BRIN Bekali SDM PLTN Perdana: Keperluan Tenaga Ahli Melonjak Saat Komisioning
astakom.com, Jakarta – Indonesia makin serius memetakan kebutuhan human resources alias sumber daya manusia (SDM) secara mendetail untuk menyongsong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) perdana. Proyeksi kebutuhan tenaga ahli ini dirancang secara bertahap diawali sekitar 105 personel pada fase pengembangan, melonjak jadi 470 personel saat konstruksi, dan mencapai puncaknya hingga 870 personel pada fase komisioning, sebelum akhirnya stabil di kisaran 820 personel saat memasuki fase operasi.
Penyusunan peta jalan SDM ini menjadi salah satu fokus utama dalam Simposium Nasional Konsolidasi Pembangunan PLTN. Agenda ini diinisiasi oleh joint committee dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), PT PLN (Persero), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta. Forum tersebut menyatukan kementerian, lembaga, regulator, akademisi, hingga asosiasi profesi untuk memperkuat kesiapan nasional, termasuk menyusun rancangan pengembangan SDM dan asesmen teknologi reaktor.
Modal riset
Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian, menekankan kalau Indonesia sebenarnya sudah punya modal awal yang cukup kokoh dari sisi riset, teknologi, maupun SDM nuklir. Kesiapan ini salah satunya dibuktikan lewat rekam jejak panjang Indonesia dalam mengoperasikan tiga reaktor riset BRIN secara mandiri.
“Fondasi riset dan penguasaan teknologi nuklir yang kita miliki didukung oleh pengalaman pengelolaan tiga reaktor riset BRIN serta keterlibatan para ahli lintas institusi membuktikan bahwa kapasitas SDM Indonesia sudah sangat siap,” tutur Amarulla, dikutip oleh astakom pada Rabu (09/09/2026).
Selama berpuluh-puluh tahun, ketiga reaktor riset tersebut difungsikan sebagai pusat uji coba sains, produksi radioisotop, hingga tempat pelatihan operator. Pengalaman panjang ini menjadi poin krusial dalam membentuk kapabilitas nasional untuk menguasai teknologi nuklir.
Amarulla berpendapat, kehadiran PLTN tidak cuma dipandang sebagai alternatif diversifikasi sumber energi semata. Pemanfaatan energi nuklir diarahkan untuk menjamin pasokan listrik bersih yang stabil, terjangkau, serta berkelanjutan demi menopang industri nasional dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
“Pembangunan PLTN adalah demi kesejahteraan masyarakat dan syarat mutlak Indonesia Maju. Tantangan ke depan adalah bagaimana menyatukan langkah lintas sektoral dan membangun komunikasi publik yang objektif serta transparan,” jelasnya.
Lonjakan SDM
Menyinggung soal skema pengembangan SDM, Amarulla menjelaskan kalau penyiapan tenaga kerja bakal disesuaikan dengan kebutuhan kompetensi spesifik di setiap fase pembangunan. Pendekatan ini sangat dibutuhkan mengingat jenis keahlian yang diperlukan terus bergeser seiring berjalannya proyek.
Pada tahap awal atau fase pengembangan, dibutuhkan sekitar 105 personel yang fokus pada studi kelayakan, perizinan tapak, hingga perancangan dasar. Masuk ke fase konstruksi, angka kebutuhan naik pesat menjadi sekitar 470 personel untuk menangani manajemen proyek, pengawasan mutu, serta pembangunan sipil dan mekanikal.
Titik puncak kebutuhan SDM terjadi pada fase komisioning yang memerlukan sekitar 870 personel. Keterampilan yang dibutuhkan di tahap ini meliputi pengujian sistem, inspeksi keselamatan, hingga uji coba praoperasi.
Ketika PLTN resmi beroperasi, proyek memerlukan sekitar 820 personel dengan keahlian khusus di bidang pengoperasian reaktor, pemeliharaan rutin, manajemen limbah, dan proteksi radiasi. Oleh karena itu, kesiapan SDM ditempatkan sebagai faktor penentu risiko utama (schedule critical path) dalam keseluruhan linimasa pembangunan PLTN.
Peran kampus
Guna menjawab tantangan tersebut, Amarulla menekankan pentingnya membangun kerangka kerja pengembangan SDM nuklir yang terintegrasi (integrated nuclear HRD framework). Penyiapan SDM ini tidak hanya berfokus pada kuantitas, tetapi juga mencakup aspek pendidikan, pelatihan, kualifikasi, serta kompetensi yang presisi sesuai kebutuhan tiap tahapan.
"Perguruan tinggi pun ditempatkan sebagai salah satu pilar penting dalam penyiapan SDM. Program Studi Teknik Nuklir UGM bersama Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), serta dukungan pusat pelatihan seperti PLN Pusdiklat diproyeksikan mengambil peran dalam membangun sistem pendidikan, pelatihan, dan kualifikasi yang terstandarisasi," sambungnya.
Sinergi nasional
Peran perguruan tinggi juga dirancang lebih dari sekadar mencetak lulusan berpengalaman. Kampus bakal diposisikan sebagai pusat kolaborasi untuk meningkatkan pemahaman dan literasi publik agar masyarakat tidak gampang termakan hoaks, melainkan menerima informasi sains secara objektif.
Pada akhirnya, BRIN menilai kalau realisasi PLTN membutuhkan sinergi yang solid antara lembaga riset, kampus, sektor industri, hingga regulator seperti BAPETEN. Kolaborasi ini disiapkan untuk melahirkan peta jalan pengembangan SDM nuklir yang komprehensif sekaligus memastikan Indonesia benar-benar siap memenuhi standar global yang ditetapkan. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Proyek PLTN perdana Indonesia bukan cuma soal energi bersih, tapi juga peluang karier masa depan yang super masif buat anak muda! Kebutuhan tenaga ahli nuklir bakal melonjak drastis hingga 870 orang, membuka kesempatan emas buat lulusan teknik, riset, hingga komunikasi. Jadi, buat kamu yang mau ambil peran di era transisi energi, skill di bidang nuklir dan teknologi bakal jadi nilai plus yang kepake banget!








