astakom.com, Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) support UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) lewat ngasih fasilitasi ke 1.212 pelaku usaha dari berbagai sektor saat ekspor produknya ke luar negeri sepanjang tahun 2025.
Bantuan itu diinisiasikan lewat program UMKM BISA (Berani Inovasi, Siap Adaptasi) Ekspor yang fokus ke inovasi produk, kesiapan bisnis, dan adaptasi pasar global.
Hasil dari program ini nilai transaksi ekspor UMKM tembus USD134,87 juta alias kontribusinya ke devisa negara cukup signifikan.
“Capaian ini membuktikan UMKM Indonesia punya kesempatan bersaing untuk diterima di pasar internasional,” kata Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam keterangan tertulis, dikutip pada Senin (9/2/2026).
Kemendag pertemukan UMKM dengan buyer Global
Total transaksi yang senilai USD134,87 juta itu gabungan dari orderan yang udah fix atau purchase order sebanyak USD57,45 dan potensi deal sebanyak USD77,42.
Jadi sebagian uangya udah jalan dan sebgian lainnya lagi peluang transasi tinggal deal-deal-an.
Kemendag juga aktif mempertemukan UMKM Indonesia dengan calon pembeli dari luar negeri. Terhitung sudah terlaksananya 622 kegiatan business matching yang terdiri atas 399 sesi pitching (presentasi UMKM ke perwakilan perdagangan RI di luar negeri) dan 223 pertemuan dengan buyer mancanegara.
Pertemuan bareng mitra global
Kebanyakan pertemuan itu terlaksana lewat online. Mendag bilang, pitching dan business matching sepanjang 2025 paling banyak melibatkan mitra dari Uni Emirat Arab, disusul Hungaria, Hong Kong, Malaysia, dan Korea Selatan.
Produk makanan dan minuman jadi produk yang paling banyak pitching dan business matching dengan persentase sebesar 29,99 persen.
Lalu diikuti dengan produk perkebunan (14,91 persen), produk furnitur dan dekorasi rumah (10,94 persen). Produk tekstil dan produk tekstil atau fesyen (10,94 persen). Terakhir yang mendominasi adalah produk perikanan (5,63 persen).
Ekspor UMKM bukan cuma cuan, tapi juga akses yang setara.
Bukan cuma business matching reguler yang diadakan rutin tiap bulan, program UMKM BISA Ekspor juga menginisiasi business matching tematik untuk menggaungkan fasilitasi UMKM yang inklusif.
Diantaranya ada Business Matching Tematik Disabilitas yang digelar pada 26—29 September 2025. Program ini mempertemukan UMKM dengan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Santiago di Chile, ITPC Osaka di Jepang, Atase Perdagangan RI Berlin di Jerman, dan Atase Perdagangan RI Bangkok di Thailand buat promosiin produk kerajinan dan fesyen.
Kemendag juga bikin dua sesi business matching buat memperingati Hari Perempuan Internasional (Women’s Day) 2025. Kedua sesi itu melibatkan perwakilan perdagangan RI di Hungaria dan Inggris yang menampilkan produk makanan ringan, fesyen, dan batik.
“Business matching tematik mendorong partisipasi UMKM penyandang disabilitas dan perempuan pelaku usaha agar produk unggulannya dapat dikenal dan diterima di pasar internasional. Upaya ini adalah komitmen memastikan seluruh pelaku UMKM memiliki kesempatan yang setara untuk mengakses pasar global,” tutur Mendag.
UMKM ekspor makin dipush
Di samping itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menyampaikan, Program UMKM BISA Ekspor akan terus diperkuat. Salah satu caranya, yaitu melibatkan aktif kedutaan besar RI dan konsulat jenderal RI di berbagai negara tujuan ekspor.
Supaya fasilitasi business matching bisa meningkat sekaligus pendampingan UMKM yang lebih intensif dan berkelanjutan.
Puntodewi juga bilang, Kemendag udah nyusun rekomendasi 178 pameran internasional yang bisa digunain buat pembina UMKM. Juga buat jadi referensi dalam mendorong produk binaannya ke pasar ekspor pada 2026.
“Para pembina UMKM juga mengharapkan masukan yang lebih intensif dari perwakilan perdagangan RI menyangkut kesesuaian produk UMKM dengan karakteristik pasar negara tujuan,” kata Puntodewi.

