Viral Pengakuan Patrick Kluivert di Sebuah Podcast: Saya Bukan Pelatih, Saya Boneka!

Editor: Alfian Tegar
Senin, 17 November 2025 | 10:39 WIB
Viral Pengakuan Patrick Kluivert di Sebuah Podcast: Saya Bukan Pelatih, Saya Boneka!
Patrick Kluivert resmi dipecat PSSI. (Foto: IG @Bolalob.com)

astakom.com, Jakarta - Baru-baru ini ramai beredar cuplikan video podcast yang menampilkan eks pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, pada sebuah podcast sepak bola di Belanda bernama Voetbal Zonder Filter atau sepak bola tanpa saring.

Podcast tersebut viral di Eropa dan Asia Tenggara, pasalnya Kluivert menyampaikan banyak pengakuan terkait pengalamannya melatih Timnas Indonesia.

Dalam percakapan berdurasi hampir satu jam itu, Kluivert bicara blak-blakan soal pengalaman pahitnya melatih timnas Indonesia, sebuah pengalaman yang ia sebut sebagai masa paling membingungkan sepanjang karirnya di dunia kepelatihan.

Sekadar Strategi Branding

Ia mengaku proses perekrutannya terasa sangat tergesa-gesa dan penuh tekanan politik. Menurutnya, banyak pihak di belakang layar yang mendorong namanya untuk dipilih bukan karena kualitas atau visi sepak bola, melainkan karena nama besar Kluivert sendiri yang bisa mendongkrak kitra timnas di mata dunia.

“Mereka butuh wajah terkenal. Seseorang yang bisa dijual secara global. Saya sadar belakangan bahwa saya hanyalah bagian dari strategi branding, bukan pelatih yang benar-benar diberi kuasa penuh,” ujar Kluivert.

Merasa Dijadikan Boneka

Kluivert juga menyebut bahwa selama melatih timnas Indonesia, dirinya hanya dijadikan boneka oleh pihak tertentu di tubuh federasi dan pemerintah.

“Saya bukan pelatih. Saya boneka. Semua sudah diatur. Dari pemain yang dipanggil, strategi yang boleh digunakan, sampai bagaimana saya berbicara ke media. Saya merasa dikontrol setiap hari,” tegasnya.

Menurut Kluivert, ada banyak intervensi dari pihak-pihak yang seharusnya tidak mencampuri urusan teknis sepak bola. Sebagai contoh, Ia bahkan menyebut bahwa beberapa keputusan penting seperti daftar pemain starter dan taktik saat melawan Arab Saudi dan Iran di kualifikasi Piala Dunia 2026, bukan murni keputusannya sendiri.

“Saya sempat menolak beberapa pemain karena alasan teknis dan kebugaran. Tapi keesokan harinya mereka tetap masuk dalam daftar starter. Itu saat saya sadar. Saya tidak punya kendali apa-apa,” ujarnya pasrah.

Selalu Mendapat Pemain Titipan

Bagian paling disorot dari pengakuannya adalah soal pemain titipan. Kluivert menyebut bahwa hampir di setiap pemanggilan pemain, selalu ada nama-nama yang ia rasa tidak layak tampil di level internasional, namun dipaksakan untuk dipanggil karena alasan di luar sepak bola.

“Saya tidak akan menyebut nama, tapi saya tahu beberapa pemain tidak pantas berada di tim. Tapi mereka datang dengan rekomendasi khusus. Kalau saya menolak, saya akan menerima telepon di malam hari,” ujarnya getir.

Kluivert bahkan mengaku sempat ditegur langsung oleh petinggi federasi karena mencoba mengganti susunan pemain di laga penting melawan Irak. Keputusan itu membuatnya hampir dipecat dua hari sebelum laga berlangsung.

“Saya tidak pernah mengalami hal seperti ini dimanapun. Saya melatih pemain hebat seperti Sevi, Depay, dan Van Persie, tapi tidak pernah ada yang menelpon saya hanya untuk memaksa memainkan seseorang,” katanya.

“Saya datang untuk bekerja secara profesional, tapi saya dikelilingi oleh opini, tekanan, dan drama politik. Saya ingin membangun tim, tapi mereka sibuk membangun citra,” tambahnya sebagai penutup.

Pada bulan lalu, Federasi Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) secara resmi mengumumkan penghentian kerja sama dengan Patrick Kluivert dan seluruh tim kepelatihannya melalui mekanisme mutual termination atau pemutusan bersama (16/10/2025).

Keputusan ini diambil setelah Tim Nasional Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2026. PSSI menyebut bahwa pemutusan kerja sama ini mempertimbangkan dinamika internal serta arah strategis pembinaan sepak bola nasional ke depan.(aLF/aSP)

Gen Z Takeaway

Pengakuan Kluivert yang merasa dijadikan “boneka” selama melatih Timnas Indonesia—dari tekanan politik, pemain titipan, sampai keputusan teknis yang bukan miliknya—bikin heboh dan nunjukin betapa rumitnya urusan di balik layar. Ini jadi wake-up call bahwa kalau sepak bola nasional mau maju, profesionalisme harus lebih dominan daripada pencitraan.

eks pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert Pengakuan Patrick Kluivert PSSI Timnas Indonesia Voetbal Zonder Filter

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB