Skandal Epstein Files Makin Rumit! Departemen Kehakiman AS Lemburin 400 Lawyer Bedah Jutaan Dokumen!
Reporter: Nur Nadiah Islamiyah
astakom.com, Washingon - Upaya buat spill kebenaran soal kasus Jeffrey Epstein ternyata butuh tenaga ekstra yang nggak main main.
Melansir dari Reuters pada 31/12/2025 bahwa Departemen Kehakiman Amerika Serikat baru aja ngasih sinyal kalau mereka masih punya tumpukan “harta karun” berupa 5,2 juta hlaman berkas yang harus diperiksa secara detail.
Langkah ini diambil setelah adanya perintah langsung dari Trump untuk membuka seluruh rekaman kriminal mendiang pengusaha tersebut sesuai undang undang transparansi yang baru disahkan Kongres.Berdasarkan dokumen pemerintah dari Departemen Kehakiman terpaksa menerjunkan pasukan sebanyak 400 pengacara dari empat divisi berbeda guna memastikan semua data siap dipublikasikan pada 5-23 Januari 2026.
Melansir data resmi pada 31/12/2025, ratusan lawyer dari FBI hingga kantor Jaksa Agung Manhattan bakal lembur mulai tanggal 5 sampe 23 januari buat meninjau sekitar 1000 berkas setiap harinya.Aparat hukum kerja lembur
Meski tenggat waktu awal dari Kongres pada 19 Desember kemarin udah lewat, Department Of Justice menjanjikan proses penyuntingan demi melindungi privasi korban bakal dikebut secepat mungkin agar publik nggak makin penasaran.
Mobilisasi Ratusan Pengacara dan Insentif Kerja Jarak Jauh
Buat nanganin jutaan dokumen yang overload ini, petinggi DOJ sampai ngasih opsi kerja remote alias WFH plus tunjangan cuti buat para pengacara sukarelawan yang mau join tim investigasi ini.Targetnya ambisius banget, tiap pengacara diharapkan bisa deeptalk sama dokumen selama tiga sampe lima jam sehari buat nyari poin poi krusial yang perlu dipublikasikan.
Penambahan personal secara besar besaran ini membuktikan kalau jumlah data asli terkait jaringan Epstein ternyata jauh lebih membludak dri perkiraan awal pemerintah.
Tensi politik menjelang Pemilu AS 2026
Proses rilis berkas ini nyatanya nggak berjalan mulus karena banyak bagian yang masih disensor ketat, yang bikin beberapa pihak di Partai Republik ngerasa makin frustasi.Situasi ini makin redflag karena skandal yang terseret di balik dokumen dikumen tersebut dianggap bisa mengancam elektabilitas partai menjelang pemilu paruh waktu tahun 2026 nanti.
Banyak yang berharap pembukaan dokumen ini bisa kasih jawaban jujur soal siapa aja elite yang pernah terlibat dalam lingkaran pertemanan ekslusif Epstein di masa lalu.
Komitmen transparansi VS upaya merahasiakan Data
Meskipun sempet ada isu soal upaya buat nutup nutupin berkas ini selama berbulan bulan, namun undang undang yang didukung kedua partai besar di AS akhirnya memaksa semua data wajib go public.DOJ lewat akun media sosial resminya menegaskan kalo mereka lagi kerja siang malam buat beresin urusan legal dan sensor korban.
Publik kini Cuma bisa memantau apakah jadwal rilis akhir Januari ini bakal beneran kejadian atau malah mundur lagi gara gara kerumitan materi yang harus dikumpulkan.
Latar Belakang Kasus
Jeffrey Epstein adalah sosok miliarder yang divonis bersalah di Florida pada 2008 karena terlibat kasus prostitusi anak di bawah umur.Kasusnya kembali meledak pada 2019 saat Departemen Kehakiman AS mendakwanya atas jaringan perdagangan seks internasional, namun ia ditemukan tewas bunuh diri di sel penjara New York sebelum sempet menghadapi persidangan penuh.
Hubungan sosial antara Donald Trump di era 90 an hingga awal 200 an sering kali menjadi bahan perbincangan, meskipun Trump secara konsisten menyatakan bahwa hubungan mereka sudah putus total sejak pertengahan 2000 an.
Pembukaan 5,2 juta halaman dokumen ini merupakan desakan dari undang undang transparansi yang mewajibkan pengungkapan seluruh keterlibatan elite global guna memberikan keadilan bagi para korban serta mengungkap kegagalan institusi dalam menangani kasus ini selama puluhan tahun. (nAD/ aSP)












