Responsif! Kemensos Langsung Evaluasi Data Perlindungan Sosial Usai Tragedi Anak di NTT
astakom.com, Jakarta — Kementerian Sosial (Kemensos) tengah meninjau ulang sistem pendataan dan penyaluran perlindungan sosial menyusul wafatnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang dikaitkan dengan tekanan kondisi ekonomi keluarga.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan bahwa kejadian ini menjadi pengingat agar data penerima bantuan tidak sekadar bersifat statistik, tetapi benar-benar mencerminkan keadilan serta keberpihakan pada kelompok masyarakat yang rentan.
"Ya, benar kita jujur saja, menjadi bahan evaluasi bersama. Jadi jangan sampai data ini dilihat sebagai angka tapi di dalamnya ada keadilan, ada rasa keadilan," ujar Gus Ipul, di Jakarta, kemarin (5/2/2026).
Seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya, inisial MGT (usia 47 tahun).
Korban tercatat sebagai penerima PIP
Kemensos merespons peristiwa tersebut dengan mengirimkan tim asesmen ke Kabupaten Ngada untuk mendalami kondisi keluarga korban dan memverifikasi status sosial ekonomi yang bersangkutan.
Gus Ipul mengkonfirmasi bahwa korban tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP), sementara kakek dan nenek korban tercatat sebagai penerima bantuan sosial reguler Kementerian Sosial.
Namun, bantuan tersebut diketahui sempat terputus dan tidak diterima langsung oleh ibu korban.
"Saya tidak tahu mengapa sempat terputus," ungkapnya.
Dia menceritakan bahwa korban diketahui tinggal bersama kakek dan neneknya, sementara ibunya yang merupakan orang tua tunggal bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak. Pada saat kejadian, korban disebut sedang berada di rumah ibunya.
Kemensos berikan bantuan sebesar Rp9 juta
Saifullah mengungkapkan kondisi tersebut menunjukkan masih adanya celah dalam mekanisme pemutakhiran data perlindungan sosial di daerah, terutama bagi anak-anak yang berpindah tempat tinggal dan berada di luar satuan keluarga penerima bantuan.
Sebagai tindak lanjut, Kemensos menyalurkan bantuan kepada keluarga korban dengan total nilai Rp9 juta, yang terdiri atas santunan sosial Rp5 juta, bantuan sembako dan nutrisi Rp1,5 juta, serta bantuan sandang Rp2,5 juta.
Kemensos juga memastikan keberlanjutan pendidikan bagi saudara korban melalui program perlindungan sosial yang relevan, salah satunya Sekolah Rakyat.
"Peristiwa di Ngada tersebut menegaskan pentingnya penguatan pendataan terpadu dan perluasan jangkauan program perlindungan anak, khususnya di daerah dengan tingkat kerentanan sosial ekonomi seperti Nusa Tenggara Timur, dan juga di daerah-daerah lainnya," kata Gus Ipul.











