Dikritik, Difitnah, Tetap Ikhlas: Filosofi Prabowo dalam Mengabdi
astakom.com, Jakarta — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan pentingnya sikap terbuka terhadap kritik dan koreksi dalam menjalankan tugas kenegaraan.
Menurutnya, seorang pemimpin tidak boleh alergi terhadap masukan, sebab kritik adalah bagian dari demokrasi dan harus diterima dengan lapang dada. Ia juga menekankan bahwa pengabdian kepada bangsa dan negara perlu dijalankan dengan ikhlas, tanpa menyimpan rasa sakit hati.
Pernyataan itu disampaikan Presiden dalam pidatonya pada acara Pemusnahan Barang Bukti Narkoba di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, Jakarta, Rabu (29/10).
Acara ini sekaligus menjadi momentum refleksi atas capaian satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto, di mana Polri berhasil menyita 214,84 ton narkotika dengan nilai ekonomi mencapai Rp29,37 triliun.
Dalam kurun waktu yang sama, aparat kepolisian juga menangani 49.306 kasus narkoba, menangkap 65.572 tersangka, serta mengungkap 22 kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) dengan aset senilai Rp221,38 miliar.
Kritik sebagai Vitamin Demokrasi
Dalam pidatonya, Prabowo berbicara dengan nada reflektif. Ia menekankan bahwa kritik bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan justru menjadi pengingat bagi seorang pemimpin agar tidak salah arah.“Bersaing bagus, kritik bagus, koreksi harus,” kata Prabowo menegaskan.
Prabowo mengaku, dirinya kerap meluangkan waktu untuk mendengarkan pandangan publik. “Saya malam-malam suka buka podcast-podcast (kritik) itu, kadang dongkol juga, tapi saya catat,” ujarnya. Baginya, kritik yang terdengar pahit tetap perlu dicatat sebagai masukan berharga demi perbaikan dalam menjalankan pemerintahan.
Presiden juga berbagi pengalaman pribadi ketika dirinya difitnah saat masih muda. Ia menceritakan bagaimana seorang guru memberi nasihat berharga yang sampai kini masih ia pegang.
“Saya dulu punya guru. Waktu saya masih muda, saya kena fitnah. Dua, tiga kali saya bangun. Saya mengeluh ke guru saya. (Dia bilang), jangan berkecil hati, engkau difitnah berarti engkau diperhitungkan. Engkau difitnah berarti engkau ditakuti. Loh kok takut sama saya? Berarti kau disuruh hati-hati,” tuturnya.
Menurut Prabowo, fitnah maupun kritik tidak boleh melemahkan semangat seorang pemimpin. Justru, ujian semacam itu menandakan bahwa keberadaannya dianggap penting dan berpengaruh.
Anggapan Otoriter
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menanggapi anggapan publik yang menyebut dirinya otoriter. Ia menepis pandangan tersebut dengan sikap terbuka.“Apa iya ya, apa saya otoriter? Perasaan enggak deh,” ujarnya.
Bagi Prabowo, tudingan seperti itu adalah bagian dari dinamika politik yang wajar. Alih-alih menampik dengan marah, ia memilih untuk menerimanya sebagai masukan. “Jadi, bagus koreksi itu, baik tapi di ujungnya,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pengabdian kepada negara tidak boleh disertai dendam atau sakit hati. “Dan saya punya filosofi, dalam pengabdian kepada negara tidak boleh diikuti rasa sakit hati,” tegasnya.
Apresiasi untuk Polri
Selain berbicara soal kritik, Presiden juga memberikan apresiasi tinggi kepada Polri dan seluruh jajaran penegak hukum atas kerja keras memberantas narkoba. Ia menilai keberhasilan penyitaan lebih dari 214 ton narkoba adalah pencapaian luar biasa yang tidak hanya menyelamatkan bangsa dari kerugian ekonomi, tetapi juga melindungi jutaan generasi muda dari ancaman kehancuran.Prabowo mengingatkan bahwa ancaman narkoba sama berbahayanya dengan ancaman militer, politik, atau ekonomi. Karena itu, ia menegaskan bahwa pemberantasan narkoba harus menjadi prioritas bersama seluruh aparat negara, bukan hanya tugas kepolisian semata.(Usm/aRSp)
Gen Z Takeaway
Prabowo kasih pesan simpel tapi dalem banget: jadi pemimpin itu jangan anti kritik. Kritik dan koreksi justru bikin demokrasi sehat, kayak vitamin buat bangsa. Bahkan fitnah pun, kata beliau, tanda kalau seseorang diperhitungkan.Buat Prabowo, pengabdian ke negara harus dijalankan dengan ikhlas, tanpa sakit hati, meski dihujat atau dituduh macem-macem. Intinya: pemimpin sejati = berani dikoreksi + tetap rendah hati.











