Bisnis Ritel Singapura, Are U Ok? Gelombang Restoran Tutup Bikin Shock!
Reporter: Shintya
Astakom.com, Jakarta - Ada apa dengan ekonomi ritel Singapore? Tulisan ruko disewakan (for rent), restoran tutup (closed), memenuhi toko-toko di Singapura.
Singapura sebenarnya lagi kenapa sih? Spill sedikit, tahun lalu at least 3.000 bisnis ritel makanan dan minuman berhenti beroperasi di negara tersebut.
Jelas, hal ini menunjukkan bahwa sektor F&B sedang terkena guncangan keras atau sedang tidak baik-baik saja. Berdasarkan data yang diperoleh dari Data Channel News Asia, bisa disimpulkan bahwa ada sekitar 250 restoran tutup tiap bulannya.Angka itu sekaligus jadi rekor terburuk untuk dunia bisnis ritel di negara yang selalu mengklaim pertumbuhan ekonomi tertinggi kawasan ASEAN.
Data PDB setempat menunjukan, sektor ritel khususnya kuliner di Singapura sepanjang hampir 20 tahun terakhir cemderung mengkhawatirkan.
Restoran yang sudah bertahan puluhan tahun, hingga franchise atau waralaba satu persatu tutup.
Faktor penyebab banyak restoran tutup
Berdasarkan kompilasi dari keterangan pebisnis, mereka menyebutkan biaya sewa yang konsisten naik, memaksa mereka memutar otak untuk bertahan. Salah satunya menaikkan harga dagangannya.Tapi harga makanan juga gak make sense jika terus naik. Penjual harus tetap memikirkan harga yang affordable untuk pelanggan, terlebih buat pelanggan lama. Tekanan biaya sewa ini yang akhirnya membuat mereka mereka stop.
Biaya sewa naik hampir 50 persen
Tidak sedikit, penyewa ruko atau toko yang mengalami kenaikan hingga 20–49 persen, dan akhirnya mereka give up.Lonjakan ini bukan cuma soal greed pemilik properti. Tapi, ada faktor investasi ruko, kenaikan biaya konstruksi, biaya pemeliharaan, dan ekspektasi imbal hasil sewa.
Tenaga kerja mahal
Tenaga kerja juga mahal, dan permintaan melemah. Beberapa restoraan dan franchise restoran raksasa mengalami struggle karena gaji chef naik drastis. Di sisi lain, jumlah staf terbatas.Sebenarnya, menarik jauh ke belakang, soal crisis tenaga kerja sudah sempat dimention oleh Asosiasi restoran. Pada bulan Maret, mereka meminta revisi kuota pekerja asing, tapi pemerintah bilang oversupply restoran juga jadi problem.
Persaingan restoran baru, restoran lama dan restoran viral
Tahun lalu, tercatat ada 23.600 gerai makanan ritel, naik dari 17.200 di tahun 2016. Meski 3.047 tutup, tapi ada 3.800 gerai baru.Faktor lainnya, yaitu perilaku pelanggan berubah drastis. Data Indeks Jasa Makanan & Minuman Juni 2025 menunjukkan kafe & pusat jajanan turun 0,1 persen, restoran turun 5,6 persen, sementara fast food masih naik.
Untuk survive, pelaku usaha mulai go digital. Survei SevenRooms 2023 memaparkan temuannya, sebanyak 59% Gen Z mencari restoran baru via social media.
Beberapa restoran sudah menerapkan digital marketing ini. Lewat konten video, promo rutin, kolab dengan influencer, engagement aktif di medsos, omzet bisa naik 30 sampai 40% dalam beberapa minggu. Tapi tetap aja, popularitas online nggak nutupin masalah struktural. (Shnty/aSP)









