astakom.com, Jakarta – Inter Milan keluar sebagai pemenang dalam pertemuan terakhir fase grup UEFA Champions League musim ini setelah menaklukkan tuan rumah Borussia Dortmund 2-0 di Signal Iduna Park, Kamis (29/1) dini hari WIB. Meski meraih kemenangan, Nerazzurri tetap tidak cukup untuk finis di posisi delapan besar dan harus bersaing di babak play-off untuk lolos ke 16 besar.
Laga berjalan ketat dan tanpa gol hingga babak kedua. Inter membuka skor pada menit ke-80 ketika Federico Dimarco mengeksekusi tendangan bebas dengan akurat ke pojok gawang, memecah kebuntuan di Signal Iduna Park. Andy Diouf kemudian menggandakan keunggulan di masa tambahan waktu lewat tembakan di dalam kotak penalti yang sempat membentur pemain Dortmund sebelum masuk ke gawang.
Inter menunjukkan dominasi di penguasaan bola dan serangan sepanjang laga, namun kemenangan ini hanya cukup membawa mereka finis ke posisi ke-10 klasemen fase grup dengan 15 poin, hasil yang memaksa mereka menjalani play-off. Sementara Dortmund yang kalah 0-2 juga tetap melaju ke play-off setelah menempati posisi ke-17 klasemen dengan 11 poin.
Pelatih Inter memuji semangat bertanding anak asuhnya meskipun tekanan tinggi, sedangkan pihak Dortmund mengakui performa lawan yang lebih efektif dalam momen krusial. Kedua tim kini bersiap menghadapi babak play-off yang akan menentukan kelolosan mereka ke fase gugur UEFA Champions League.
Susunan Pemain
- Borussia Dortmund (3-4-2-1): 1 Kobel; 23 Can, 4 Schlotterbeck, 39 Mané (89′ 2 Yan Couto); 26 Ryerson, 7 Bellingham, 8 Nmecha, 5 Bensebaini (81′ 10 Brandt); 14 Beier, 21 Silva (81′ 17 Chukwuemeka); 9 Guirassy (68′ 27 Adeyemi).
- Inter Milan (3-5-2):1 Sommer; 25 Akanji, 15 Acerbi, 31 Bisseck; 11 Luis Henrique, 8 Sucic (88′ 95 Bastoni), 7 Zielinski (74′ 16 Frattesi), 22 Mkhitaryan (88′ 17 Diouf), 32 Dimarco; 14 Bonny (57′ 94 Esposito), 9 Thuram (88′ 10 Lautaro).
Gen Z Takeaway
Inter main sabar tapi mematikan. Nggak buru-buru, nunggu momen, sekali dapet langsung dua gol telak di kandang Dortmund. Walau menang, tetap harus lewat play-off, jadi pelajarannya jelas: konsistensi dari awal itu krusial. Di UCL, telat panas dikit aja, jalannya jadi lebih ribet.

