Ngonten Banjir Sumatera, Kok bisa Influencer ini kena' Framing Menyebarkan Opini Sesat oleh Netizen?
astakom.com, Jakarta - Di tengah kondisi Sumatera yang lagi berat akibat bencana, jagat media sosial justru diramaikan oleh perdebatan panas soal dugaan narasi miring yang menyeret konten kreator Ferry Irwandi.
Sejumlah pemberitaan menuduh Ferry menyebarkan opini sesat soal kinerja pemerintah dalam penanganan bencana. Padahal Ferry sudah klarifikasi bahwa ia sama sekali tidak pernah membuat pernyataan yang dituduhkan.
Ferry menegaskan lewat unggahan resminya bahwa ia tidak pernah menuding pemerintah tutup mata, apalagi mempolitisasi isu sensitif. Ia menyebut pembicaraan yang viral itu muncul dari live penggalangan dana seminggu lalu, berdasarkan cerita warga via telepon. “Sama sekali nggak pernah gue narasikan kayak yang ditulis media,” ujarnya.
Di lapangan, semua pihak: relawan, pemda, NGO, TNI–Polri, hingga masyarakat lokal, sedang saling bahu-membahu. Justru situasi kolaboratif ini bikin banyak orang bingung kenapa tiba-tiba ada narasi yang memecah belah. Ferry sendiri meminta media melakukan verifikasi sebelum menaikkan berita, agar tidak memperkeruh keadaan di masa genting.
Ferry juga menegaskan bahwa kontennya selama ini fokus pada edukasi dan ajakan empati, bukan menyalahkan pihak mana pun. “Harmless lho dari kemarin. Gue ngomong terbuka, bahkan ngasih tahu masyarakat kalau pemerintah kerja di lapangan,” katanya dalam unggahan lain.
Sejumlah publik figur seperti Windah Basudara ikut menyayangkan framing yang beredar. Menurut mereka, membantu korban bencana adalah kerja kemanusiaan yang nggak seharusnya ditarik ke arah konflik atau drama digital. “Orang mau nolongin malah di-framing gila,” tulis Windah.
Kondisi darurat seperti ini seharusnya jadi momentum untuk bersatu, bukan adu narasi. Baik pemerintah maupun para influencer sama-sama punya kapasitas bantu masyarakat, dan keduanya justru saling melengkapi: pemerintah dengan struktur kerja resminya, influencer dengan reach serta empati publik yang besar.
Di tengah ribuan relawan yang turun, logistik yang dikirim, dan evakuasi yang terus berjalan, isu-isu yang saling menyudutkan cuma bikin fokus terpecah. Publik diminta tetap bijak, cek fakta dulu, dan nggak gampang kebawa arus opini yang belum tentu bener. Karena kalau tujuannya bantu korban, semua bisa kerja bareng tanpa perlu drama tambahan. (bGL/ aSP)













