Komitmen Prabowo Berbuah Hasil: Aceh, Sumut, dan Sumbar dari Inflasi to Deflasi
astakom.com, Jakarta - Berhasil pulih, wilayah terdampak bencana Sumatera yang tadinya mengalami kenaikan harga atau inflasi, kini update terbaru wilayah tersebut mengalami deflasi atau penurunan harga secara konsisten.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Desember 2025 di wilayah yang tedampak bencana di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencatatkan inflasi. Aceh menjadi wilayah yang paling tinggi mencatatkan inflasi, yaitu 3,6 persen. Untuk Sumatra Utara 1,6 persen, dan Sumatra Barat 1,48 persen.
Melansir astakom.com, sebelumnya Presiden Prabowo menginginkan agar daerah yang terdampak bencana bisa dipulihkan, dan dibangun kembali dengan kondisi yang lebih baik dari semula.
Hal ini membuktikan komitmen Prabowo memberikan dampak positif di berbagai sektor di wilayah Sumatera, khususnya ekonomi masyarakat yang berangsur pulih.
Inflasi Aceh tertinggi di 2025
Sebelumnya, BPS mencatat angka inflasi Aceh pada akhir 2025 ini menjadi yang tertinggi dibandingkan seluruh kota di Indonesia.Plot twistnya, laju inflasi yang tinggi di tiga provinsi terdampak Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, keadaanya berbalik jadi deflasi pada Januari 2026.
Untuk Aceh mencatat deflasi -0,15 persen, Sumatra Utara deflasi -0,75 persen, dan Sumatra Barat deflasi -1,15 persen.
Upaya pemerintah bikin wilayah terdampak jadi deflasi
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasari bilang deflasi di ketiga wilayah tersebut dikarenakan harga-harga komoditas sudah menurun pasca bencana di akhir November 2025."Ini juga menjadi bukti bahwa upaya pemerintah untuk mempercepat pemulihan, mulai dari pembukaan akses jalan dan sarana infrastruktur dasar lainnya sudah membuahkan hasil," kata Amalia dalam keterangan, Rabu (4/2).
Amalia merincikan jenis-jenis komoditas yang harganya sudah turun di wilayah yang terdampak bencana teresbut.
Komoditas penyumbang deflasi
Di Aceh, komoditas penyumbang deflasi paling tinggi adalah telur ayam ras, cabai merah, beras, bahan bakar rumah tangga, dan minyak goreng.Untuk wilayah Sumatra Utara, komoditas yang harganya sudah turun dan menyumbang deflasi diantaranya cabai merah, cabai rawit, kelapa, bawang merah, dan bayam.
Di Sumatra Barat, deflasi disumbang paling tinggi oleh komoditas cabai merah, tarif air minum PAM, bawang merah, tarif angkutan antarkota, dan cabai hijau.
Amalia menegaskan hal ini jadi cerminan kondisi wilayah terdampak bencana perlahan mulai pulih.
"Jadi secara umum, komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar di ketiga wilayah tersebut. Ini menandakan wilayah yang terdampak bencana perlahan mulai pulih Kembali," tegas Kepala BPS.
Deflasi Januari 2026
Pada Januari 2026, Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,15 persen. Deflasi ini terjadi akibat penurunan IHK dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75.Penurunan harga secara umum ini menunjukkan lemahnya tekanan harga pada awal tahun. BPS melaporkan kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau jadi penyumbang deflasi bulanan terbesar dengan penurunan sebesar sebanyak 1,03 persen dan andil deflasi mencapai -0,30 persen.
Komoditas utama yang mendorong deflasi pada kelompok ini adalah cabai merah dengan andil deflasi 0,16 persen, lalu cabai rawit 0,08 persen, bawang merah 0,07 persen, daging ayam ras 0,05 persen, dan telur ayam 0,03 persen.
Bensin dan tarif angkutan udara juga memberikan andil deflasi masing-masing sebesar 0,03 persen.
Di sisi lain, komoditas yang memberikan andil inflasi pada Januari 2026 yaitu emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,16 persen. Selanjutnya ikan segar sebesar 0,06 persen dan tomat dengan andil inflasi mencapai 0,02 persen.










