Menag Hadirkan Rumah Cahaya untuk Muliakan Pahlawan yang Terlupakan
astakom.com, Jakarta – Penggalan doa nan hangat diucapkan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar saat menutup prosesi penyerahan 30 Sertifikat Hak Milik (SHM) Rumah Cahaya. Momen ini diperuntukkan khusus bagi para sosok inspiratif yang pernah bikin bangga Indonesia, namun belakangan kehidupan mereka kurang tersentuh perhatian publik.
"Semoga rumah itu betul-betul memberikan kebahagiaan untuk menyelesaikan hidupnya dengan tenang dan dengan baik" tutur menag dikutip oleh astakom pada Selasa, (1/09/2026).
Acara yang digelar pada Senin (31/8/2026) ini diinisiasi oleh Yayasan Pahlawan Harapan Sejahtera Indonesia Emas (PHSI Foundation) berkolaborasi bareng PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN).
Buat Menag Nasaruddin Umar, momen bertemunya para penerima bantuan dengan para donatur bukan sekadar agenda seremoni formalitas semata. Ia melihat perjumpaan ini sebagai jalan pembuka yang sangat berharga bagi pemerintah, sektor swasta, hingga masyarakat luas buat kembali merangkul warga yang emang butuh support dan uluran tangan.
“Engkau mempertemukan para pahlawan yang banyak terlupakan dengan inisiator dan donatur,” ucap Menag disaat pembacaan doa.
Ada pesan mendalam yang tersirat di balik ucapan itu. Para penerima Rumah Cahaya ini bukan sekadar warga yang dapet bantuan hunian biasa. Mereka adalah figur-figur luar biasa yang pernah mengerahkan segenap tenaga, talenta, bahkan mengorbankan sebagian perjalanan hidupnya demi mengharumkan nama bangsa. Namun sayangnya, di babak kehidupan berikutnya, mereka harus berhadapan sama berbagai keterbatasan yang bikin prihatin.
Makanya, pas sertifikat rumah diserahkan satu per satu, momen itu terasa emosional banget. Yang berpindah tangan bukan cuma lembaran dokumen hukum, melainkan sebuah bentuk respect tinggi dan rasa hormat yang dikembalikan kepada mereka yang udah memberikan kontribusi nyata buat negeri ini.
Bukan belas kasihan
Melalui kolaborasi PHSI Foundation dan BTN, tersedia 30 unit rumah 2 lantai secara gratis yang udah dilengkapi dengan legalitas penuh berupa Sertifikat Hak Milik (SHM). Seluruh hunian ini berlokasi di Serang, Banten.
Beberapa nama besar yang berhak menerima hunian ini di antaranya mantan tinju nasional Ellyas Pical, hingga Rully Rudolf Nere bintang sepak bola legendaris era 1980-an yang dikenal Persipura Jayapura. Tak ketinggalan, jajaran veteran, mantan atlet, serta deretan sosok berjasa lainnya turut hadir menerima apresiasi ini.
Sinergi lintas sektor
Di hadapan para tamu dan penerima, Menag ajak semua pihak agar aksi sosial ini gak cuma berhenti di satu event aja. Faktanya, masih banyak saudara-saudara kita yang butuh uluran tangan, sementara masalah sekompleks ini gak bakal bisa selesai kalau cuma ngandalin peran pemerintah sendirian.
“Lapangkan lah dada kami untuk senantiasa prihatin terhadap nasib-nasib warga kami yang membutuhkan perhatian dan pertolongan,” jelas Menag pada doanya.
Ia turut menyisipkan doa khusus supaya siapapun yang dikaruniai rezeki lebih, hatinya tergerak buat ikut sharing kebaikan dan berbagi bareng sesama anak bangsa. Menurut Menag, kepedulian sosial seperti inilah yang menjadi kunci buat mewujudkan kemerdekaan yang hakiki saat seluruh warga punya kesempatan yang sama buat menjalani hidup secara layak dan bermartabat.
“Sentuhlah hati mereka, mereka-mereka yang mempunyai kelebihan untuk berbagi dengan saudara-saudaranya sebangsa dan setanah air, untuk ikut juga merasakan kemerdekaan sejati dari bangsanya,” sambungnya.
Makna rumah cahaya
Semangat inilah yang emang jadi fondasi utama dari gerakan Rumah Cahaya. Founder & Chairwoman PHSI Foundation, Sofia Koswara, menekankan dari awal kalau program ini sama sekali gak dirancang buat menempatkan penerimanya dalam posisi kasihan.
“Rumah Cahaya lahir dari keyakinan sederhana, kebaikan harus menjadi terang yang terlihat, dirasakan, dan menerangi kehidupan orang lain. Karena itu, kami tidak datang membawa belas kasihan, melainkan penghormatan untuk harkat dan martabat,” tutur Sofia.
Rumah pun akhirnya ditransformasikan menjadi medium nyata buat mewujudkan rasa hormat tersebut. Sebuah tempat tinggal yang sangat layak dengan kepastian hukum yang kokoh lewat sertifikat hak milik.
Senada dengan hal itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan PHSI sekaligus Ketua Satuan Tugas Perumahan, Hashim Djojohadikusumo, menyampaikan kalau penyediaan hunian yang layak merupakan elemen krusial dalam mendongkrak level kesejahteraan warga.
Ia tak membantah masih banyak warga Indonesia yang belum memiliki tempat tinggal yang layak. Mirisnya, di antara mereka ada seorang yang pernah berjuang dan berjasa besar untuk bangsa dan negara, namun dalam alur kehidupannya belum sempat memiliki rumah yang mencukupi.
Di sinilah gerakan Rumah Cahaya menemukan esensi utamanya. Rumah bukan lagi sekadar struktur bangunan fisik semata, tapi sebuah ruang aman untuk menikmati sisa hari dengan perasaan tenang, aman, dan penuh martabat. Hal ini pun menjadi inti utama dari setiap bait doa yang dipanjatkan oleh Menag.
Tak hanya mendoakan kelancaran proses pembangunan hingga penyerahan, Menag turut mendoakan kehidupan para penerimanya agar senantiasa diberkahi setelah menempati rumah baru tersebut. Pihak-pihak yang telah mengulurkan tangan pun tak luput dari doa agar dilimpahi pahala, kemudahan dalam berusaha, serta diangkat derajatnya di dunia maupun akhirat.
Bagi Menag, Rumah Cahaya bukan cuma tentang 30 unit bangunan di Serang. Program ini berhasil menjembatani dua kelompok masyarakat yang mungkin jarang berinteraksi langsung, mereka yang pernah mengabdi untuk negara, dan mereka yang saat ini punya kemampuan untuk berbagi.
Harapan dan masa depan
Menteri Agama menutup doanya dengan rasa syukur yang mendalam karena bisa menyaksikan langsung senyum bahagia terpancar dari wajah para penerima bantuan.
“Sungguh kami bahagia pada hari ini, karena kami bisa menyaksikan sebagian daripada hambaMu tersenyum dengan begitu tulus menerima sentuhan-sentuhan dari saudara-saudaranya yang lain,” ungkap Menag.
Menag juga memohon agar Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan pertolongan, kemampuan, dan ketabahan kepada pemerintah maupun pihak swasta untuk menghadapi berbagai ujian serta tetap tulus mengabdi tanpa pamrih.
"Ya Allah ya Tuhan kami, pada akhirnya kami serahkan diri ini sepenuhnya kepada-Mu. Lindungilah niat luhur kami, berikanlah kemudahan untuk merealisasikannya, karena kami sungguh sangat yakin, di atas segalanya Engkau adalah Tuhan kami Yang Maha Kuasa," tutup Menag.
Di balik kemeriahan penyerahan sertifikat ini, tersimpan perjalanan panjang para pahlawan yang pernah bikin bangga nama Indonesia di kancah nasional maupun dunia. Ada dedikasi yang mungkin sempat tak tersorot lagi, dan kini menjadi tanggung jawab moral generasi muda untuk memastikan jasa besar mereka tidak akan pernah pudar ditelan waktu. (nAD/RaM)
Gen Z Takeaway
Respek banget sama kolaborasi aksi nyata ini! Buat generasi kita, menghargai legenda dan pahlawan bangsa itu gak cukup cuma lewat trending hashtag atau postingan media sosial, tapi butuh langkah konkret kayak ngasih hunian layak bernilai SHM ini. Ini pengingat penting kalau kesejahteraan sosial itu tanggung jawab kita bersama, biar dedikasi para pahlawan gak hilang gitu aja ditelan waktu!









