Media Sosial Makin Jadi Andalan Gen Z Menemukan Makanan dan Restoran Baru

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Minggu, 13 September 2026 | 23:08 WIB
Media Sosial Makin Jadi Andalan Gen Z Menemukan Makanan dan Restoran Baru
Scroll Cari Makanan? Media Sosial Ubah Cara Gen Z Pilih Kuliner [Ilustrasi/Pexels]

astakom.com, Jakarta – Cari makanan sekarang nggak selalu dimulai dari mesin pencarian. Buat Gen Z, satu video yang muncul di timeline bisa berubah menjadi rekomendasi tempat makan, menu yang wajib dicoba, sampai alasan buat datang langsung ke sebuah restoran.

Kebiasaan tersebut sejalan dengan sejumlah riset terbaru yang melihat perubahan cara generasi muda menemukan makanan. Melansir laporan Attest bertajuk Gen Z food trends: what today's young US consumers want, media sosial menjadi salah satu ruang penting bagi Gen Z Amerika Serikat untuk mengeksplorasi makanan. Sementara itu, riset YouGov yang terbit pada 19 Agustus 2026 juga menemukan bahwa 43 persen Gen Z di Britania Raya menggunakan media sosial untuk menemukan restoran.

Timeline jadi etalase makanan

Buat generasi yang sehari-hari lekat dengan media sosial, konten makanan bisa muncul bahkan ketika mereka sebenarnya tidak sedang mencari tempat makan. Video singkat, ulasan kreator, rekomendasi menu, hingga unggahan restoran dapat menjadi pemantik rasa penasaran sebelum keputusan untuk mencoba dibuat.

Dalam riset Attest terhadap Gen Z Amerika Serikat, sebanyak 73 persen responden menggunakan platform media sosial untuk mengeksplorasi makanan. TikTok menjadi salah satu platform yang paling banyak digunakan untuk mencari konten makanan, dengan 53 persen responden mengaku melakukannya. Instagram berada di angka 40 persen, sedangkan YouTube mencapai 39 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa media sosial bukan cuma tempat mencari hiburan atau mengikuti tren. Dalam konteks makanan, platform digital juga bisa berfungsi sebagai semacam etalase yang mempertemukan pengguna dengan menu, tren, maupun tempat makan yang sebelumnya belum mereka kenal.

Meski begitu, angka tersebut merupakan hasil riset terhadap Gen Z di Amerika Serikat. Karena itu, data Attest tidak bisa langsung dianggap sebagai gambaran perilaku seluruh Gen Z di Indonesia.

Restoran ditemukan lewat medsos

Gambaran serupa terlihat dalam riset YouGov mengenai kebiasaan Gen Z saat makan di luar pada 2026. Dalam survei di Britania Raya, 43 persen Gen Z mengatakan mereka menemukan restoran melalui media sosial. Persentasenya sama dengan Gen Z yang menemukan restoran dengan mengeksplorasi area lokal.

Namun, media sosial bukan satu-satunya jalan. Rekomendasi dari keluarga atau teman tetap menjadi sumber yang lebih populer dalam menemukan restoran. YouGov juga mencatat ulasan online sebagai salah satu jalur pencarian, sementara iklan tradisional serta blog atau situs makanan memiliki porsi yang lebih kecil.

Dengan kata lain, kebiasaan Gen Z bukan berarti sepenuhnya meninggalkan cara lama. Media sosial justru hadir sebagai tambahan jalur pencarian yang membuat proses menemukan tempat makan bisa dimulai dari aktivitas scrolling sehari-hari.

Ngantre karena viral

Pengaruh konten digital terhadap keputusan makan juga terlihat dari restoran yang mendadak ramai setelah mendapat perhatian di media sosial.

Melansir dari laman The Guardian pada Minggu, (13/09/2026)melaporkan fenomena antrean panjang di sejumlah restoran, kafe, toko roti, dan gerai makanan di Inggris yang ikut terdorong oleh popularitas TikTok dan Instagram. Salah satu contohnya adalah YC di London yang menarik antrean setelah mendapat perhatian dari kreator TikTok.

Dalam keterangan tertulis tersebut, salah satu pengunjung berusia 23 tahun mengatakan dirinya mengetahui YC dari seorang kreator TikTok yang membagikan informasi mengenai antrean di tempat tersebut. Ia kemudian datang bersama teman-temannya karena menganggap pengalaman tersebut bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana sebuah konten bisa membawa audiens dari layar ke lokasi fisik. Namun, viralitas juga punya sisi lain. The Guardian mencatat bahwa lonjakan pengunjung dapat membuat operasional bisnis semakin terbebani, sementara ekspektasi pelanggan juga bisa terbentuk dari apa yang mereka lihat secara online.

Dari scroll jadi pilihan

Pada akhirnya, media sosial tidak otomatis menjadi satu-satunya penentu Gen Z ketika memilih makanan. Harga, rekomendasi orang terdekat, ulasan, lokasi, hingga pengalaman yang ditawarkan sebuah tempat tetap dapat memengaruhi keputusan.

Namun, pola penemuannya memang semakin fleksibel. Seseorang bisa saja awalnya hanya scrolling, lalu berhenti karena melihat makanan yang menarik, mencari tahu lokasinya, membaca komentar, mengecek ulasan, dan akhirnya memasukkan tempat tersebut ke daftar kunjungan.

Jadi, media sosial sekarang bukan cuma soal apa yang sedang viral, tetapi juga menjadi salah satu pintu bagi Gen Z untuk menemukan pengalaman kuliner baru. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Cari makan sekarang bisa berawal dari satu scroll. Dari konten yang awalnya cuma lewat di timeline, ujung-ujungnya bisa jadi wishlist kuliner berikutnya.

Lifestyle Gen Z Lifestyle Gen z Media Sosial Tips Gen Z

Infografis

Terkini