Trump Pengen “Bungkus” Greenland? Eropa Langsung Pasang Badan Biar Gak Senasib sama Venezuela!
astakom.com, Jakarta - Beberapa negara besar Eropa secara resmi memasang badan untuk menjaga kedaulatan Greenland dari ambisi politik Amerika Serikat yang makin agresif di wilayah Arktik.
Langkah solid ini diambil setelah tensi global memanas akibat operasi militer Washington yang baru baru ini menangkap pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro.
Kekhawatiran kian memuncak saat Presiden Donald Trump secara terang terangan memberikan sinyal kalau pihaknya “butuh” pulau terbesar di dunia tersebut sebagai aset strategis.
Respon keras ini merupakan buntut dari klaim Stephen Miller, Kepala Staff Amerika, yang sempet meremehkan kekuatan negara lain dalam memepertahankan wilayah otonom tersebut.Para pemimpin dari Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol hingga Denmark langsung merilis pernyataan bareng pada Rabu, 07/01/2026.
“Keputusan terkait Denmark dan Greenland sepenuhnya berada di tangan Denmark dan Greenland, dan hanya mereka,” demikian bunyi pernyataan tersebut, melansir dari The New Daily, pada Rabu 07/01/2026.
Uni Eropa solid jaga Denmark
Negara negara Eropa menekankan kalau keamanan di kutub utara harus dikelola secara kolektif bareng NATO, termasuk melibatkan Amerika Serikat sebagai mitra, bukan penguasa tunggal.Mereka menilai kalau narasi “kekuatan militer” yang dilempar pihak Washington sangat toxic bagi stabilitas internasional.
“NATO telah menegaskan bahwa kawasan Arktik merupakan prioritas, dan sekutu Eropa terus meningkatkan peran mereka,” lanjut pernyataan tersebut, melansir dari The New Daily ada Rabu,07/01/2026.
“Kami dan banyak sekutu lainnya telah menambah kehadiran, aktivitas, serta investasi guna menjaga keamanan Arktik dan menangkal potensi ancaman.” Tegasnya.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk dalam hal ini juga mensupport bahwa “Tidak boleh ada anggota yang menyerang atau mengancam anggota lain dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara. Jika itu terjadi, NATO akan kehilangan maknanya,” kata Tusk
Ambisi Trump yang bikin sekutu triggered
Keinginan Donald Trump buat “bungkus” Greenland, sebenernya bukan isu baru karena udah pernah di spill sejak 2019. Namun, manuver AS di Venezuela akhir pekan lalu bikin Eropa makin overthingking kalau skenario serupa bakal diterapkan di Arktik.Ia yakin masyarakat Greenland akan lebih terlindungi jika berada di bawah perlindungan Amerika Serikat dari ancaman modern di kawasan Arktik,” kata seorang juru bicara AS pada Rabu, 07/01/2026.
Meski ia berdalih kalau perlindungan AS bakal bikin warga Greenland lebih aman dari ancaman modern, banyak pihak seperti Senator Ruben Gallego justru mengecam rencana itu dan menganggapnya sebagai potensi invasi sepihak yang harus di stop.
“Bangun. Trump mengatakan dengan jelas apa yang ingin ia lakukan. Kita harus menghentikannya sebelum ia menyerbu negara lain secara sepihak,” tulis Gallego di platform X.
Saya akan mengajukan resolusi untuk mencegah Trump menyerbu Greenland. Tidak ada lagi perang tanpa akhir.” Sambungnya.
Tekanan diplomasi dan valuasi strategis Arktik
Denmark sendiri sebenernya udah melakukan effort besar dengan mengalokasikan dana sebesar 9,79 miliar dolar AS tahun lalu untuk memperkuat militer di kawasan Arktik. Namun, pihak AS melalui Stephen Miller tetep bersikap dingin dan nyebut kalau dunia nyata hanya diatur oleh kekuatan fisik.“Anda bisa berbicara sepanjang apa pun soal etika internasional dan hal-hal lainnya. Tapi kita hidup di dunia nyata yang diatur oleh kekuatan, oleh paksaan, oleh kekuasaan,” kata Miller.
“Tidak ada alasan untuk memikirkan atau membicarakan ini dalam konteks operasi militer. Tidak ada pihak yang akan melawan Amerika Serikat secara militer terkait masa depan Greenland.” Sambungnya.
Di sisi lain, isu kedaulatan ini makin panas setelah Katie Miller mengunggah foto Greenland dengan bendera AS di media sosial X dengan caption “SOON” yang langsung viral dan memicu kecaman luas.
Latar belakang kasus
Secara historis, Greenland memang punya posisi geografis yang sangat crucial bagi pertahanan rudal balistik Amerika Serikat karena letaknya di antara Eropa dan Amerika Utara.Selain itu, kandungan mineral bumi yang melimpah di sana menjadi daya tarik utama bagi Washington untuk memutus ketergantungan impor dari Tiongkok.
Ketegangan ini mencapai puncaknya setelah Donald Trump kembali menjabat dan memperbarui obsesinya terhadap pulau berpenduduk 57.000 jiwa tersebut.
Meskipun Perdana Menteri Greenland, Jens Frederik Nielsen, mencoba menenangkan warga agar gak panik soal isu pengambilan lahan, solidaritas negara negara Eropa menunjukkan bahwa langkah diplomasi kini sedang berada di titik yang sangat krusial buat mencegah konflik terbuka di masa depan.












