AS-Iran Memanas, Ujian BRICS Tetap Solid di KTT India?
astakom.com, Jakarta – Panasnya pertempuran antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mendadak jadi ujian terberat buat membuktikan seberapa solid internal tim BRICS. Ujian kekompakan ini bakal kelihatan jelas dalam ajang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 yang digelar di New Delhi, India.
Ujian kekompakan
Eskalasi geopolitik ini makin disorot lantaran Iran sendiri berstatus sebagai anggota resmi BRICS. Sementara itu, negara-negara anggota lainnya punya hubungan yang beda-beda dan cukup kompleks baik dengan pihak Washington maupun Teheran.
“Konferensi bergengsi ini diselenggarakan tepat di tengah situasi dunia yang sedang penuh gejolak,” ujar Sourabh Gupta dari Institute for China-America Studies, dilansir dari Anadolu, Minggu (13/9/2026).
Ia berpendapat kalau perjumpaan tersebut digelar di tengah “tindakan agresif serta perubahan besar dalam tatanan dan kehidupan internasional.”
Sorotan Barat
Gupta menyebut, jalannya perjumpaan penting ini dipastikan bakal terus dipantau dan bikin negara-negara Barat makin ikutan kepo. Selain drama konflik Iran, beberapa topik berat lainnya mulai dari perang Rusia-Ukraina, gesekan perdagangan global, hingga tren teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI) dan sistem pembayaran berbasis blockchain diprediksi bakal masuk dalam jajaran agenda utama perbincangan.
Ekspansi circle
Secara historis, BRICS awalnya cuma beranggotakan lima pendiri utama: Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Namun, aliansi ini melakukan ekspansi besar-besaran pada Januari 2024 dengan merangkul Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, dan pada akhirnya Indonesia ikut join ke dalam circle ini pada Januari 2025.
Kini, aliansi yang mengumpulkan 11 negara anggota tersebut terus memperlebar jangkauan dan pengaruhnya. Memasuki tahun 2025, deretan negara seperti Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam turut merapat sebagai negara partner resmi BRICS.
Peta geopolitik
Uniknya, momen pertemuan New Delhi ini berlangsung sangat krusial berjarak kurang dari dua pekan sebelum agenda tingkat tinggi Sidang Umum PBB, serta rencana pertemuan bilateral antara Xi Jinping dan Donald Trump pada 24 September mendatang.
Gupta menilai, berkumpulnya para pemimpin dunia seperti Modi, Xi, Putin, dan Pezeshkian “di bawah satu payung non-Barat” akan menjadi salah satu gambaran yang paling tersorot pada agenda KTT tersebut.
Kedatangan jajaran pemimpin ini diprediksi kuat bakal memicu kewaspadaan serius di kubu Barat, mengingat BRICS secara konsisten terus menunjukkan pengaruhnya untuk menyeimbangkan dominasi global yang selama ini dikuasai AS dan para sekutunya.
Menariknya, Gupta berpendapat bahwa rasa cemas yang dirasakan negara-negara Barat saat melihat KTT ini tak cuma memperlihatkan potensi BRICS buat bergerak secara kolektif, tetapi juga cerminan dari situasi internal Barat sendiri yang lagi dipenuhi ketidakpastian.
“Sebagian, hal ini lebih berkaitan dengan kurangnya kepercayaan diri negara-negara Barat sendiri daripada langkah besar dan terkoordinasi yang dilakukan BRICS,” ungkapnya. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
KTT BRICS di India ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul biasa, tapi uji ketahanan circle negara-negara non-Barat saat anggotanya (Iran) lagi panas-panasnya konflik sama AS. Di saat Barat lagi panik dan kurang percaya diri sama dominasi globalnya, BRICS—yang sekarang udah makin ramai termasuk ada Indonesia di dalamnya—lagi nunjukin taji kalau kekuatan ekonomi & politik dunia nggak cuma disetir sama satu blok aja.








