Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Terbang Perdana, Biaya Listriknya Cuma Rp80 Ribuan
astakom.com, Jakarta - Dunia penerbangan kembali mencatat milestone baru. Pesawat demonstrator bertenaga baterai X1 milik Heart Aerospace sukses melakukan penerbangan perdana di New York, Amerika Serikat.
Melansir Gulf News pada Selasa (25/08/2026), X1 terbang selama 27 menit dari Plattsburgh International Airport. Pesawat tersebut mencapai ketinggian sekitar 335 meter atau 1.100 kaki dengan sistem propulsi listrik berbasis baterai yang menghasilkan daya lebih dari 1 megawatt.
Yang bikin penerbangan ini menarik bukan cuma ukurannya. Gulf News melaporkan penerbangan uji tersebut menggunakan listrik senilai sekitar US$5. Jika dikonversikan dengan kurs sekitar Rp16 ribu per dolar AS, nilainya kira-kira Rp80 ribuan. Namun, angka itu hanya menunjukkan nilai listrik yang dikonsumsi selama penerbangan uji, bukan total biaya operasional pesawat.
X1 bukan pesawat penumpang
X1 merupakan full-scale technology demonstrator, bukan pesawat penumpang yang sudah siap beroperasi secara komersial. Pesawat ini dikembangkan untuk menguji teknologi dan sistem yang nantinya menjadi dasar pengembangan pesawat regional ES-30 milik Heart Aerospace.
Dalam penerbangan perdana tersebut, X1 menjalani pengujian penerbangan dengan sistem propulsi yang sepenuhnya menggunakan baterai. Heart Aerospace menyebut penerbangan ini sebagai langkah untuk membawa teknologi penerbangan listrik ke skala pesawat yang lebih besar.
CEO dan pendiri Heart Aerospace, Anders Forslund, mengatakan penerbangan perdana X1 menunjukkan kemampuan penerbangan listrik pada skala pesawat komersial.
“Dengan penerbangan perdana X1, Heart Aerospace telah mendemonstrasikan penerbangan listrik dalam skala pesawat komersial,” ujar Anders Forslund dalam keterangan Heart Aerospace pada 13 Agustus 2026.
Heart Aerospace merupakan perusahaan pengembang pesawat listrik yang berbasis di Los Angeles, Amerika Serikat, dengan akar perusahaan dari Swedia. X1 menjadi salah satu proyek penting untuk mengembangkan teknologi menuju ES-30.
Spill spesifikasi X1
X1 merupakan pesawat demonstrator bertenaga baterai berukuran penuh yang disebut Heart Aerospace sebagai pesawat battery-electric terbesar yang pernah terbang. Berikut sejumlah spesifikasi dan catatan penerbangan perdananya berdasarkan data resmi Heart Aerospace dan laporan Gulf News:
- Jenis: demonstrator pesawat battery-electric
- Status: pesawat eksperimental, bukan pesawat komersial
- Bentang sayap: sekitar 32,3 meter atau 106 kaki
- Panjang: sekitar 23,2 meter atau 76 kaki
- Bobot lepas landas: lebih dari 11,3 ton atau 25.000 pound
- Sistem propulsi: 100 persen battery-electric
- Motor listrik: 4 unit yang dipasang pada sayap
- Daya propulsi: lebih dari 1 megawatt
- Durasi penerbangan perdana: 27 menit
- Ketinggian maksimum penerbangan perdana: sekitar 335 meter atau 1.100 kaki
- Nilai listrik yang digunakan dalam penerbangan uji: sekitar US$5
Dengan bobot lepas landas lebih dari 11,3 ton dan bentang sayap sekitar 32 meter, X1 menjadi pesawat battery-electric terbesar yang pernah terbang, menurut Heart Aerospace.
Gulf News juga mencatat X1 menggunakan empat motor listrik yang dipasang pada sayap, dengan sistem propulsi listrik yang menghasilkan lebih dari 1 MW. Media tersebut turut mencatat penerbangan perdana berlangsung selama 27 menit dan mencapai ketinggian 335 meter.
Dari X1 menuju ES-30
X1 bukan produk akhir yang akan membawa penumpang. Demonstrator ini digunakan untuk menguji teknologi yang akan diterapkan pada ES-30, pesawat regional hybrid-electric yang dirancang membawa 30 penumpang.
Menurut Gulf News, ES-30 ditargetkan memiliki jangkauan sekitar 200 kilometer dalam mode listrik dan hingga 800 kilometer dalam mode hybrid. Waktu pengisian dayanya ditargetkan sekitar 30 menit. Angka tersebut merupakan target desain ES-30, bukan hasil yang telah dibuktikan oleh X1.
Perbedaan X1 dan ES-30 penting untuk dipahami. X1 yang baru menjalani penerbangan perdana menggunakan sistem propulsi baterai sepenuhnya, sedangkan ES-30 dirancang menggunakan sistem hybrid-electric agar memiliki jangkauan yang lebih jauh.
Karena itu, penerbangan 27 menit X1 belum bisa dianggap sebagai bukti bahwa pesawat listrik komersial sudah mampu melayani penerbangan regional hingga ratusan kilometer. Pengujian X1 justru menjadi bagian dari proses untuk mengumpulkan data penerbangan dan mengembangkan teknologi menuju tahap berikutnya.
Soal biaya, angka US$5 juga perlu dibaca dengan konteks yang tepat. Gulf News menjelaskan bahwa nominal tersebut hanya merupakan nilai listrik yang dikonsumsi dalam penerbangan uji 27 menit. Angka itu tidak mencakup biaya pilot, perawatan, bandara, asuransi, pembiayaan pesawat, maupun biaya terkait baterai.
Dengan begitu, X1 memang menjadi tonggak penting bagi penerbangan listrik karena berhasil membawa pesawat battery-electric dengan bobot lebih dari 11 ton ke udara. Namun, perjalanan menuju pesawat regional komersial masih membutuhkan pengembangan dan pengujian lebih lanjut. (deA/aNs)
Gen Z takeaway
X1 memang bikin dunia aviasi melirik. Pesawat seberat lebih dari 11 ton ini sukses terbang 27 menit dengan tenaga baterai, sementara listrik yang dipakai dalam penerbangan uji nilainya sekitar US$5 atau sekitar Rp80 ribuan. Tapi jangan salah tangkap, angka tersebut cuma nilai listrik yang dikonsumsi saat pengujian, bukan total biaya menerbangkan pesawat. X1 masih menjadi “laboratorium terbang”, sementara target besarnya adalah mengembangkan teknologi menuju ES-30, pesawat regional hybrid-electric 30 penumpang.









