Efektif! Analis Ungkap Efek Bansos: Daya Beli Terjaga, Konsumsi Rumah Tangga Naik
astakom.com, Jakarta - Upaya pemerintah buat jaga dan tingkatin daya beli masyarakat, berbuah hasil. Daya beli masyarakat terjaga dan ekonomi tumbuh. Bahkan sejumlah analis bilang kalau kebijakan yang diberikan pemerintah sangat efektif.
Hal ini terbukti dari data yang diperoleh oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan konsumsi rumah tangga Indonesia tumbuh 4,98 persen pada 2025.
Angka itu menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan data konsumsi rumah tangga tahun sebelumnya yang berada di kisaran 4,94 persen.Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, bilang kalau capaian itu didorong oleh kebijakan anggaran pemerintah yang ngasih bantalan terhadap daya beli masyarakat, terutama lewat bantuan sosial dan subsidi pangan.
"Seluruhya berkontribusi terhadap menguatnya daya beli masyarakat," kata Andry dalam risetnya, dikutip dari rilis yang diterima astakom pada Jum'at (6/2/2026).
Ekonomi kuartal IV picu pertumbuhan konsumsi meningkat
Ekonom Bank Permata, Faisal Rachman punya pandangan kalau pertumbuhan konsumsi sepanjang 2025 didorong sama kinerja kuat ekonomi di triwulan atau kuartal IV.Pada periode 2025 konsumsi rumah tangga tumbuh 5,11 persen dalam hitungan tahunan. Angka itu meningkat dari 4,89 persen pada periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Insentif momen musiman jaga daya beli masyarakat
Menurutnya, akselerasi konsumsi di akhir tahun nunjukkin tingginya aktivitas ekonomi menjelang Natal dan Tahun Baru. Selain faktor hari-hari raya atau musiman, kebijakan bantuan tunai pemerintah juga memperkuat momentum tersebut."Penyaluran bantuan tunai dan terkendalinya inflasi telah menjaga daya beli masyarakat," kata Faisal.
Konsumsi jadi penopang utama
Chief Economist IQI Global, Shan Saeed menilai bahwa terjaganya konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 54–55 persen kepada Produk Domestik Bruto (PDB) akan terus jadi penopang utama yang menjaga dan menahan laju ekonomi domestik.Shan Saeed bilang bahwa capaian itu didukung oleh ketahanan pasar tenaga kerja, inflasi yang terkendali, juga meningkatnya pendapatan riil masyarakat.
"Dengan demikian, pendapatan per kapita Indonesia semakin mulus menuju USD 5.000, yang menegaskan kedalaman permintaan domestik dan mobilitas sosial," kata Shan Saeed.










