Jeffrey Hendrik Pegang Kendali BEI Usai Iman Rachman Mundur
astakom.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menetapkan Jeffrey Hendrik sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama, menggantikan posisi Iman Rachman yang mengundurkan diri beberapa hari lalu.
Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko BEI, Sunandar bilang kalau keputusan tersebut ditetapkan dalam Rapat Direksi (Radir) yang dilakukan pada Jumat (30/1/2026).
"Sudah (ditetapkan), Pak Jeffrey. Jadi keputusan Radir kan," kata Sunandar di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Sunandar bilang kalau penetapan Jeffrey dilakukan secara de facto. Selanjutnya, untuk proses administrasinya akan menyusul. Jeffrey Hendrik akan memimpin BEI hingga Juni 2026.
Jeffrey Hendrik sendiri bukan orang baru di lingkungan Bursa Efek Indonesia. Ia menjabat sebagai Direktur Pengembangan BEI berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 29 Juni 2022. Posisi itu menempatkannya sebagai salah satu penggerak utama pengembangan produk dan inisiatif pasar modal.Pengunduran diri Dirut BEI secara mendadak
Sebelumnya, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengundurkan diri dari jabatannya beberapa waktu lalu.Pengunduran dirinya itu imbas dari gejolak Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang tak terkendali selama dua hari.
Menurutnya, keputusan penting ini diambil sebagai respons terhadap penilaian dan pengumuman MSCI yang memengaruhi sentimen dan pergerakan IHSG.
"Saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia,” kata Iman di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
OJK dan BEI sikapi gejolak pasar
Selanjutnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah menggelar pertemuan dengan perwakilan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Danantara, OJK dkk membahas soal arah perbaikan pasar modal Indonesia.Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi menerangkan kalau pertemuan itu membahas isu yang menjadi concern MSCI.
Membahas UBO dan free float
Dalam pertemuan itu ada dua pokok pembahasan yang dibahas, pertama transparansi identitas penerima manfaat akhir (Ultimate Beneficial Ownership/UBO) atas saham dan kedua, peningkatan porsi saham publik (free float).“Untuk reminders (pengingat) saja, apa yang menjadi concern (perhatian) MSCI itu sangat aligned atau selaras dengan beberapa rencana aksi kami, khususnya dalam klaster transparansi yang terkait pengungkapan Ultimate Beneficial Ownership dan terkait likuiditas untuk mendorong peningkatan free float sebagai kebijakan baru,” katanya dalam jumpa pers di Gedung BEI, Jakarta, Senin (2/2/2026) sore.










