astakom.com, Jakarta – Transaksi kripto di pasar keuangan dalam negeri terus menunjukkan peningkatan. Sepanjang Januari-September 2025, transaksi tercatat sudah mencapai Rp360,3 trilun.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi menyampaikan, peningkatan ini sejalan dengan penambahan jumlah investor kripto dalam negeri.
Per September 2025, OJK mencatat jumlah investor kripto di Indonesia mencapai 18,61 juta konsumen. Jumlah ini tercatat terus mengalami kenaikan 3-5 persen setiap bulannya (month to month).
“Kami di OJK mencatat bagaimana pengguna atau konsumen aset kripto nasional terus mengalami peningkatan pesat. Angkanya sekarang sudah mencapai 18,61 juta konsumen,” jelas Hasan, Jumat (31/10/2025).
“Total transaksi yang terjadi year to date sampai September 2025 di angka lebih dari Rp 360 triliun,” ujarnya menambahkan.
Menurutnya, teknologi blockchain yang menjadi dasar dari berbagai jenis aset kripto memiliki potensi besar untuk ikut memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
Hal tersebut meliputi upaya peningkatan diversifikasi investasi, efisiensi pelaksanaan transaksi keuangan, serta pengembangan inovasi produk dan model bisnis yang baru.
Dia pun menukil laporan dari Chainalysis, bahwa Indonesia pada tahun 2024 kemarin berhasil menempati peringkat ke-7 dari 151 negara dalam Global Crypto Adoption Index.
Meski begitu, Hasan mengingatkan bahwa berbagai dan risiko baru turut menyertai inovasi berbasis teknologi seperti aset kripto. Risiko tersebut salah satunya berkaitan dengan ancaman keamanan siber.
“Risiko lain yang juga terus harus kita waspadai adalah misalnya upaya atau praktik dari manipulasi pasar dari pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata Hasan.
Hal itu menurut Hasan, akan mengganggu aspek market integrity yang akan kita hadirkan. Di sisi lain, aset kripto juga memicu tantangan baru, dimana aset tersebut berpotensi disalahgunakan sebagai sarana pencucian uang, bahkan pendanaan illegal, seperti terorisme dan lainnya.
Ia mengatakan risiko ini tak hanya dugaan semata mengingatkan dalam data milik Chainalysis, sepanjang 2024 saja kerugian global akibat serangan siber di sektor aset keuangan digital terus meningkat sebanyak 21 persen mencapai angka US$2,2 miliar
“Prediksi untuk semester I 2025 kerugian akibat serangan di sektor kripto selama 6 bulan pertama tahun ini telah menembus angka US$ 2,3 miliar,” ungkapnya.
“Jadi satu semester tahun ini saja sudah melampaui angka catatan aset atau total kerugian keamanan siber di tahun yang lalu,” pungkasnya.
Gen Z Takeaway
Lagi Hits banget nih kripto di Indonesia, transaksi Januari – September 2025 udah tembus Rp 360 triliun, dan jumlah investor udah nyampe 18,61 juta orang! Kayaknya sih, ini lagi jadi tren investasi kekinian yang bikin ekonomi nasional makin keren, apalagi teknologi blockchain-nya punya potensi besar buat pertumbuhan.
Tapi, jangan lupa, risiko keamanan dan manipulasi pasar juga lagi mengancam, banget fatal sampe kerugian siber globalnya aja udah miliaran dolar. Jadi, meskipun seru dan punya peluang besar, kita harus tetap waspada dan cerdas buat ngehadapin segala risiko ini.

