Cut Celah Kebocoran Negara! Kemenkeu Pake INSW Buat Bidik Wajib Pajak Nakal

Penulis: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 11 September 2026 | 10:30 WIB
Cut Celah Kebocoran Negara! Kemenkeu Pake INSW Buat Bidik Wajib Pajak Nakal
Cut Celah Kebocoran Negara! Kemenkeu Pake INSW Buat Bidik Wajib Pajak Nakal (astakom/shintya)

astakom.com, Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) resmi meng-upgrade sistem Indonesia National Single Window (INSW) pada 2026 lewat teknologi artificial intelligence (AI). Penggunaan AI ini dipakai buat memproses dan menganalisis big data di Lembaga National Single Window (LNSW), biar nggak ada lagi celah kebocoran penerimaan negara yang rawan lolos.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, spill kalau LNSW sebenarnya memegang tumpukan data perizinan ekspor-impor dalam jumlah yang sangat banyak. Sayangnya, proses pengolahan data terdahulu masih sering menghadapi struggle atau kendala di masalah integrasi.

"Sebelumnya kan kita sudah punya database di sini yang dikumpulkan di dalam sistem INSW," kata Purbaya dalam keterangan tertulis, dikutip astakom.com pada Kamis (10/09/2026).

Solusi sat-set pembaca pola data

Purbaya menilai cara manual maupun program komputer biasa punya keterbatasan buat baca data transaksi yang belum terintegrasi. Makanya, Kemenkeu langsung gaspol bikin aplikasi berbasis AI biar para analis bisa mendeteksi pola data secara presisi.

"Jadi kita kembangkan di sini aplikasi menggunakan AI juga. Untuk membantu para analis kita melihat potensi pendapatan yang mungkin diperoleh dengan perbaikan sistem," kata Menkeu Purbaya.

Integrasi data di INSW dinilai krusial banget biar pengawasan perdagangan dan penerimaan pajak makin efektif. Purbaya juga mengapresiasi peran strategis sistem LNSW dalam menopang analisis kebijakan. Sistem baru ini diklaim sudah punya akurasi tinggi buat mendeteksi potensi pajak dari awal.

"Jadi segala potensi pajak, potensi juga yang bisa terdeteksi awal di sini. Memang hasilnya memang seperti itu. Jadi akurasi cukup tinggi," ungkap Menkeu.

Fitur tracking back

Nggak cuma itu, Purbaya minta sistem AI ini sanggup menghitung estimasi kewajiban pajak tiap perusahaan secara mendalam, lalu disandingkan langsung dengan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan sampai dokumen pembayaran royalti.

"Untuk betul-betul ke depan setiap perusahaan terdeteksi berapa potensi pembayaran kewajibannya yang kurang," kata Purbaya.

Sistem pintar ini juga punya kemampuan tracking back alias menelusuri rekam jejak aktivitas ekonomi di tahun-tahun sebelumnya. Purbaya menegaskan pihak Kemenkeu bakal makin strict memantau kepatuhan para pelaku usaha lewat data terintegrasi.

Perketat pengawasan keuangan negara

"Jadi ke depan nggak ada yang bisa main-main lagi. Kita akan monitor itu dengan lebih teliti," kata Menkeu Purbaya.

Biar aplikasinya makin relatable dan sesuai sama kebutuhan analisis, Purbaya turun tangan memberikan masukan langsung ke tim pemrogram. Langkah penyatuan AI dan big data ini jadi bukti komitmen tegas Kemenkeu dalam memperketat pengawasan keuangan negara. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Kemenkeu makin gaspol nutup celah kebocoran penerimaan negara lewat INSW yang kini dibekali AI. Teknologi ini bantu membaca big data ekspor-impor, mendeteksi potensi pajak, menghitung kewajiban perusahaan, sampai tracking back transaksi masa lalu. Jadi, potensi pajak yang sebelumnya bisa kelewat kini bisa lebih cepat terdeteksi dan diawasi. Wajib pajak nakal? Bakal makin susah main kucing-kucingan.

kemenkeu INSW menkeu purbaya Lembaga National Single Window (LNSW)

Infografis

Terkini