57% Remaja Masih Malu Curhat, Mendukbangga Hadirkan Tempat Safe Space di Sekolah
astakom.com, Jakarta - Isu kesehatan mental di kalangan anak muda lagi dapat perhatian serius dari pemerintah. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, mengajak para remaja untuk tidak menyimpan beban pikiran sendirian dan mulai berani berbagi cerita, khususnya kepada teman sebaya yang dapat dipercaya.
Demi memfasilitasi hal tersebut, Kemendukbangga/BKKBN menghadirkan wadah curhat melalui Generasi Berencana (Genre) serta Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R) yang sudah tersebar di berbagai sekolah dan sarana pendidikan.
Wihaji menekankan pentingnya peran platform ini dalam acara peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia dikutip Sabtu (31/10/2026). Ia meminta tim Genre dan PIK-R terus aktif mengampanyekan agar para remaja tidak merasa takut atau malu untuk bercerita, terutama saat menghadapi masalah seperti perundungan (bullying).
Situasi ini tergolong mendesak jika melihat data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAHMS). Riset tersebut mencatat 34,9 persen remaja mengalami kendala kesehatan mental, di mana 1 dari 20 remaja (sekitar 2,45 juta jiwa) masuk dalam kriteria diagnostik gangguan mental dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Di sisi lain, sebanyak 57 persen remaja mengaku masih takut atau malu untuk mengungkapkan masalah emosional mereka. Hal inilah yang mendorong pemerintah hadir untuk memastikan keterjangkauan akses bantuan dan memicu kesadaran sejak dini melalui kolaborasi lintas kementerian.
Peer-to-peer support jadi kunci saling rangkul
Forum remaja yang dibentuk ini berfokus pada edukasi dan ruang berbagi antarteman sebaya. Langkah ini dihadirkan agar kesadaran akan isu kesehatan mental bisa terus disuarakan secara luas.
Wihaji berharap platform ini bisa mendorong remaja untuk membagikan dinamika masalahnya alih-alih memendamnya sendirian. Sebab, kebiasaan memendam beban emosional berpotensi memicu gangguan kesehatan mental yang lebih berat.
Dalam sesi berbagi, sejumlah remaja mulai berani membuka diri dan menceritakan pengalaman mereka, mulai dari yang pernah menjadi korban maupun pelaku bullying, hingga rasa sakit hati yang pernah dialami.
Memutus rantai stigma dan kebiasaan memendam masalah
Kebiasaan menahan beban sendirian sering kali dipicu oleh rasa takut dihakimi atau dinilai lemah oleh lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kehadiran wadah khusus ini difokuskan untuk mengikis stigma tersebut.
Dengan adanya lingkungan pendukung di sekolah, para siswa diharapkan bisa saling mendengarkan tanpa judgment. Membuka diri sejak dini menjadi langkah awal yang sangat krusial untuk mencegah dampak negatif yang berlarut-larut.
Pemerintah sediakan akses layanan profesional
Tidak hanya mengandalkan peran teman sebaya di lingkungan sekolah, pemerintah juga memastikan ketersediaan bantuan penanganan tingkat lanjut.
Layanan kesehatan mental dipastikan tetap terjangkau melalui pelibatan psikolog serta dokter spesialis atau psikiater. Kehadiran para tenaga ahli ini menjadi bentuk nyata komitmen pemerintah dalam mendampingi tumbuh kembang dan kondisi psikologis remaja di Indonesia. (RaM)
Gen Z Takeaway
Memendam beban sendirian sampai bikin overthinking itu udah gak zaman banget (outdated). Daripada bikin mental health kamu makin drop gara-gara takut di-judge, mending manfaatkan wadah kayak Genre dan PIK-R buat spill masalah ke teman sebaya, atau langsung berkonsultasi ke psikolog profesional biar pikiran kamu bisa kembali fresh dan tenang.








