BPJS PBI Bantu Warga Lebak Jalani Cuci Darah Tanpa Biaya Sejak 2018

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Henni Rachma Sari
Sabtu, 31 Oktober 2026 | 00:03 WIB
BPJS PBI Bantu Warga Lebak Jalani Cuci Darah Tanpa Biaya Sejak 2018
BPJS PBI Bantu Warga Lebak Jalani Cuci Darah Tanpa Biaya Sejak 2018 (Dok. Bakom RI)

astakom.com, Jakarta – Biaya pengobatan penyakit serius kerap menjadi beban tersendiri bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Namun, jaminan kesehatan melalui BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) memungkinkan masyarakat kurang mampu tetap mendapatkan layanan medis tanpa harus memikirkan biaya pengobatan yang ditanggung sesuai ketentuan program.

Manfaat tersebut dirasakan Deris Susanto, warga Lebak, Banten, yang telah menjalani pengobatan gagal ginjal sejak 2018. Mantan pekerja bangunan ini harus menjalani prosedur cuci darah secara rutin dua kali dalam seminggu. Meski membutuhkan perawatan jangka panjang, Deris mengaku tidak pernah mengeluarkan biaya untuk pengobatannya melalui BPJS PBI.

Kisah Deris tersebut disampaikan melalui Podcast Sinergi Indonesia yang dipublikasikan di kanal YouTube resmi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, pada Jumat (30/10/2026).

Delapan tahun menjalani cuci darah tanpa biaya

Perjalanan pengobatan Deris bukan waktu yang sebentar. Sejak didiagnosis mengalami gagal ginjal pada 2018, ia harus menjalani perawatan rutin di Rumah Sakit Kartini, Lebak, Banten.

Kondisi tersebut sempat membuat keluarga khawatir, terutama karena cuci darah harus dilakukan secara berkala. Namun, kepesertaan BPJS PBI membantu Deris mendapatkan penanganan medis tanpa terbebani biaya pengobatan yang harus dikeluarkan sendiri.

"Dari awal divonis tahun 2018 sampai sekarang, saya tidak pernah dikenai biaya sepeser pun, semuanya gratis. Dulu untuk bergerak saja tidak bisa, sekarang alhamdulillah kondisi membaik dan sudah bisa berjalan lagi,” jelas Deris.

Merasa mendapat pelayanan yang setara

Bukan hanya persoalan pembiayaan, Deris juga menceritakan pengalamannya selama menjalani perawatan di rumah sakit. Ia mengapresiasi sikap tenaga medis yang dinilai ramah, sigap, dan membantu pasien selama proses pengobatan.

Menurut Deris, status sebagai peserta BPJS PBI tidak membuat dirinya mendapatkan perlakuan berbeda dibandingkan pasien yang membayar secara reguler.

“Di rumah sakit semuanya ramah dan sangat membantu. Tidak ada istilah dibeda-bedakan atau dinomorduakan karena gratis, semuanya dilayani sama rata,” ucap Deris.

Pengalaman tersebut memberikan rasa tenang bagi Deris dan keluarganya. Dengan adanya jaminan kesehatan, ia bisa lebih fokus menjalani pengobatan rutin tanpa terus dibayangi persoalan biaya.

BPJS PBI membantu masyarakat mengakses pengobatan

Deris turut menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas keberlangsungan program jaminan kesehatan yang dirasakannya. Ia menilai bantuan tersebut memberikan manfaat besar bagi dirinya dan keluarga selama menjalani proses pengobatan.

Kisah ini menjadi gambaran bagaimana akses terhadap layanan kesehatan dapat membantu masyarakat dengan keterbatasan ekonomi memperoleh perawatan medis yang dibutuhkan. Terlebih bagi pasien penyakit kronis yang memerlukan penanganan berkelanjutan.

Melalui sinergi pemerintah, Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan, pelaksanaan program BPJS PBI diarahkan agar bantuan iuran dapat menjangkau masyarakat yang memenuhi kriteria penerima. (deA/RaM)

Gen Z Takeaway

Akses kesehatan bukan sekadar soal bisa datang ke rumah sakit, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan pengobatan tanpa terbebani biaya yang sulit dijangkau. Pengalaman Deris menunjukkan pentingnya jaminan kesehatan bagi pasien yang membutuhkan perawatan jangka panjang. Karena pada akhirnya, kondisi ekonomi seharusnya tidak menjadi penghalang seseorang untuk memperoleh layanan kesehatan.

bpjs BPJS PBI Akses kesehatan Penerima BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI)

Infografis

Terkini