Plot Twist! RUU Kongres AS Mau Sulap Greenland Jadi Negara Bagian Ke 51demi Saingi China- Rusia

Editor: Nur Nadiah Islamiyah
Selasa, 13 Januari 2026 | 17:53 WIB
Plot Twist! RUU Kongres AS Mau Sulap Greenland Jadi Negara Bagian Ke 51demi Saingi China- Rusia
Plot Twist! RUU Kongres AS Mau Sulap Greenland Jadi Negara Bagian Ke 51demi Saingi China- Rusia (astakom /pexels)

astakom.com, Washinton – Ambisi presiden Donald Trump buat mengakuisisi Greenland semakin unhinged setelah sebuah rancangan undang-undang resmi mendarat di meja kongres Amerika Serikat guna meresmikan pulau raksasa itu jadi negara bagian ke-51.

Langkah berani ini diambil karena Washington merasa ketar ketir kalau Moskow sama Beijing bakal curi start buat menguasai wilayah strategis tersebut, sehingga pencaplokan dianggap jadi solusi mutlak buat mengamankan pengaruh AS di Arktik.

Sosok Randy Fine, anggota Kongres dari Partai Republik yang jadi main character di balik pengajuan RUU bertajuk “Greenland Annexation and Statehood Act” pada Senin (12/1/2026) dikutip oleh astakom.com pada Selasa (13/1/2025).

Tim Trump Gaspol Jadikan Greenland Prioritas Utama

Dalam keterangannya, Fine menegaskan kalau siapa pun yang memegang kendali atas Greenland bakal otomatis menguasai jalur pelayaran vital.

Siapa pun yang mengendalikan Greenland mengendalikan jalur pelayaran Arktik utama dan arsitektur keamanan yang melindungi Amerika Serikat.”

“Greenland bukanlah pos terpencil yang dapat kita abaikan ini adalah aset keamanan nasional yang vital,” kata Fine dalam siaran pers, seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (13/1/2026).

Sementara, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt mengonfirmasi kalau misi ini tetap jadi prioritas utama Trump meski belum ada timeline pasti soal kapan eksekusi dimulai.

Aset keamanan nasional atau strategi redupkan NATO?

Meskipun terdengar cool bagi pendukungnya, rencana ini memicu perdebatan panas bahkan di internal politik Amerika Serikat sendiri.

Senator Chris Murphy dari Partai Demokrat memberikan peringatan keras bahwa upaya merebut Greenland secara paksa bisa jadi endgame atau akhir bagi aliansi NATO, sementara Rand Paul menilai ambisi ini beresiko besar bakal balik menyerang kepentingan AS di mata dunia.

Respon keras Denmark dan kritik pedas dari Beijing
Di sisi lain, Pemerintah Denmark lewat duta besar Jesper Moller Sorensen langsung memberikan penolakan tegas dengan menyatakan kalau pulau tersebut sama sekali nggak dijual buat siapapun.

Pihak China juga nggak tinggal diam dan menyindir alasan Trump yang selalu menjadikan mereka sebagai dalih buat melakukan ekspansi wilayah mengingat rakyat Greenland sendiri Sebelumnya udah sepakat bakal tetap mandiri di bawah kerajaan Denmark.

Ambisi yang kembali bersemi di tengah ketegangan global
Secara historis, keinginan AS untuk memiliki Greenland bukanlah hal baru, namun intensitasnya mencapai level berbeda di bawah komando Donald Trump.

Sejak tahun lalu, isu ini sudah sering dilempar ke publik sebagai upaya memperkuat pertahanan nasional dari ancaman militer asing di wilayah kutub utara yang kian mencair.

Kilas balik pada 2019, Trump sempet mengutarakan ide serupa yang saat itu langsung ditanggapi dingin oleh Kopenhagen. Namun, dengan diajukannya RUU resmi di awal 2026 ini, tensi diplomatik antara AS, Denmark dan para pesaing globalnya diprediksi bakal makin spicy dan memicu dinamika keamanan baru di kawasan Arktik.

Gen Z Takeaway
Ambisi Donald Trump buat mengakuisisi Greenland makin unhinged lewat pengajuan RUU resmi ke Kongres AS yang bertujuan menjadikan pulau raksasa itu negara bagian ke-51 demi membendung dominasi Rusia dan China di Arktik, meskipun langkah ini memicu drama besar mulai dari penolakan keras Denmark hingga peringatan dari internal Amerika sendiri bahwa aksi "pencaplokan" ini bisa jadi endgame bagi aliansi NATO.

Donald Trump geopolitik arktik info greenland Politik Global update dunia

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB