Timor Leste jadi Start Awal Bobibos, Indonesia Menyusul jika Regulasi Siap!
astakom.com, Jakarta — Bahan bakar nabati berbahan jerami bernama Bobibos tengah bersiap masuk fase produksi massal di Timor Leste.
Namun, Bobibos menegaskan pintu produksi skala besar di Indonesia tetap terbuka, asalkan ada permintaan resmi dari Presiden Prabowo Subianto atau pemerintah, lengkap dengan payung regulasi yang jelas.
Pemilik Bobibos, Mulyadi, mengatakan kesiapan tersebut merupakan bentuk komitmen sebagai kader partai pemerintah sekaligus anggota DPR RI.
Namun, ia menegaskan produksi massal di dalam negeri hanya dapat dilakukan jika jerami telah ditetapkan sebagai bahan baku bioenergi dalam kebijakan nasional.
“Kalau negara meminta, pasti kami siap. Dengan potensi 11,3 juta hektare sawah, bahkan dengan asumsi produksi konservatif, Indonesia bisa menghasilkan sekitar 20 miliar liter per tahun. Itu sangat meringankan masyarakat,” ujar Mulyadi, dalam konferensi pers, dikutip redaksi astakom.com, Rabu (31/12/2025).

Jerami belum masuk regulasi
Mulyadi menjelaskan, kebijakan transisi energi nasional baru mengatur bioenergi yang bersumber dari sawit, aren, dan tebu. Jerami belum masuk dalam regulasi tersebut.
Kondisi ini membuat Bobibos memilih untuk tidak melakukan produksi dan distribusi massal di Indonesia, meskipun teknologi telah siap digunakan.
“Kami kader partai pemerintah. Kami harus memberi contoh ketaatan pada regulasi. Tidak mungkin kami memproduksi dan mendistribusikan secara massal tanpa aturan uji ketahanan, sertifikasi, dan standar keselamatan,” kata dia.
Timor Leste jadi negara pertama
Timor Leste merupakan negara pertama yang merealisasikan penggunaan Bobibos. Setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU), Bobibos bersama mitra setempat menyusun perjanjian kerja sama lanjutan yang mencakup rencana aksi, kerangka waktu, penanggung jawab, hingga kebutuhan produksi.
Pemerintah Timor Leste memberikan dukungan penuh berupa fasilitas pabrik serta lahan bahan baku seluas 25.000 hektare. Untuk tahap awal, sekitar 5.700 hektare telah disiapkan. Kapasitas produksi masih dalam pembahasan karena bergantung pada volume yang disepakati, ketersediaan bahan baku, serta pembangunan mesin produksi.
“Target kami paling lambat Februari sudah produksi, tapi kami upayakan Januari sudah mulai. Produksi perdana akan diluncurkan langsung oleh pemerintah Timor Leste,” ujar Mulyadi.
Prabowo telah mengetahui
Ia menambahkan, pengembangan Bobibos di Timor Leste telah diketahui Presiden Prabowo Subianto melalui jalur komunikasi partai dan pemerintahan. Menurutnya, komunikasi dilakukan secara berjenjang dan sesuai dengan etika organisasi.
“Dalam konteks partai, saya sudah melapor ke pembinaan partai, Dewan Pembina, dan unsur pimpinan lainnya. Dalam konteks legislasi, kami juga sudah menyampaikan ke pimpinan DPR, ketua dan wakil ketua komisi terkait, hingga kementerian teknis. Dengan begitu, saya yakin Pak Presiden mengetahui perkembangan ini,” katanya.











