Ramalan Pasar Komoditas 2026: Emas Diramal Bakal Terus Melejit
astakom.com, Jakarta - Pasar komoditas global masih berada dalam fase turbulensi panjang sejak 2020, dipicu oleh pandemi, kebijakan perdagangan era Donald Trump, perang, hingga sanksi ekonomi yang mengacaukan permintaan sekaligus pasokan.
Melansir The Economist, Senin (17/11/2025), analis menyebut pada tahun 2026 mendatang, masing-masing kelompok komoditas akan bergerak dengan pola yang berbeda. Emas menjadi salah satu bintang utama.
Alasannya cukup mudah ditebak, karena selera investor akan komoditas ini terus meningkat, seiring ketidakpastian politik, krisis geopolitik, guncangan perdagangan, serta prospek penurunan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Setelah menembus US$4.000 per bounce pada 2025, harga emas diprediksi bisa melampaui US$4.500 pada 2026. Kenaikan ini ditopang oleh kejutan politik, inflasi Amerika yang masih tinggi, hingga instabilitas global.
Investor ritel dan bank sentral pun diperkirakan tetap agresif dalam membeli logam mulia tersebut untuk menghindari kemungkinan buruk ekonomi global ke depan. Sementara perak turut menikmati lonjakan permintaan.
Di sisi lain, logam industri akan menjadi penentu apakah pasar komoditas dapat tetap stabil atau justru masuk tekanan deflasi. Tembaga menjadi komoditas paling krusial dalam kelompok ini, sebab posisinya sebagai barometer kesehatan ekonomi global menjadikan pergerakannya sangat diperhatikan.
Pada Juli 2025, harga tembaga memecah rekor di bursa Amerika setelah Donald Trump mengumumkan tarif 50 persen untuk impor tembaga. Harga sempat turun ketika tarif hanya diberlakukan pada produk berbahan tembaga, namun kembali merangkak naik karena kekhawatiran kebijakan tersebut akan diperluas.
Memasuki 2026, harga tembaga diproyeksikan tetap bergejolak. Tarif impor berpotensi menekan ekonomi global, sementara ketidakpastian dapat memperkuat dolar dan menurunkan daya beli produsen yang membeli tembaga dengan mata uang selain dolar.
Meski begitu, pemangkasan suku bunga oleh The Fed dan lonjakan penjualan mobil listrik global bisa memberikan tekanan sebaliknya dengan meningkatkan permintaan tembaga. Gangguan suplai, keterlambatan proyek, serta pemulihan pabrik di China turut memicu risiko pasar semakin ketat.
Pelaku pasar berharap tembaga dapat bertindak sebagai “penawar hangover” bagi pasar komoditas pada 2026. Jika permintaan meningkat bersamaan dengan gangguan pasokan, tembaga bisa menjadi stabilisator penting dalam lanskap komoditas yang sedang mencari arah.
Untuk komoditas energi dan pangan, proyeksinya cenderung lebih suram. Permintaan diperkirakan tetap lemah akibat tarif impor Amerika yang menahan laju ekonomi global dan kondisi ekonomi China yang belum sepenuhnya pulih.
Pada saat yang sama, suplai energi melimpah berkat produksi gas alam yang mencetak rekor tertinggi dari proyek-proyek di Amerika, Qatar, dan negara lain. Efek pemanasan global juga membuat musim dingin ekstrem semakin jarang terjadi.
Lonjakan pasokan juga terjadi pada komoditas pangan seperti gandum, jagung, dan kedelai, yang membukukan panen melimpah sepanjang 2025.
Adapun minyak mentah diperkirakan tetap berlimpah selama tidak terjadi blokade total Amerika terhadap minyak Rusia. Sementara di sisi lain, negara-negara Teluk terus memulihkan produksi yang sebelumnya dipangkas.
Para analis menilai, harga komoditas energi dan pangan bisa jatuh terlalu rendah sehingga memicu aksi borong dan menciptakan rebound permintaan. Namun untuk saat ini, kedua kelompok komoditas tersebut berada dalam tekanan akibat kombinasi permintaan yang lesu dan suplai berlebih.









