan dan militer," ucap Mehdi Rahmati, seorang analis di Teheran.

"Dia sudah memegang kendali atas hal ini sebelumnya," sambungnya.

Rahmati menyatakan bahwa tidak semua pihak akan merasa senang dengan keputusan ini.

"Sebagian masyarakat akan bereaksi negatif dan keras terhadap keputusan ini, dan hal itu akan menimbulkan serangan balik," prediksi Rahmati.

Antara Garis Keras Garda Revolusi dan Bayang-bayang 'MBS' Versi Iran

Penyokong pemerintah akan memandangnya sebagai lanjutan dari pemimpin yang mereka akui sebagai syahid dan akan segera memberinya dukungan, ucap Rahmati. Akan tetapi, lawan pemerintah juga akan menganggapnya sebagai perpanjangan dari rezim.

Abdolreza Davari, seorang politisi yang dekat dengan Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan publik dan wawancara dengan NYT menyatakan bahwa jika Khamenei menggantikan ayahnya, ia bisa tampil sebagai sosok ala pemimpin Arab Saudi Mohammed bin Salman.

"Dia sangat progresif dan akan bergerak untuk menyisihkan kelompok garis keras," ucap Davari dalam pesan teks sebelum perang. "Lihatlah penunjukannya sebagai proses pergantian kulit." sambungnya.

Kandidat Moderat Terpinggir? Cucu Khomeini dan Alireza Arafi Jadi Finalis
Kandidat lain yang menjadi finalis adalah Alireza Arafi, seorang ulama dan ahli hukum yang terlibat dalam dewan transisi kepemimpinan tiga orang yang dibentuk setelah kematian Ayatollah Khamenei, serta Seyed Hassan Khomeini, cucu dari pendiri revolusi Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini

Baik Arafi maupun Khomeini dianggap sebagai kelompok moderat, dengan Khomeini berhubungan dekat dengan faksi politik reformis yang terpinggirkan di Iran.

Warning dari Trump: 'Skenario Terburuk Adalah Pengganti yang Sama Buruknya'
Sebelumnya pada Selasa, dalam konferensi pers di Washington, Presiden Trump menyatakan bahwa banyak individu yang dianggap oleh pemerintahnya sebagai calon pemimpin Iran telah meninggal sejak hari Sabtu lalu.

"Sesaat lagi kita tidak akan mengenali siapa pun," ucapnya.

Ditanya tentang skenario terburuk di Iran, ia mengatakan: "Saya rasa skenario terburuknya adalah kita melakukan ini dan seseorang yang mengambil alih ternyata sama buruknya dengan orang sebelumnya. Benar, itu bisa saja terjadi. Kita tidak ingin hal itu terjadi."

Majelis Ahli terdiri dari 88 ulama Syiah senior yang terpilih melalui pemilu dan sesuai Konstitusi Iran memiliki wewenang untuk memilih, mengawasi, serta memberhentikan pemimpin tertinggi. Ini adalah pemimpin tertinggi kedua yang akan ditentukan oleh majelis dalam sejarah 47 tahun Republik Islam.

Istri Mojtaba Khamenei, Zahra Adel; ibunya, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh dan seorang putra meninggal bersama ayahnya dalam serangan hari Sabtu lalu, menurut pernyataan resmi pemerintah Iran.

Gen Z Takeaway
​Iran is literally in its 'House of the Dragon' era.Mojtaba Khamenei naik takhta di tengah duka mendalam karena hampir seluruh keluarganya tewas di serangan kemarin. Banyak yang bilang dia bakal jadi "MBS versi Iran" yang lebih modern, tapi banyak juga yang takut dia bakal makin galak karena didukung penuh sama militer. Yang jelas, suksesi ini bakal nentuin apakah harga bensin dunia bakal makin mahal atau keadaan bisa pelan-pelan adem. It's a high-stakes family business!

Ali Khamenei Berita Timur Tengah Terbaru. iran Update Konflik Timur Tengah 2026.

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB