BGN Ungkap Penyebab 512 Santri Keracunan MBG, Sanksi Tegas Dilayangkan ke Dapur SPPG

Penulis: Alfian Tegar
Editor: Henni Rachma Sari
Kamis, 3 September 2026 | 17:30 WIB
BGN Ungkap Penyebab 512 Santri Keracunan MBG, Sanksi Tegas Dilayangkan ke Dapur SPPG
Ilustrasi/Pendistribusian Makan Bergizi Gratis (MBG) [Dok. Biro Hukum dan Humas BGN]

astakom.com, Jakarta — Kasus keracunan massal yang menimpa ratusan santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim) usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya terungkap.

Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN) Ketut Sumedana membeberkan biang kerok utama di balik insiden tersebut.

Ketut menegaskan adanya faktor ketidakdisiplinan dan kelalaian terhadap standar operasional prosedur (SOP) saat pendistribusian makanan MBG di lapangan.

"Itu karena ketidakdisiplinan dari pada SPPG dan pendistribusian. Jadi seharusnya itu loading 4 jam selesai dari masak langsung dibagikan. Tapi faktanya di lapangan lebih dari 4 jam," ujar Ketut kepada wartawan, Kamis (03/09/2026).

"Nah itulah yang menyebabkan keracunan, karena MBG ini kan nggak pakai pengawet. Jadi mudah dia basi. Mudah bakterinya cepat berkembang," sambungnya.

Aturan apel kesiagaan MBG

Sejatinya, BGN telah merancang regulasi ketat terkait pengawasan yang wajib berjalan dua kali sehari. Pengawasan tersebut dijadwalkan pada pukul 17.00 WIB ketika pasokan bahan makanan datang, serta pukul 02.00 WIB saat proses memasak dimulai.

"Kita setiap hari, dua kali sehari kita melakukan apel kesiagaan MBG, mulai dari jam 2 malam terus jam 5 sore. Karena waktu-waktu itu waktu krusial pemilihan bahan, kalau jam 5 kan sampai, masak jam 2 pagi," ujarnya.

Sayangnya, implementasi di lapangan justru jauh dari harapan. Banyak oknum petugas, Kepala Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG), hingga pihak sekolah yang dinilai asal-asalan dan menyalahi tenggat waktu penyajian.

"Kenyataannya masih ada di beberapa daerah orang-orang ini, anak-anak kita ini, kepala-kepala SPPG ini, termasuk PIC-PIC, termasuk ada juga sekolah-sekolah yang tidak tepat waktu dalam membagikan MBG melebihi batas waktu yang ditetapkan," imbuhnya.

Data korban tembus 512 orang

Dampak dari pengawasan yang terbilang blunder ini sangat fatal. Berdasarkan hasil investigasi awal BGN, jumlah santri yang terdampak kelalaian ini menembus angka ratusan orang.

"Berdasarkan data yang kami terima dari teman-teman yang sudah melakukan investigasi di lapangan, total yang terpapar atau terdampak sebanyak 512 orang," kata Ketut dalam keterangannya, Rabu (2/9).

Dari total korban tersebut, mayoritas sudah diperbolehkan pulang, sementara sisanya masih dalam penanganan medis intensif dan pemantauan.

"Kemudian yang masih dilakukan perawatan sekitar 80 orang dan sudah keluar dari rumah sakit dan dinyatakan sembuh sebanyak 312 orang, namun demikian kita juga masih melakukan observasi sebanyak 120 orang," tuturnya.

Sanksi bagi dapur SPPG

Merespons tragedi ini, BGN bergerak cepat menggandeng Dinas Kesehatan setempat untuk mengusut tuntas kandungan makanan yang memicu keracunan. Langkah tegas juga langsung dijatuhkan kepada unit penyedia.

"Yang pertama adalah melakukan tindakan investigasi dengan dinas kesehatan terkait dan hasilnya nanti kita akan umumkan apa yang menyebabkan terjadinya keracunan," ujarnya.

"Kemudian kami juga melakukan suspend dengan kategori berat selama 30 hari terhadap SPPG Sidoarjo, Talang Angin," imbuhnya. (aLf/RaM/aNs)

Gen Z Takeaway

Kasus keracunan 512 santri di Sidoarjo jadi alarm serius bahwa program MBG bukan cuma soal distribusi makanan, tapi juga disiplin menjalankan SOP. BGN menyebut makanan dibagikan melewati batas empat jam sehingga berisiko basi, sementara pengawasan di lapangan masih perlu diperketat. SPPG terkait pun disanksi suspend 30 hari sebagai langkah evaluasi dan pencegahan agar keamanan pangan dalam MBG benar-benar jadi prioritas.

MBG Makan Bergizi Gratis BGN Badan Gizi Nasional Keracunan MBG Keracunan Santri

Infografis

Terkini