Update Harga Emas Galeri24, UBS dan Antam Senin 17 November 2025
astakom.com, Jakarta - Harga emas Galeri24 dan UBS kompak stagnan pada perdagangan hari ini, Senin 17 November 2025. Tidak ada pergerakan harga dibandingkan transaksi pada hari Minggu kemarin, menandakan kedua produk emas yang tersedia di Pegadaian itu berada dalam fase stabil.
Sementara itu, harga emas batangan Antam justru mengalami kenaikan pada perdagangan awal pekan ini. Kenaikan harga ini terjadi hampir seluruh ukuran, mulai dari ukuran terkecil 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram.
Berdasarkan data yang dihimpun dari laman resmi Pegadaian, harga emas Galeri 24 ukuran 1 gram masih bertahan di level Rp 2.413.000, tidak berubah dari hari sebelumnya. Harga berbagai ukuran lainnya, mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram, juga tercatat sama persis seperti perdagangan akhir pekan.
Hal serupa juga terjadi pada harga emas UBS. Emas UBS ukuran 1 gram tetap berada di Rp 2.415.000, sementara ukuran lain seperti 0,5 gram, 5 gram, hingga 500 gram tidak menunjukkan perubahan harga sama sekali.
Berbeda dengan kedua produk logam mulia tersebut, harga emas Antam pada Senin pagi justru bergerak naik di seluruh ukuran. Emas Antam ukuran 1 gram tercatat naik ke posisi Rp 2.583.000, dengan harga buyback berada di Rp 2.251.000.
Kenaikan juga tampak pada ukuran besar seperti 10 gram yang dijual di Rp 25.273.000, hingga ukuran 1 kilogram yang menembus Rp 2.517.460.000. Kenaikan merata pada berbagai ukuran ini menunjukkan penguatan minat pasar terhadap emas batangan Antam, yang sering dijadikan pilihan investasi.
Ramalan Harga Emas 2026
Melansir The Economist, Senin (17/11/2025), analis menyebut pada tahun 2026 mendatang, logam mulia emas menjadi bintang utama dalam perdagangan komoditas global.
Alasannya cukup kuat, karena selera investor akan komoditas ini terus meningkat, seiring ketidakpastian politik, krisis geopolitik, guncangan perdagangan, serta prospek penurunan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Setelah menembus US$4.000 per bounce pada 2025, harga emas diprediksi bisa melampaui US$4.500 pada 2026. Kenaikan ini ditopang oleh kejutan politik, inflasi Amerika yang masih tinggi, hingga instabilitas global.
Investor ritel dan bank sentral pun diperkirakan tetap agresif dalam membeli logam mulia tersebut untuk menghindari kemungkinan buruk ekonomi global ke depan. Sementara perak turut menikmati lonjakan permintaan.










