Jorge Lorenzo Turun Gunung, Misi Bangkitkan Naluri “Killer” Maverick Vinales
astakom.com, Jakarta – Legenda MotoGP, Jorge Lorenzo, kembali ke paddock dengan peran strategis. Kali ini bukan sebagai pembalap, melainkan mentor pribadi bagi Maverick Vinales. Tujuannya tegas dan ambisius: menghidupkan kembali insting “killer” yang pernah menjadikan Vinales salah satu pembalap paling ditakuti di lintasan, sekaligus mengembalikannya ke level elite MotoGP pada musim 2026.
Lorenzo menilai, bakat alami Vinales tidak pernah pudar. Namun, dalam lima hingga enam musim terakhir, ada satu elemen krusial yang menghilang, yakni rasa lapar untuk menang. Padahal, sejak usia muda, Vinales dikenal sebagai sosok ultra-kompetitif yang tak mentoleransi kekalahan.
“Semua orang yang mengenalnya sejak kecil tahu, Maverick adalah pembalap yang benci kalah. Dia punya naluri pembunuh. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, itu seperti menghilang. Tugas saya sekarang adalah mengembalikannya,” ujar Lorenzo di sela tes pramusim MotoGP di Sepang dikutip dari laman MotoGP, Selasa (17/2).
Bagi Lorenzo, MotoGP bukan sekadar soal kecepatan, melainkan pertarungan mental. Di sinilah peran barunya menjadi krusial: membentuk ulang mindset Vinales agar kembali agresif, lapar prestasi, dan konsisten di level tertinggi. Ia menegaskan, aspek psikologis menjadi kunci kebangkitan sang pembalap.
Kolaborasi ini juga datang pada momen krusial dalam karier Vinales. Memasuki usia matang dan fase baru dalam kehidupan keluarga, ia menyadari dua hingga tiga musim ke depan bisa menjadi kesempatan terakhir untuk berburu gelar dan kemenangan besar. Kesadaran itulah yang kini mendorongnya tampil dengan determinasi baru.
“Sekarang dia ingin memberikan segalanya. Dia ingin menutup kariernya tanpa penyesalan,” kata Lorenzo.
Target jangka pendek pun dipasang tinggi. Lorenzo ingin Vinales menjadi pembalap terbaik KTM musim ini, sekaligus menantang dominasi rekan setim mudanya, Pedro Acosta, yang tampil sensasional pada musim lalu. Menurut Lorenzo, jika Vinales mampu mengungguli Acosta, maka pintu menuju podium dan kemenangan akan terbuka lebar.
“Kalau Maverick bisa mengalahkan Pedro, dia bisa bertarung untuk menang di setiap balapan,” tegasnya.
Musim lalu, laju Vinales sempat tersendat akibat cedera bahu yang dideritanya di GP Jerman 2025. Namun, performa menjanjikan pada rangkaian tes pramusim membuat Lorenzo optimistis kebangkitan muridnya tinggal menunggu waktu.
Kini, dengan kombinasi pengalaman juara dunia, pendekatan psikologis, serta kerja teknis yang detail, Lorenzo berharap bisa melahirkan kembali sosok “Killer Maverick”, pembalap agresif, dingin, dan mematikan yang pernah mengguncang MotoGP













