Bahas Timur Tengah, Presiden Tiongkok Xi Jinping Minta BRICS 'Spill' Solusi Damai!
astakom.com, Jakarta – Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah makin hari makin bikin resah publik internasional. Momen panas ini bikin Presiden Tiongkok Xi Jinping angkat bicara dan mengajak negara-negara anggota BRICS buat ambil peran nyata demi mewujudkan perdamaian di sana.
Di tengah krisis yang dipicu perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berdampak besar pada infrastruktur sipil, militer, hingga mengganggu pasokan energi global Xi Jinping menyampaikan seruan penting saat KTT BRICS di New Delhi, India, Sabtu silam (12/09/2026).
Eskalasi panas
“Situasi di Timur Tengah dan kawasan Teluk terus berkembang. Perang di sana telah menyebabkan kerugian serius bagi masyarakat di seluruh kawasan dan tidak melayani kepentingan bersama masyarakat internasional,” ucap Xi, dilansir kantor berita Xinhua pada Minggu (13/09/2026).
Melihat kondisi tersebut, Xi menekankan pentingnya kolaborasi antarnegara anggota agar tidak tinggal diam melihat situasi yang makin memburuk.
Gak cuma menyoroti konflik yang sedang membara, Xi menyerukan negara-negara BRICS untuk “berdiri teguh di sisi sejarah yang benar." Menurutnya, Tiongkok bakal bekerja sama bareng anggota BRICS lainnya untuk memainkan posisi dalam menciptakan perdamaian dan ketentraman di Timur Tengah dan kawasan Teluk.
Xi turut mendongkrak BRICS nge- lead buat upaya memperkuat saling pengertian antarperadaban serta membenahi tata kelola global.
Pada orasinya, Xi mencerminkan BRICS sebagai salah satu platform kolaborasi paling amouh buat negara-negara pasar berkembang dan negara berkembang.
Sikap BRICS & tata kelola global
Xi menekankan penolakan atas “mentalitas Perang Dingin dan konfrontasi blok." Ia meminta BRICS melawan pelanggaran atas kedaulatan negara lain dan mengintervensi urusan dalam negeri negara lain.
“BRICS harus menjadi pelopor dalam meningkatkan tata kelola global,” ungkap Xi.
Ia juga meminta circle tersebut merawat kewibawaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta memperkokoh kolaborasi di sektor kecerdasan buatan (AI).
Kondisi KTT New Delhi
KTT BRICS di New Delhi ini digelar tepat di tengah panasnya perang AS-Iran yang tak kunjung usai. Selain dihadiri Presiden Tiongkok Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Iran, forum ini juga mengumpulkan para pemimpin negara anggota lainnya. Di saat yang sama, tensi global makin terasa lantaran konflik Rusia-Ukraina turut memasuki tahun keempatnya tanpa tanda-tanda mereda.
Tiongkok bakal melanjutkan estafet kepemimpinan bergilir BRICS tahun depan, menggantikan posisi India yang masa jabatannya segera berakhir.
Memasuki hari Minggu, rangkaian acara berlanjut dengan sesi terbuka bagi para pemimpin BRICS bertajuk “Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth.”
Kekuatan BRICS
Data BRICS mencatat betapa besarnya pengaruh kelompok ini, yang kini menaungi 49,5 persen penduduk dunia, menopang 40 persen PDB global, dan menggerakkan 26 persen arus perdagangan dunia.
Rekam jejak KTT BRICS sebelumnya sempat diadakan di Rio de Janeiro, Brasil pada 2025 lalu. Kini, Tiongkok siap mengambil estafet sebagai tuan rumah untuk KTT mendatang. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Dunia lagi gak baik-baik aja karena perang AS-Iran makin panas dan berdampak ke ekonomi global, tapi Xi Jinping spill solusi bareng BRICS buat step up jadi peacekeeper. Intinya, BRICS diingatkan buat gak main blok-blokan ala Perang Dingin, tetep respect sama kedaulatan negara lain, plus fokus manfaatin pengaruh raksasa mereka—yang nguasai hampir separuh populasi bumi—buat bikin tata kelola dunia dan AI jadi lebih adil.








