'Karier Gini-Gini Aja Udah Cukup': Cara Dodit Mulyanto Memilih Slow Living Setelah Sakit
astakom.com, Jakarta — Dikenal sebagai komedian dengan gaya khas, observatif, dan sering membawakan keresahan sehari-hari, Dodit Mulyanto selama ini lekat dengan citra pekerja seni yang konsisten hadir di berbagai panggung hiburan mulai dari stand-up, film, hingga acara televisi.
Namun di balik ritme kerja yang padat, Dodit mengaku kini memilih menjalani hidup dengan cara yang lebih pelan dan sadar.
Keputusan itu datang setelah ia melewati masa sakit yang cukup berat hingga harus menjalani 16 hari perawatan di rumah sakit.
Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang membuatnya meninjau ulang cara hidup, cara bekerja, dan cara memaknai kata “cukup”.
Hal itu ia ungkapkan saat menjadi bintang tamu dalam podcast bersama Andika Pratama dan Wendy Cagur. Alih-alih berbicara soal target besar atau ambisi karier, Dodit justru mengungkap doa sederhana yang kini ia pegang teguh.
“Semoga karierku gini-gini aja,” ucap Dodit sambil tertawa. Bagi Dodit, kalimat itu bukan tanda menyerah, melainkan bentuk penerimaan atas hidup yang sudah terasa aman, sehat, dan cukup.
Perubahan cara pandang ini lahir dari fase perenungan panjang saat kondisi tubuhnya benar-benar terbatas. Dari sana, Dodit menyimpulkan satu hal penting:
“Sehat itu ternyata mahal,” ujarnya, merangkum pelajaran terbesar setelah sakit.
Habis sakit, ambisi nggak dikejar tapi dikelola
Dodit menegaskan dirinya bukan anti berkembang. Namun setelah sakit, ia memilih memelankan ambisi dan tak lagi memaksakan diri.
“Dulu lima tahun dengan gaji segitu aja cukup. Jadi sekarang, apa sih yang perlu ditakutin?” katanya.
Menurutnya, rasa aman sudah terbentuk baik secara finansial maupun mental sehingga ia tak lagi merasa harus mengejar semuanya sekaligus.
16 hari terbaring, sehat jadi prioritas
Selama sakit, Dodit mengalami fase di mana tubuhnya tak bisa bergerak bebas. Dari situ, ia mulai benar-benar menghargai aktivitas sederhana yang dulu terasa biasa saja.
Jogging, ngegym, hingga sekadar beraktivitas normal kini ia anggap sebagai kesempatan yang tidak semua orang bisa.
“Enggak semua orang kuat. Ada yang angkat barbel tiga kali aja langsung keliyengan,” ungkapnya.
Kesadaran itu membuat Dodit lebih berhati-hati dalam menjaga kondisi tubuhnya ke depan.
Kerja tetap jalan, tapi nggak dipaksa
Setelah pulih, Dodit tetap bekerja di dunia hiburan, namun dengan pendekatan berbeda. Ia kini lebih selektif dan menomorsatukan kondisi mental serta fisik.
Menurutnya, ambil film setiap bulan memang baik, selama dijalani dengan keadaan yang sehat.
“Aku pengin kerja maksimal. Produksinya apa pun, konsumsi apa pun, aku tetap happy,” tegasnya.
Daripada terus mengambil pekerjaan tapi penuh tekanan dan emosi, Dodit memilih bekerja dengan ritme yang lebih manusiawi.













