Pakar Spill: Taktik RI Lawan Aneksasi di BoD!
astakom.com, Jakarta — Rencana buat nerjunin sekitar 8.000 personel pasukan perdamaian TNI ke Gaza sebagai bagian dari International Stabilisation Force (ISF) bener-bener lagi jadi hot topic dan sorotan strategis.
Khairul Fahmi, pengamat militer sekaligus Co-Founder ISESS, menilai kalau masuknya Indonesia ke dalam Board of Peace alias Dewan Pengawas adalah golden ticket buat ngeblokir agenda aneksasi atau aksi "nyaplok" wilayah Palestina.
Khairul Fahmi mengungkap kalau peta keanggotaan Board of Peace sekarang sudah berubah jadi "pasar kaget geopolitik" yang isinya super beragam alias heterogen banget.Situasi Geopolitik
Munculnya negara kayak Pakistan, Uzbekistan, sampai Kazakhstan di forum tersebut dianggap sebagai partner alami buat Indonesia buat bikin blok kekuatan baru yang solid."Bersama mereka, kita bisa membentuk 'kaukus penyeimbang' atau blok mini di dalam ruangan. Kita berpeluang untuk memveto agenda aneksasi yang mungkin diselundupkan oleh faksi Zionis kanan, atau mengimbangi narasi 'real estate' dengan narasi hak asasi manusia," ucap Khairul Fahmi pada Senin (16/2/2026).
Selain itu, Indonesia memiliki legitimasi untuk merangkul negara seperti Vietnam dan Kamboja agar tidak terjebak dalam pragmatisme bisnis semata dan tetap mengedepankan nilai kemanusiaan.
Jebakan Pihak Asing
Menanggapi skeptisisme yang menyebut Indonesia masuk dalam jebakan asing, Fahmi merujuk pada fakta dari dinamika internal Israel. Berdasarkan laporan harian The Guardian (10/2), kelompok garis keras di Tel Aviv justru mati-matian menolak kehadiran TNI.Indonesia punya pengaruh kuat buat ngerangkul negara tetangga kayak Vietnam dan Kamboja supaya nggak cuma fokus ke cuan atau pragmatisme bisnis doang.
Fahmi nekenin kalau RI harus bisa ngajak mereka buat tetep stay on track di jalur kemanusiaan.
Sementara itu, buat ngejawab isu miring yang bilang kalau Indonesia kena "jebakan" pihak asing, Fahmi justru nunjukin data valid dari dinamika internal Israel.
Israel Tolak RI?
Berdasarkan laporan The Guardian (10/2), faksi garis keras di Tel Aviv malah lagi ketar-ketir dan nolak keras rencana kedatangan pasukan TNI ke wilayah tersebut."Pertanyaannya sederhana namun menohok. Jika kita menganggap pengiriman pasukan ini sebagai 'jebakan' yang merugikan, mengapa faksi sayap kanan Israel justru merasa terancam dan menolak?" ucap Fahmi.
Indonesia Jangan Mundur
Fahmi ngasih warning keras soal konsekuensi pahit kalau sampai Indonesia milih buat exit atau mundur dari arena diplomasi internasional ini.Tanpa kehadiran RI, negara kayak Pakistan bakal dipaksa "berjuang solo" alias sendirian buat ngelawan narasi agresif dari negara pendukung faksi garis keras.
"Bayangkan jika Indonesia mundur dari arena ini. Kita membiarkan Pakistan berjuang sendirian melawan narasi agresif Argentina misalnya. Kita membiarkan negara pragmatis seperti Vietnam ditarik sepenuhnya ke dalam orbit bisnis, tanpa ada yang mengingatkan soal kemanusiaan," ucapnya.












