Komika Pandji Pragiwaksono Jalani Sidang Adat Toraja, Babi & Ayam Jadi ‘Ritual Penyucian’

Editor: Dhea Vallerina Riyon
Rabu, 11 Februari 2026 | 09:45 WIB
Komika Pandji Pragiwaksono Jalani Sidang Adat Toraja, Babi & Ayam Jadi ‘Ritual Penyucian’
Pandji Pragiwaksono Jalani Sidang Adat Toraja, BabKomika Pandji Pragiwaksono Jalani Sidang Adat Toraja, Babi & Ayam Jadi ‘Ritual Penyucian’ (Tangkapan layar Youtube@Pandji Pragiwaksono)i & Ayam Jadi ‘Ritual Penyucian’ (Tangkapan layar Youtube@Pandji Pragiwaksono)

astakom.com, Jakarta - Prosesi peradilan adat terhadap komika Pandji Pragiwaksono resmi digelar di Tongkonan Layuk Kaero, Sangalla, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Selasa (10/2/2026). Pandji hadir langsung ke Toraja bersama kuasa hukumnya, Haris Azhar, untuk mengikuti mekanisme hukum adat setempat yang telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Toraja.

Dalam prosesi yang khidmat ini, Pandji dijatuhi sanksi adat berupa satu ekor babi dan lima ekor ayam, sebagai bentuk pertanggungjawaban atas materi stand-up comedy masa lalunya yang sempat menimbulkan polemik.

Dalam adat Toraja, sanksi berupa hewan bukan sekadar hukuman materiil, melainkan simbol penyucian diri dan pemulihan keseimbangan sosial. Tokoh adat menegaskan bahwa putusan ini lahir dari musyawarah adat dan mengikuti prinsip tabur tuai, yang menekankan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi moral di masa mendatang.

Pandji menerima keputusan tersebut dengan sikap terbuka, memandang proses ini sebagai momen pembelajaran dan refleksi budaya.

Sidang adat super ketat, Pandji hadir langsung

Peradilan adat ini diikuti oleh 32 perwakilan wilayah adat Toraja dan berlangsung dengan tata tertib yang ketat. Seluruh peserta diwajibkan mengenakan pakaian adat Toraja, sementara Pandji dan timnya diminta berpakaian sopan tanpa atribut adat setempat. Selama prosesi berlangsung, dokumentasi dan siaran langsung dilarang, menjaga kesakralan acara.

Sidang adat ini digelar sebagai bentuk pertanggungjawaban atas potongan video lama Pandji yang kembali viral pada 2025, yang dinilai menyinggung adat istiadat Toraja. Rangkaian persidangan berlangsung mulai pukul 10.00 WITA, menandai momen penting untuk menegakkan nilai-nilai budaya sekaligus mempertemukan tokoh adat dengan figur publik dalam konteks edukasi sosial.

Ngakuin kekeliruan, Pandji minta maaf

Dalam persidangan, Pandji secara terbuka menyampaikan permohonan maaf dan mengakui kesalahan riset materi komedinya. Ia menekankan bahwa humornya lahir dari pemahaman yang belum utuh terhadap budaya Toraja. Pandji berkata:

“Saya memakai kacamata luar untuk melihat Toraja. Seharusnya saya memakai kacamata ‘Toraja’ untuk melihat Toraja dari sisi lainnya juga.” Ungkap Pandji

Selain permintaan maaf, sidang adat juga mengharuskan Pandji menjalani mekanisme Ma’ Buak Burun Mangkaloi Oto’, yakni sesi tanya jawab dan klarifikasi dengan para pemangku adat. Proses ini memungkinkan Pandji melakukan refleksi langsung, sekaligus memperlihatkan niat baiknya dalam memahami adat dan tradisi lokal.

Babi & ayam: simbol penyucian, bukan hanya hukuman

Sanksi berupa satu ekor babi dan lima ekor ayam bukan sekadar denda, tapi bagian dari ritual penyucian diri. Dalam kearifan Toraja, hewan-hewan ini menjadi lambang pengakuan kesalahan sekaligus usaha memulihkan harmoni sosial yang sempat terganggu.

Pandji menerima mekanisme ini dengan lapang dada, memandangnya sebagai pengalaman belajar: menghormati budaya, menghadapi konsekuensi sosial, dan memperkuat pesan bahwa pertanggungjawaban publik bisa disampaikan secara bermartabat dan edukatif.

Bagi masyarakat Toraja, proses ini menegaskan pentingnya sensitivitas budaya dalam interaksi sosial dan publikasi konten, terutama di era viral di mana satu video bisa memicu pro-kontra luas.

Pandji pun keluar dari sidang dengan pemahaman lebih dalam tentang adat setempat, sembari memberi contoh bagaimana tokoh publik bisa belajar dari kesalahan tanpa kehilangan rasa hormat terhadap tradisi.

Gen Z Takeaway
Buat Gen Z, kasus Pandji ini ngasih pelajaran penting: humor boleh asik, tapi pahami dulu budaya & konteks lokal sebelum nge-share konten yang bisa viral. Sidang adat Toraja nunjukin kalau tanggung jawab sosial nggak cuma soal hukum formal, tapi juga respect sama tradisi dan masyarakat. Intinya, viral itu seru, tapi jangan sampai bikin salah paham atau nyakitin orang—kadang “kacamata lokal” lebih penting daripada kacamata global.

Adat Toraja hukum adat Komika Pandji Pragiwaksono Pandji Pragiwaksono Tana Toraja

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB