Saham BBCA Makin Murah, Analis Sebut Ini saat Paling Tepat untuk Koleksi
astakom.com, Jakarta – Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terus terkoreksi dalam beberapa pekan terakhir. Meski begitu, kondisi ini justru dinilai sejumlah analis sebagai peluang emas bagi investor untuk mulai mengoleksi saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.
Pada penutupan perdagangan Selasa (14/10), harga saham BBCA ditutup di level Rp 7.250 per saham, turun 75 poin atau 1,02 persen dibandingkan sehari sebelumnya. Angka ini mendekati titik terendah dalam tiga tahun terakhir, sejak 15 Juli 2022 di kisaran Rp 7.000.
Secara valuasi, rasio Price to Book Value (PBV) BBCA kini berada di sekitar 3,45x, jauh di bawah rata-rata historisnya yang sering kali di atas 4x. Kondisi ini membuat kapitalisasi pasar BBCA turun di bawah Rp 1.000 triliun, posisi terendah dalam tiga tahun terakhir.
Momentum Masuk Bagi Investor
Penurunan harga saham BBCA membuat valuasinya tampak semakin menarik di tengah fundamental kinerja yang tetap solid. Analis dari BRIDanareksa Sekuritas menilai bahwa kondisi ini merupakan momentum yang tepat untuk masuk ke saham BBCA.“Di tengah likuiditas yang mulai membaik, kami mempertahankan peringkat Netral pada sektor ini, dengan BBCA sebagai pilihan saham jangka panjang karena kualitas asetnya yang kuat,” tulis BRIDanareksa dalam riset yang dikutip Selasa (14/10).
Para pelaku pasar juga mencermati pelemahan nilai tukar rupiah dan potensi kenaikan suku bunga deposito valas yang bisa menekan margin perbankan. Namun, di sisi lain, kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang menurunkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) dinilai mampu memberikan efek positif.
“Kebijakan ini bisa mendorong pertumbuhan kredit, khususnya di segmen korporasi dan UMKM, seiring penurunan suku bunga pinjaman yang lebih rendah dan meningkatnya permintaan refinancing,” tulis riset Samuel Sekuritas.
BBCA Tetap Jadi Primadona
Meski ada sejumlah tantangan seperti permintaan kredit yang belum pulih dan potensi peningkatan provisi, para analis menilai BBCA tetap unggul di antara bank-bank besar lainnya.Analis Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi menyebut bahwa kekuatan fundamental BBCA masih menjadi pembeda utama dengan saham-saham lain di sektor Perbankan.
“BBCA memiliki biaya modal (CoC) paling rendah sebesar 0,5% (rata-rata sektor 1,6%), jaringan CASA terbesar, dan tingkat ROE tertinggi mencapai 25,2% (sektor: 18,4%),” ungkap Prasetya dalam laporannya.
Dengan valuasi yang kini tergolong murah dan fundamental kuat, saham BBCA dinilai undervalued dan memiliki potensi rebound signifikan ketika kondisi makroekonomi mulai membaik.
“Kami tetap optimistis terhadap kinerja BBCA, apalagi dengan valuasi yang sudah terlalu murah untuk diabaikan,” tutup Prasetya.
Gen Z Takeaway
Saham BBCA lagi diskon, gengs — tapi bukan karena banknya bermasalah. Justru ini momen “buy the dip” versi perbankan elite Indonesia. Harga BBCA nyaris nyentuh titik terendah dalam tiga tahun terakhir, tapi fundamentalnya masih sekuat tembok beton: biaya modal paling rendah, profitabilitas tertinggi, dan jaringan nasabah terbesar.Analis sepakat: valuasi BBCA sekarang udah undervalued parah. Jadi, buat yang punya horizon investasi jangka panjang dan sabar nunggu rebound ekonomi, ini bisa jadi “golden ticket” buat masuk ke saham bank paling stabil di RI. Kalau kata investor senior, “Harga boleh turun, tapi reputasi BBCA enggak pernah diskon.”










