Harga Emas Dunia Menguat, Tapi Masih Ada Peluang Investor Masuk

Editor: Khoirudin
Senin, 20 Oktober 2025 | 15:30 WIB
Harga Emas Dunia Menguat, Tapi Masih Ada Peluang Investor Masuk
Ilustrasi emas. [Dok.Pegadaian]

astakom.com, Jakarta – Harga emas global kembali menguat pada awal pekan ini, Senin (20/10), setelah sempat mengalami koreksi di akhir pekan lalu. Pergerakan logam mulia itu dinilai masih berada dalam tren bullish yang solid dan justru membuka peluang akumulasi bagi investor.

Berdasarkan data perdagangan, harga emas naik 0,21% ke level US$ 4.259,17 per troy ons, dengan lonjakan 61,53% secara year to date (ytd). Adapun rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) harga emas spot tercatat di US$ 4.379 per troy ons.

Analis Dupoin Futures Indonesia, Wisnu Dewojati menilai bahwa momentum penguatan harga emas dalam beberapa waktu ke depan belum berakhir.

“Secara teknikal, harga emas masih menunjukkan bias bullish yang sehat dengan peluang penguatan menuju area krusial di US$ 4.350,” ujar Wisnu dalam risetnya, dikutip astakom.com, Senin (20/10).

Ia menjelaskan bahwa koreksi yang terjadi belakangan ini merupakan bagian dari proses konsolidasi alami dalam tren naik. “Apabila terjadi koreksi, area US$ 4.186 bisa menjadi titik kunci untuk re-entry karena menjadi batas bawah dari pola teknikal yang masih positif,” jelasnya.

Dari sisi fundamental, Wisnu menilai pergerakan emas masih sangat dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga The Fed dan dinamika geopolitik global, terutama hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Selama pekan lalu, harga emas bahkan sempat menembus rekor tertinggi di atas US$ 4.375 sebelum terkoreksi tipis setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal pelonggaran tarif impor terhadap produk asal China.

Menurut Wisnu, pernyataan tersebut mendorong sentimen positif di pasar saham global dan menekan permintaan jangka pendek terhadap aset safe haven seperti emas.

Meski demikian, Wisnu menegaskan bahwa faktor fundamental utama, yakni ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, masih menjadi motor penggerak utama harga emas.

Ketua The Fed Jerome Powell sebelumnya menyatakan bahwa kebijakan moneter akan tetap disesuaikan “pertemuan demi pertemuan” dengan mempertimbangkan data ekonomi terbaru. Nada dovish tersebut memperkuat pandangan pasar bahwa siklus pelonggaran suku bunga belum berakhir.

Wisnu mencatat, selama sembilan pekan terakhir, harga emas mencatat kenaikan beruntun dengan penguatan lebih dari 5% hanya dalam sepekan terakhir.

“Fase koreksi saat ini bukan sinyal pembalikan arah, melainkan peluang beli bagi investor yang menunggu momentum,” tutur Wisnu.

Ia pun mengingatkan pentingnya disiplin dalam manajemen risiko menjelang rilis data ekonomi AS dan kebijakan bank sentral negeri Paman Sam berikutnya.

“Dengan kombinasi faktor fundamental yang mendukung dan struktur teknikal yang masih positif, harga emas diperkirakan tetap kuat dalam jangka pendek hingga menengah. Investor disarankan memanfaatkan fase koreksi saat ini sebagai kesempatan masuk ke pasar emas sebelum tren naik berlanjut,” pungkas Wisnu.

Gen Z Takeaway

Harga emas dunia lagi bersinar banget, naik 0,21% ke level US$ 4.259,17 per troy ons dan sudah melonjak lebih dari 61% sepanjang tahun ini, bahkan sempat cetak rekor di US$ 4.379. Tapi menurut analis Dupoin Futures Indonesia, Wisnu Dewojati, tren bullish emas belum habis dan justru membuka peluang buat investor yang sabar nunggu momen.

Ia bilang, kalau harga sempat koreksi ke sekitar US$ 4.186, itu bisa jadi titik re-entry alias waktu bagus buat masuk lagi. Faktor yang paling ngaruh? The Fed dan hubungan dagang AS–China. Dengan kebijakan suku bunga AS yang masih condong ke arah pelonggaran (dovish), emas berpotensi lanjut naik.

emas Harga Emas Investasi investasi emas Logam Mulia Wisnu Dewojati

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB