Mengurai Polemik Impor Mobil Angkutan Kopdes Merah Putih dari India
astakom.com, ekbis– Langkah Agrinas Pangan Nusantara (Agrinas) mengimpor mobil angkutan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dari India menuai polemik. Kebijakan ini dinilai kontradiktif dengan semangat penguatan industri otomotif dalam negeri yang sedang digalakkan pemerintah.
Kebijakan Agrinas tadi sebagaian kalangan dalam negeri keliru. Meski Agrinas secara runut sudah menjelaskan lewat konfrensi pers terbuka dengan menunnukan MOM meeting dan surat menyurat dengan manufaktur industri otomotif lokal
Sesifikasi mobil asal India tersebut dianggap belum tentu sesuai dengan medan berat di pedesaan Indonesia. Masalah ketersediaan suku cadang jangka panjang juga menjadi catatan tambhan yang didengungkan oleh kalangan komplain dengan kebijakan Agrinas tadiPihak manajemen Agrinas merasa, bahwa kebijakan impor diambil karena industri dalam negeri belum siap memenuhi permintaan 70.000 unit pikap 4x4 dalam waktu singkat tanpa mengganggu rantai pasok nasional lainnya.
Produsen mobil lokal tidak bisa memenuhi kebutuhan mobil kopdes?
Keraguan pihak Agrinas akan kapasitas produksi lokal untuk memenuhi volume besar dalam waktu singkat menurut informasi, karena efisiensi biaya dan kecepatan pengiriman sering kali menjadi dalih utama untuk menempuh jalur impor.Namun menurut Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN), pabrik di Indonesia memiliki kapasitas produksi hingga satu juta unit per tahun dan mampu menyesuaikan spesifikasi yang diminta.
Presiden KSPN, Ristadi, mempertanyakan dasar perhitungan tersebut. "Artinya industri otomotif dalam negeri sangat mampu memproduksinya, sekaligus untuk mencegah PHK dan menciptakan lapangan kerja bagi rakyat kita sendiri," tegasnya. Dikutip astakom.com dari laman media online keuangan pada (25/02/2026).Apa tanggapan Agrinas?
Agrinas memberikan klarifikasi bahwa langkah impor ini merupakan fase awal untuk pemenuhan kebutuhan mendesak di ribuan desa. Mereka mengklaim bahwa kendaraan dari India memiliki keunggulan harga yang kompetitif bagi kantong koperasi desa.Pihak Agrinas juga menekankan adanya rencana transfer teknologi (ToT) ke depannya. Mereka berjanji bahwa secara bertahap, komponen lokal akan ditingkatkan hingga mencapai produksi penuh di dalam negeri.
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menegaskan bahwa faktor utama pemilihan produk India adalah efisiensi anggaran APBN yang sangat signifikan.
"Melalui skema direct buying ke pabrik langsung, kami bisa mengefisiensikan anggaran sekitar Rp43 triliun dibandingkan jika membeli melalui e-katalog di pasar domestik yang harganya relatif mahal," jelas Joao kepada wartawan kemarin, dikutip astakom.com hari ini (24/02/2026).
Namun demikian, Direktur Agrinas Pangan tersebut menyampaikan kesiapannya untuk mengikuti arahan pemerintah jika memang harus dilakukan penyesuaian (evaluasi).
"Kami ikutin, manut saja apa pun keputusannya. Yang penting kami bekerja untuk negeri," Tegasnya dalam konfrensi pers kemarin sore (24/02/2026).(aRsp)










